Index Labels

Maumere of Flores

. . Tidak ada komentar:
Berpose di Lokasi wisata rohani Patung Bunda Maria Segala Bangsa 

Jika untuk mengetahui nikmatnya berciuman denganmu adalah dengan cara mendatangimu (bukan sekedar membayangi), itulah yang saya lakukan hingga tau ternyata Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka. Sebelumnya, saya bingung jika melihat Peta Flores dan menemukan tulisan Sikka dan Maumere, saya tak tau bahwa keduanya adalah satu kesatuan. Baru setelah mendatanginya, saya pun tau. Oooh ternyata... Nikmatnya...

Saya dan Erik sampai di pusat Kota Maumere saat tengah hari. Sejujurnya, dari seluruh jalan penghubung antar kabupaten di Pulau Flores, jalur Kabupaten Ende dan Kabupaten Maumere-lah yang paling ekstrim. Saya dan Erik membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari Moni-Ende ke Kota Maumere. Kami melewati tikungan tajam, jalan menurun, dan melintas di tengah hutan dengan pepohonan lebat.

Kota Maumere termasuk kota yang jauh lebih maju dari ibu kota lain di Pulau Flores. Namun, saya lebih kagum pada bangunan gereja dan biara yang sering kami temukan di "Pengantar Sikka". Jika Lipooz menyebut Ruteng adalah kota 1000 gereja, maka saya pun menyebut Maumere sebagai kota 10.000 gereja. Gerejanya lebih banyak.

Pembangunan di kabupaten ini pun bisa dibilang sudah lebih dari lumayan. Jalanan utama di pusat kota luas dengan kendaraan yang agak padat. Saat pergi, kami hanya mampir untuk makan rujak di Jalan Ahmad Yani sebelum melanjutkan perjalanan ke Larantuka.

Kami baru menjelajah Kabupaten Sikka esoknya. Malamnya (setelah dari Larantuka) Kami menginap di Kota Maumere di rumah Kak' Ina. Beruntung sekali saat itu. Ketika bingung mencari tempat menginap karena kerabat saya ternyata sedang di Jakarta, Kak' Ina yang mengetahui keberadaan kami lewat facebook pun menawari kami singgah. Kak' Ina tadinya adalah tetangga saya di Labuan Bajo. Namun, karena sudah dipersunting pria asal Maumere, ia pun menetap di sana. Kami juga disambut dengan ramah oleh suami dan kedua mertuanya. Terimakasih banyaaaaaak.

Satu malam saja menginap di Maumere, besok paginya kami bergegas ingin menjelajah kabupaten ini. Karena sesuai rute pulang (Maumere-Ende), tempat pertama yang saya dan Erik datangi adalah Kampung Nilo. Di kampung ini terdapat Patung Bunda Maria raksasa yang dinamakan patung Bunda Segala Bangsa.

Patung berwarna putih ini bertakhta di puncak bukit. Untungnya, jalan raya sudah dibangun sampai ke puncaknya. Jadi saya dan Erik pun tak begitu kesulitan untuk menjangkau tempat ini meskipun harus melewati jalan yang menanjak.

Kamar Paus Yohanes Paulus ke dua di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere
Selain keistimewaan patung dan pemandangan sebagian kota Maumere, puncak ini juga tenang dan sejuk. Tempat yang tepat untuk berdoa khusyuk. Setelah memotret dan merekam video, saya lalu duduk di salah satu kursi panjangnya yang menghadap pada patung sang Bunda. Saya pun berdoa dengan serius. Tumben, hehe.
Dari Kampung Nilo, kami kemudian singgah di Kamar mendiang Paus Yohanes Paulus ke II di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Kami diterima Suster Giovani yang berperan sebagai pemandu pada kunjungan kami.

Tadinya saya berharap akan bertemu para frater tampan di tempat ini. Namun, hikz, para frater sedang libur. "Harapan jahat" yang tidak terkabul.

Kamar Paus Yohanes Paulus ke II terletak di dalam wilayah Ritapiret. Kamar tersebut dulunya dipakai mendiang Paus saat berkunjung ke Maumere pada 11-12 Oktober 1989 silam. Kini, kamar tersebut tidak diubah kecuali beberapa bagiannya yang rusak.

Kamar ini terdiri dari beberapa ruangan. Ruangan tengah yang juga terhubung dengan pintu masuk diisi dengan kursi, meja, dan sebuah almari yang di permukaannya terdapat buku pengunjung dan peti kolekte. Lalu ada juga kamar lain yang lebih kecil.

Tempat yang dulunya adalah ruang mendiang Paus tidur adalah ruangan yang lebih besar dari bilik lain di kamar tersebut. Saya agak gugup saat masuk ke ruangan ini. Takut ceroboh dan merusak sesuatu. Pokoknya saat masuk ke ruangan ini, saya mendadak jadi gadis yang hati-hati dan kurang bergerak (kecuali memindahkan kaki untuk melangkah). Erik pun saya awasi karena khawatir tasnya akan menyenggol apapun.

Di dalam ruangan itu, terdapat tempat tidur ukuran besar yang dibalut seprei berwarna biru muda. Dinding di belakang tempat tidur Paus,dipasangi foto setengah badan mendiang Paus yang terlihat sedang tidur (dipotret dari samping). Dari Suster Giovani saya mengetahui foto itu adalah foto mendiang Paus setelah meninggal sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain tempat tidur juga terdapat meja ukuran sedang beserta kursinya. Di sisi lain terdapat meja yang lebih tinggi dengan beberapa foto yang dipajang di dinding atasnya. Dinding kamar ini dicat berwarna putih senada dengan warna tempat tidur, kursi, meja, dan karpetnya yang berbulu lembut. Tentram sekali di dalam sana.

Saat Suster Giovani mempersilakan kami untuk berdoa di dalamnya, saya langsung mengatupkan tangan, menundukkan kepala, dan tanda salib. Kapan lagi bisa masuk ke kamar Paus lalu "bermanja-manja" padanya. Meminta dan memohon perantaranya atas segala harapan dan cita-cita. Semoga terkabul, amin.

Erik
Untuk Kabupaten Sikka, tempat terakhir yang saya dan Erik datangi adalah Gereja Tua peninggalan Portugis yang terletak di Kampung Sikka. Kampung pesisir pantai ini istimewa. Biasanya, yang saya tau, kebanyakan nelayan adalah kaum Muslim, seperti di Labuan Bajo atau Makassar. Namun berbeda untuk wilayah ini, di pemukiman nelayan, rata-rata warganya umat Kristiani. Saya heran-heran senang saat melihat ada makam dengan kayu salib dan di dekatnya ada pukat. Pemandangan ini tidak biasa buat saya dan Erik.

Ngomong-ngomong, sebelum menemukan Gereja Tua Sikka, saya dan Erik sempat kesasar dan nyaris masuk di gereja yang "salah". Untung ada bocah yang memberitahu kami. Jadi kami harus melanjutkan perjalanan dengan melintasi jalan raya di tepi pantai. Seperti biasa, kalau mendapati jalan di pesisir pantai, saya tak akan melepaskan pandangan dari laut dan bebatuan yang terkena ombak. Cantik sekali.

Lalu tiba di Gereja Tua Sikka, kami hanya mampir sebentar untuk melihat-lihat dan memotret. Gereja ini dulunya diresmikan pada 24 Desember 1899. Sudah 182 tahun, ya ampuuun. Meski catnya terlihat masih cerah, bangunan gereja ini memang terlihat sudah tua dan khas. Bayangkan, dindingnya masih terbuat dari kayu. Saya bahkan mengetuk dindingnya dengan jari untuk memastikan. Jadi takjub, begitu.

Nah, ini objek terakhir pada penjelajahan kami di Kabupaten Sikka. Bagi umat Kristiani, kabupaten ini adalah tempat yang pas untuk wisata rohani. Jika sedang gundah, galau, bingung pada persoalan hidup dan hati, sempatkan untuk berkunjung ke wilayah ini. Melintas saja, sudah buat hati damai dan tenteram karena menemukan gereja dan patung Keluarga Kudus dimana-mana, apalagi jika bergegas singgah lalu berdoa, mudah-mudahan dapat solusi dan inspirasi.
 
Sampai jumpa di cerita Larantuka.
Paku, 13 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan