Index Labels

"Nyongke" Yuk!

. . 1 komentar:
Salam sayang...

Salam berjumpa kembali....


Blog ini seperti mati suri selama beberapa bulan. Ini sudah jadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Kadang-kadang ada banyak massa saya kehilangan diri sendiri, tak percaya diri, lalu menghilangkan diri. Hidup memang kadang membingungkan. Saya tersadar pada situasi bahwa apapun yang sedang saya jalani dalam langkah-langkah saya kini, sesungguhnya bukan milik saya sendiri, untuk diri saya sendiri, atau masa depan saya seorang. Saya sedang berbagi diri dalam famili dan berbagai relasi.

Sampai sekali ini, saya tiba-tiba ingin berbagi tentang terusan Songke yang baru saya beli dari Rumah Tenun Baku Peduli. Terusan yang manis yang membuat saya girang bukan main. Lompat-lompat tak karuan saat melihat bayangan saya di cermin. Potongannya pas, meski melar sedikit pada badan saya yang kurus. Tapi terusannya kurang ajar! Saya langsung jatuh cinta bukan kepalang.
Siapa lagi kalau bukan saya. Ini dipotret di Rumah Tenun Baku Peduli, Watu Langkas.
Cantik kan?/Foto: Ney Dinan

Di Makassar dulu, saya sempat merenung ketika sahabat sekaligus kakak bagi saya, Raany Sri Ayu meminta saya membelikan kain Songke apabila berlibur ke Labuan Bajo. Saya pun membelikan dua helai kain Songke dengan motif dan warna yang berbeda dan bisa dibuatkan baju. Sampai di Makassar, kak Raany senang bukan main. Dua kain tersebut dijejalnya di lantai kemudian diabadikannya dengan kamera. Saat itu, saya belum paham, sepenting apa kain ini atau "apa hebatnya?"

Beberapa lama bersama k'Raany, hampir setiap kali bertemu, ia menceritakan beberapa koleksi tenun miliknya yang ia dapat dari berbagai daerah. Ia juga menunjukkan beberapa koleksinya tersebut kepada saya. Sempat bingung, mengapa k'Raany begitu rela menghabiskan banyak uang untuk membeli sehelai kain tenun tradisional? Pelan-pelan, saya paham!

Memiliki tenun dan "menjaganya" sama halnya seperti memiliki Indonesia secara utuh. Mencintai tenun sama seperti mengabadikan sejarah, merawat budaya, dan menjaga martabat adat istiadat. Selain sebagai penutup badan, tenun juga sebagai identitas daerah.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai publikasi, gerakan, dan kampanye untuk melestarikan salah satu komponen budaya Indonesia ini pun digalakkan. Harian Kompas pernah menyiapkan satu rubrik khusus untuk tenun nusantara. Begitu pula beberapa media televisi dan cetak nasional.

Kemudian, dunia fashion pun mulai menambahkan atribut tenun dalam berbagai jenis pakaian seperti gaun, blazer, dan celana panjang. Najwa Sihab selalu memakai pakaian dengan tambahan kain tenun pada beberapa acara yang dibawakannya. Lalu presiden kita Joko Widodo yang beberapa tahun terakhir selama memimpin, mengubah kebiasaan dalam seremoni HUT NKRI, wajib pakai pakaian adat daerah!!! Indonesia makin kelihatan dahsyatnya.
Enak dilihat kan?


Indonesia ini luar biasa. Hampir semua daerah punya cita rasa dan ciri khas seninya masing-masing. Motif-motif setiap daerah selalu berbeda. Saya kadang sakit kepala memikirkan; dulu, gimana ceritanya para nenek moyang mendapat ide untuk motif lalu diterapkan melalui benang-benang? Lalu, kenapa bisa antar daerah berbeda? Padahal jarak keduanya pun tak seberapa?

Bukankah nenek moyang kita luar biasa? Kaya kreativitas, kaya intelektual, kaya seni juga, hehe.

Nah sekarang, kain Songke Manggarai pun sudah mulai dikenal. Tampaknya bukan cuma saya seorang yang mencak-mencak saat melihat finalis Indonesian Idol bersama rapper andalan, Saykoji memakai busana etnik Songke Manggarai pada salah satu penampilan mereka di televisi. Waktu itu saya mau tinju televisi gara-gara gemes sendiri.
Nah, ini fotonya. Siapa yang juga ikut gemes?


Hmmm...

Dari sekarang, kebiasaan "Nyongke" tampaknya tak hanya dilakukan orang tua. Yang muda juga cantik dan cakep kalau pakai Songke. Kreatif saja mau dibuat bagaimana. Dibuat menjadi gaun, blazer, dan celana pun bisa. Yang penting pintar-pintar memilih kain yang cocok dan penjahit yang tepat. Belinya yang asli, jangan yang cetakan yang penting motifnya mirip. Kalau yang begitu, dimana kerennya, coba? hehe

Seorang ibu yang berkunjung ke Rumah Tenun Baku Peduli beberapa waktu lalu bilang ke dua penenun di sana; "Bu, ajar anak-anaknya juga, yah! Biar penenun 'gak punah!"

Ajakan yang baik.

Dari kita;
"Biasakan pakai Songke dan beli yang asli yah guys, biar penenun 'gak punah!

Sudah dulu e! Yang ringan saja dulu! Yang berat, nanti!

Vera sayang kalian. 👄👄👄👄👄

1 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan