Index Labels

Ooooh Ngada

. . Tidak ada komentar:
Kampung Adat Bena, Kabupaten Ngada, Flores-NTT
Pada perjalanan pergi, kami mampir untuk makan siang di Aimere saat masuk di Kabupaten Ngada. Dulunya, saya pikir Aimere dekat Maumere karena namanya mirip, hehehe. Ternyata, di sebelah Manggarai Timur saja. 

Kabupaten Ngada adalah kabupaten yang kami masuki setelah Manggarai Timur. Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Bajawa. Kota Bajawa juga termasuk daerah penghasil kopi unggul yang nikmat dan menjadi dambaan pencinta kopi.

Sebelum memasuki area kota Bajawa, saya dan Erik mencari-cari tikungan Kajuala yang konon katanya terkenal angker dan berbahaya. Kami ternyata sedang melalui tikungan tersebut saat berbincang dan mencari tikungan tersebut. Pas sudah lewat, malah tertawa ngakak karena sadar baru saja tinggalkan Kajuala. Tikungannya memang banyak, beruntun, dan tajam. Tapi selama hati-hati dan diiringi doa, pasti semuanya akan baik-baik saja. 

Di Kabupaten Ngada, saya dan Erik langsung mencari salah satu objek wisata, Kampung Adat Bena. Ini tempat wisata pertama kami pada Jelajah Flores kali ini. 

Sepanjang perjalanan menuju Kampung Adat Bena, sepeda motor Erik bergerak mendekati gunung Inerie. Gunung ini adalah gunung berapi yang letaknya di Kabupaten Ngada. Gunung vulkan pertama yang saya lihat secara langsung dan dekat, dan gunung vulkan pertama yang buat saya bergidik dan lagi-lagi berdecak kagum pada kebesaran Pencipta. 

Semakin dekat pada Kampung Adat Bena, saya dan Erik semakin dekat dengan kaki Inerie. Jejak lintasan laharnya terlihat dari jalan raya. Saya tak berhenti mendongak dan memperhatikan puncaknya yang dahsyat. Tentu saja otak saya mulai berimajinasi membayangkan saat gunung ini meletus dan memuntahkan laharnya dari perut bumi. Iiiiiih....

Nah, Kampung Adat Bena letaknya pas di kaki Gunung Inerie. Meski sudah tengah hari, suhu udara di sekitar daerah ini terasa sejuk. Pohon-pohon yang rimbun tumbuh dengan subur di sekitarnya.

Karcis masuk untuk wisatawan lokal yang masuk ke Kampung Adat Bena adalah sebanyak Rp 20.000,-. Saat keluar dari ruang karcis, seorang petugas berbaju adat daerah Ngada memakaikan seuntai selendang berwarna ungu kepada kami. Selendang tenunan penduduk Kampung Adat Bena ini akan kami pakai selama berwisata di dalam Kampung Adat Bena dan bakal dikembalikan saat pulang. Jangan dibawa kabur yah! hehe.

Background Kampung Adat Bena, Kabupaten Ngada, Flores-NTT
Di dalam wilayah Kampung Adat Bena terdapat puluhan rumah adat khas Ngada yang tersusun berhadapan. Di tengahnya terdapat halaman luas. Rumah adat ini terbuat dari kayu dengan atap ijuk. 

Kampung adat ini masih dihuni sejumlah penduduk asli. Beberapa perempuan dan laki-laki dewasa terlihat menenun di teras rumah adat. Ada juga yang memintal benang sembari meladeni pengunjung yang hendak memotret dan berbincang. 

Nah, kalau Ngada, bukan hanya Kampung Adat Bena yang menjadi aset wisatanya. Ada juga taman bawah laut di Riung dan pemandian air panas Soa. 

Gilaaaa.... saya ketagihan berendam di pemandian air panas Soa. Kami baru mengetahui tempat ini saat pulang pada penjelajahan ini. Saya menahan diri tidak berteriak saat melihat air panas mengalir deras di kawasan ini. Kayak sungai biasa tapi airnya panas, di daerah dingin pula. "Nikmat Tuhan apalagi yang kau dustakan?"

Saya dan Erik langsung cebur tepat di kolam yang mata airnya bisa dilihat langsung. Mata airnya besar dan seperti mendidih keluar dari lubang di dasar kolam. Serius, suhu airnya lumayan panas sama seperti air mendidih yang baru setengah jam dikeluarkan dari panci. Tapi segaaaaaaaar. Nikmaaaaaat....

Dalam waktu yang tidak cukup lama lagi, saya mau kembali ke pemandian air panas ini lagi. Mau berendam dan berenang malam-malam.


Di Pemandian Air Panas Soa

Labuan Bajo, 4 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan