Index Labels

(Cerpen) Sembuh

. . Tidak ada komentar:
November menyeruakkan bau-bau hujan dan tanah yang basah. Seperti tergelitik pada habisnya Desember, Semesta memperbaharui segalanya lebih awal di penghujung tahun. Tidak kusangka, sembuhku seiring alam memperbaharuinya dengan serta-merta. Terperanjatnya luar biasa.


Ilustrasi



Pada awal Maret, Jakarta tampak seperti di layar televisi. Sebuah kota metropolitan yang padat dan sibuk. Aku mengintip gedung-gedung tinggi pencakar langit dari balik jendela bus Trans Jakarta. Seorang remaja perempuan duduk di sampingku, khusyuk pada telepon genggamnya. Ia tak menghiraukan aku yang di sampingnya tampak terpesona menginjakkan kaki di Ibu Kota Indonesia. Ini pertama kali, mendebarkan sekali.

Langkah yang bukan tanpa arah tujuan, pikirku. Bukan juga sekedar jalan-jalan. Dua angan besar yang sedang kukepal seperti sebentar lagi bakal jadi milikku. Bisa kukantongi sampai mati dan sudah kudambakan jauh-jauh hari. Jakarta seolah menjemputku mengejar sang cita-cita besar. Kemudian membawaku padanya; sang kekasih, pujaan hati.

Laju bus Trans Jakarta yang kutumpangi seperti tersendat saat kami tiba di pusat kota. Papan hijau bertuliskan stasiun Grogol dan Harmoni terlihat dari kaca bus di depan pengemudi. Kendaraan tampak padat melaju di depan bus. Aku mengamati sang pengemudi yang menggenggam setir sembari mengumpat kecil sesekali.  Ia berbicara mengeluhkan mobil sedan dan sepeda motor yang menutup jalurnya. Seorang pengendara sepeda motor yang tiba-tiba datang dari arah kiri tampak membuat sang pengemudi kian kesal. Aku mendengarnya mengumpat kecil sebelum memutar setirnya ke arah belokan khusus untuk memasuki tempat pemberhentian bus.

“Sampai!” ucap sepupuku, Leli, sembari menepuk pelan paha kananku. Bus kami berhenti. Kami bergegas keluar mengikuti penumpang lain. Saat masuk ke lorong yang membawa kami ke tepi jalan raya, Leli memulai narasi pandunya.

“Monas masih jauh, kakak. Setelah ini kita cari angkutan kota dulu. Kalau tidak dapat angkutan kota, kita coba pakai taksi online,” ia berucap demikian sambil memegang tanganku untuk menyebrang jalan.

Kami melewati kolong jembatan yang dipadati pedagang kaki lima, becak, dan pengojek. Aku memindahkan langkah dengan segera sambil mengamati situasi di sekitarku. Kepadatannya mempesona namun membuatku berhati-hati. Pencopet pasti ada dimana-mana, pikirku sambil memeriksa kembali dompetku di saku celana bagian kiri.

“Saya pikir busnya akan sampai ke Monas,” kataku kemudian. Leli menanggapinya dengan menggeleng  tanpa bersuara. Ia sibuk mengamati terminal angkutan kota. Tampak mencari-cari angkutan kota yang bisa membawa kami ke sana. Tepat saat itu, satu pesan masuk membunyikan telepon genggamku.

    Jam berapa ke Monas? Kami menyusul

Sejak tadi, aku mendambakan pesan ini masuk dan mengusik telepon genggam dan hatiku yang tak karuan. Monas kutemukan bersamanya. Dua hal yang sekaligus ingin kudapat. Dua hal yang kulihat dalam jarak yang tepat. 

Membangun hubungan dengan Sam sudah kubentuk sejak bertahun-tahun lalu. Jatuh cinta padanya seperti membangun rumah. Kubentuk dari fondasi yang kuat lalu tiang-tiang penopang dinding. Saat atapnya sudah terpasang, rasanya sudah siap kuhuni sampai mati. Yah, kuibaratkan Sam sebagai rumah. Tempat istirahat terhebat dan kurasa aku tak salah memilih dan menduga.

     Otw, Sam! Mungkin setengah jam lagi sampai.

Pesan ini kuketik dengan cepat. Leli menuntunku ke angkutan yang membawa kami ke Monas. Pikiranku membawaku pada Sam berbaju putih abu-abu. Dulu, ia selalu berada di luar kelas sambil mengenakan topi. Setiap kali bertemu, gigi putihnya yang rapih tampak dalam senyumnya yang  mengembang di hadapanku. Ia punya kebiasaan menahan bibirnya sebelum tersenyum lebar. Aku menyukai perpaduan bentuk alis dan hidungnya. Sam begitu mengesankan.

Bangunan Monas yang menjulang tinggi kian dekat. Aku dan Leli menyeruak masuk ke kawasan ini dengan langkah yang ringan. Pikiranku kacau dan risau. Mataku tak betah pada satu arah. Mencari-cari sosok Sam di antara kerumunan menjadi fokusku setelah mengamati Monas sejenak.

“Temannya dimana, kakak?”

Aku tak memberitahu pada Leli bahwa yang akan kutemui ini adalah cinta pertamaku. Kusebut saja bahwa Sam adalah kawan lama saat masih di sekolah menengah atas. Ia kemudian ikut-ikutan mencari-cari di antara kerumunan. Pandangannya terfokus di kejauhan. Tak juga ketemu.

Mataku kemudian merambat pada kerumunan di sisi-sisi taman. Ada segerombolan remaja berbaju olahraga tengah berbincang. Suara tawa mereka riuh dan mendominasi. Dari situ, aku menemukan punggung yang begitu kukenal. Duduk membelakangiku di antara kerumunan. Punggung itu tak sendiri. Kepala lain dengan rambut panjang yang menjuntai bersandar nyaman pada pundak kanannya. Serentak, tulang-belulangku seperti lenyap.

***


Ilustrasi


Pada pertengahan Juni.

“Reza! Rez!”
“Hmmm..”
“Bangun!”
“Akh!”

Cuaca di luar panas. Aku kesal setiap kali Mama membangunkanku dengan paksa. Lama sekali aku tak menikmati tidur malamku dan mengumpat pada pagi hari. Insomnia akut dan nafsu makanku hilang.

Di kota kecilku, aku mengubur kenangan tentang Monas dan menendang seluruh bangunan angan yang kubentuk bertahun-tahun. Aku benci membayangi betapa menabjukkannya patung api emas di puncak Monas. Lalu punggung dan rambut menjuntai sialan itu, sukses membuat rasa patah hatiku semakin perih. Kemudian bayangan tentang masa depan membuat malamku tak pernah bagus. Aku mengumpat pada diriku yang tak pernah berpikir tentang cadangan. Akh, aku kesal.

Tak ada yang berhasil kugenggam dari ibu kota. Rupanya, tangga-tangga sial yang kususun dan kurawat dengan hati-hati tak begitu jeli kubangun. Tiba di tangga terakhir, aku mendapati diri ternyata telah salah membangun fondasinya. Material dan campurannya salah besar. Mestinya tak seperti selama ini dan akhirnya aku sampai ke tempat lain yang tidak kuketahui. Oh, rupanya begitu besar yang kudambakan, begitu tinggi yang kuinginkan, hingga saat aku terjerembab tanpanya, sakitnya luar biasa.

Setiap malam aku bermimpi buruk tentang lorong kosong yang kutapaki dengan mata buta. Kedua tanganku menggapai  udara hampa tanpa pegangan dan aku benci saat berniat memanggil Mama untuk membantuku berjalan. Lorong kosong tersebut seperti tak berujung dan yang kudapati adalah terjaga dengan perasaan murka. Aku mendapati diri begitu lusuh, kering, tak bersemangat.

Dan...

“Sam, biadap!” umpatku dalam hati nyaris seribu kali, hampir setiap pagi. Tadinya, kupikir akan mencapai puncak Monas sembari memegang tangan Sam.

“Ini Kartika!” saat mengucapkan itu, Sam tampak sudah siap. Aku hanya membatu, mau menangis pun, malu.

Rupanya Sam lemah. Dugaanku tentangnya begitu tinggi dan agung. Sam tak menghormati rasa sabar untuk seribu hari lebih yang telah kami jaga bersama. Ia hanya diam menunduk menanggapi amukku. Aku akan hilang, setelah ini.

“Oh, rupanya kau dikalahkan jarak!!! Kau tak mempertimbangkan hubungan kasat mata yang kuat ini? Kau tak merasakan betapa dekatnya kita dalam jarak pemisah ini???” Aku menyesal.

Sam memilih pergi dan mengubur keyakinannya tentang aku dan kami. Sam melepasku terlantar hilang dan kami pun tersesat. Dia begitu menikmati fase baru hidupnya. Menikmati sesuatu yang berbeda dariku. Sam membungkam rasa cinta yang sebelumnya sudah terpelihara dengan baik dan membiarkan itu menjadi angin lalu. Dan aku membawa bangkai kenangan sial itu dengan penuh tanda tanya, putus asa, dan perasaan terbuang. Sam lupa, sebelumnya ia sudah berhasil membangun rumah yang begitu nyaman untuknya.

Dan aku ogah bermimpi tentang ibu kota lagi.

“Kau tak berguna!”
“Kau, sampah!”
“Mati saja, kau!!!"

 ***

Dua tahun berlalu...

Senja bulan November di kota kecilku dibentuk oleh partikel-partikel awan yang disirami cahaya matahari berwarna jingga. Dari atas bukit, pandangan akan digiring pada hamparan laut yang dihiasi pulau-pulau kecil. Jelang malam, dari kejauhan warna laut terlihat seperti lumpur abu-abu, meriak teratur dan tak berbahaya.

Di salah satu bukitnya yang gundul, tangan Sam pernah menarik tanganku mencapai puncak bukit. Mata kami mengarah seragam pada matahari yang menguning ramah. Kaki kami bergerak pada rumput-rumput yang mengering. Seperti menggelitik kulit kaki, namun sentuhan rumput tersebut terasa nyaman. Di puncak bukit itu, kami membahas cara menaklukkan Monas. Aku berangan akan tinggal selamanya di sekitar Monas. Bersama Sam, tentu saja.

  “Cita-cita anak kecil!” gumamku lalu tertawa keras. Riko tampak terperanjat saat aku tiba-tiba tertawa.

  “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya masih dengan ekspresi wajah terkejut.

Kubalas tatapan Riko sejenak lalu meraih pinggangnya dengan tangan kanan. Aku suka merangkulnya seperti itu, lalu menyandarkan kepalaku ke salah satu rusuknya tepat di bawah ketiak.

  “Tidak ada. Hanya kenangan lucu,” jawabku. Kami kemudian sama-sama terdiam.

Aku tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Riko. Belum banyak waktu yang kuhabiskan dengan pria ini. Kami belum begitu saling mengenal. Semesta mempertemukan kami dengan tiba-tiba. Kami sama-sama belum banyak tahu apa dia sebelum aku dan apa aku sebelum dengannya.

  “Butuh waktu untuk kembali berani memulai!” tiba-tiba aku ingin berkata begitu. Riko sejenak melihat wajahku kemudian diam untuk mendengar lebih lanjut.

  “Memilih sembuh tidak harus menunggu alam yang melakukannya, bukan? Kita perlu bertekad untuk sembuh.” Riko masih diam untuk mendengar.

“Sekarang aku menemukan pilihan untuk terbangun dari mimpi yang panjang. Semesta memberi kita tambahan umur agar kita perlu membangun sesuatu yang baru sebagai pengganti yang telah rusak,” renungku.

“Ada banyak kegagalan besar di masa lalu, sayang. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menyesalinya dan menutup mata. Kegagalan yang mempengaruhi psikis kemudian berimbas pada cara pandang, cara bersikap, caraku membentuk sesuatu, dan bahkan caraku berhubungan denganmu.”

Riko membuka kedua tangannya lalu membalas rangkulanku. Ia kemudian menempel bibirnya ke ubun-ubunku. Nyaman sekali.

  “Hmmmm, kau mau jadi apa?” ia bertanya sembari mempererat pelukan.

Aku menahan jawabanku karena benar-benar ingin merasakan pelukannya. Perasaan nyaman yang membuat mataku terpejam.

  “Hmm?” tuntutnya.

  “Jadi petualang saja!” jawabku lalu mendongak untuk melihat wajahnya. Ia mengerutkan dahi pertanda belum paham.

  “Iya petualang! Bertualang pada segala hal. Menjelajah semesta, teman, pekerjaan, dan urusan hubungan percintaan,” tegasku.

  “Kenapa begitu?”

  “Yah suka saja. Seorang petualang kan tidak pernah berhenti! Nalurinya akan terus mencari sampai ke ujung dunia, sampai mati! Tipe-tipe petualang tidak akan kalah pada tantangan. Mereka selalu tangguh!”

  “Oh baiklah! Terserah kau saja!” Riko menanggapi sembari merangkul pundakku kembali. Kami lalu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku membalas rangkulannya dan dengan pikiran kosong memandang laut di kejauhan.

  “Di masa mendatang, aku harus sembuh berkali-kali dan tak boleh berhenti mencari-cari!” tekadku dalam hati. 

*** TAMAT ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan