Index Labels

Kekayaan Wisata Rohani di Maumere of Flores

. . Tidak ada komentar:
Erik Neta berpose di bawah Patung Bunda Segala Bangsa di Kampung Nilo, Kabupaten Sikka
Pada pertengahan tahun 2017 lalu, saya yang sejak lahir hidup di Manggarai, untuk pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Sikka. Saat itu, saya dan sepupu saya bernama Erik Neta sedang dalam misi jelajah Flores. Kami hanya menggunakan sepeda motor berboncengan dari Kota Ruteng sampai ke Larantuka. Ini perjalanan paling keren yang pernah saya lakukan. 

Berkendara dari Kabupaten Ende pada pagi hari, saya dan Erik sampai di pusat Kota Maumere saat tengah hari. Sejujurnya, dari seluruh jalan penghubung antar kabupaten di Pulau Flores, jalur Kabupaten Ende dan Kabupaten Maumere-lah yang paling ekstrem. Saya dan Erik membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dari Moni-Ende ke Kota Maumere. Kami melewati tikungan tajam, jalan menurun, dan melintas di tengah hutan dengan pepohonan lebat. Meski begitu, kami menikmati perjalanan kami sembari bercerita banyak hal selama dalam perjalanan.

Kota Maumere termasuk kota yang jauh lebih maju dari ibu kota lain di Pulau Flores. Namun, saya lebih kagum pada bangunan gereja dan biara yang sering kami temukan di "Pengantar Sikka". Jika Lipooz menyebut Ruteng adalah kota 1000 gereja, maka saya pun menyebut Maumere sebagai kota 10.000 gereja. Gerejanya lebih banyak.

Pembangunan di kabupaten ini pun bisa dibilang sudah lebih dari lumayan. Jalanan utama di pusat kota dibuat luas dengan kendaraan yang agak padat. Saat pergi, kami hanya mampir untuk makan rujak di Jalan Ahmad Yani sebelum melanjutkan perjalanan ke Larantuka.

Kami baru menjelajah Kabupaten Sikka esoknya. Malamnya (setelah dari Larantuka) kami menginap di Kota Maumere di rumah seorang kerabat bernama Ina. Beruntung sekali saat itu. Ketika bingung mencari tempat menginap karena kerabat saya ternyata sedang di Jakarta, Ina yang mengetahui keberadaan kami lewat facebook pun menawari kami untuk singgah. Ina tadinya adalah tetangga saya di Labuan Bajo. Namun, karena sudah dipersunting pria asal Maumere, ia pun menetap di sana. Kami juga disambut dengan ramah oleh suami dan kedua mertuanya. Terimakasih banyaaaaaak!

Satu malam saja menginap di Maumere, besok paginya kami bergegas ingin menjelajah kabupaten ini. Karena sesuai rute pulang (Maumere-Ende), tempat pertama yang saya dan Erik datangi adalah Kampung Nilo. Di kampung ini terdapat Patung Bunda Maria raksasa yang dinamakan patung Bunda Segala Bangsa. Tempat tersebut biasa dijadikan tempat berdoa bagi umat Katolik di Kabupaten Sikka dan juga sebagai salah satu tujuan wisata bagi para pelancong.

Patung berwarna putih ini bertakhta di puncak bukit. Untungnya, jalan raya yang mulus sudah dibangun sampai ke puncaknya. Jadi saya dan Erik pun tak begitu kesulitan untuk menjangkau tempat ini meskipun harus melewati jalan yang menanjak.

Selain keistimewaan patung dan pemandangan sebagian kota Maumere, puncak ini juga tenang dan sejuk. Tempat yang tepat untuk berdoa khusyuk. Setelah memotret dan merekam video, saya lalu duduk di salah satu kursi panjangnya yang menghadap pada patung sang Bunda. Saya pun berdoa dengan serius. Tumben, hehe!

Dari Kampung Nilo, kami kemudian singgah di kamar mendiang Paus Yohanes Paulus ke II di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Kami diterima Suster Giovani yang berperan sebagai pemandu pada kunjungan kami. Ia bercerita tentang kunjungan paus pada beberapa tahun silam dan kisah lain tentang Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

Kamar Paus Yohanes Paulus ke II terletak di dalam wilayah Ritapiret. Kamar tersebut dulunya dipakai mendiang Paus saat berkunjung ke Maumere pada 11-12 Oktober 1989. Meski kunjungan itu telah lama, kamar ini tidak diubah sama sekali. Pihak Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret hanya memperbaiki apabila ada beberapa bagiannya yang rusak.

Kamar Paus Yohanes Paulus ke dua di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere
Kamar ini terdiri dari beberapa ruangan. Ruangan tengah yang juga terhubung dengan pintu masuk diisi dengan kursi, meja, dan sebuah almari yang di permukaannya terdapat buku pengunjung dan peti kolekte. Lalu ada juga kamar lain yang lebih kecil.

Tempat yang dulunya adalah ruang mendiang paus tidur adalah ruangan yang lebih besar dari bilik lain di kamar tersebut. Saya agak gugup saat masuk ke ruangan ini. Takut ceroboh dan merusak sesuatu. Pokoknya saat masuk ke ruangan ini, saya mendadak jadi gadis yang hati-hati dan kurang bergerak (kecuali memindahkan kaki untuk melangkah). Erik pun saya awasi karena khawatir tasnya akan menyenggol apapun.

Di dalam ruangan itu, terdapat tempat tidur ukuran besar yang dibalut seprei berwarna biru muda. Dinding di belakang tempat tidur paus,dipasangi foto setengah badan mendiang paus yang terlihat sedang tidur (dipotret dari samping). Dari Suster Giovani saya mengetahui foto itu adalah foto mendiang paus setelah meninggal sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.
Kamar Paus dipotret dari samping.
Selain tempat tidur juga terdapat meja ukuran sedang beserta kursinya. Di sisi lain terdapat meja yang lebih tinggi dengan beberapa foto yang dipajang di dinding atasnya. Dinding kamar ini dicat berwarna putih senada dengan warna tempat tidur, kursi, meja, dan karpetnya yang berbulu lembut. Tentram sekali di dalam sana.

Saat Suster Giovani mempersilakan kami untuk berdoa di dalamnya, saya langsung mengatupkan tangan, menundukkan kepala, dan tanda salib. Kapan lagi bisa masuk ke kamar paus lalu "bermanja-manja" padanya. Meminta dan memohon perantaranya atas segala harapan dan cita-cita. Semoga terkabul, amin!

Untuk Kabupaten Sikka, tempat terakhir yang saya dan Erik datangi adalah gereja tua peninggalan Portugis yang terletak di Kampung Sikka. Kampung pesisir pantai ini istimewa. Biasanya, yang saya tau, kebanyakan nelayan adalah kaum Muslim, seperti di Labuan Bajo atau Makassar. Namun berbeda untuk wilayah ini. Pada pemukiman nelayan, rata-rata warganya umat Kristiani. Saya heran-heran senang saat melihat ada makam dengan kayu salib dan di dekatnya ada pukat. Pemandangan ini tidak biasa buat saya dan Erik.

Lihat video Jelajah Flores kami:



Ngomong-ngomong, sebelum menemukan Gereja Tua Sikka, saya dan Erik sempat tersesat dan nyaris masuk di gereja yang "salah". Untung ada bocah yang memberitahu kami. Jadi kami harus melanjutkan perjalanan dengan melintasi jalan raya di tepi pantai. Seperti biasa, kalau mendapati jalan di pesisir pantai, saya tak akan melepaskan pandangan dari laut dan bebatuan yang terkena ombak. Cantik sekali.

Lalu tiba di Gereja Tua Sikka, kami hanya mampir sebentar untuk melihat-lihat dan memotret. Gereja ini dulunya diresmikan pada 24 Desember 1899. Sudah berumur hampir 183 tahun. Letaknya tepat di sisi pantai. Meski catnya terlihat masih cerah, bangunan gereja ini memang terlihat sudah tua dan khas. Bangunan tersebutpun dirawat dengan baik sehingga kondisinya masih bagus hingga kini. Saya sangat kagum saat itu.

Nah, ini objek terakhir pada penjelajahan kami di Kabupaten Sikka! Bagi umat Kristiani, kabupaten ini adalah tempat yang pas untuk wisata rohani. Jika sedang gundah, galau, bingung pada persoalan hidup dan hati, sempatkan untuk berkunjung ke wilayah ini. Melintas saja, sudah buat hati damai dan tentram karena menemukan gereja dan patung Keluarga Kudus dimana-mana, apalagi jika bergegas singgah lalu berdoa. Mudah-mudahan dapat solusi dan inspirasi! (end)

#exotic_NTT  #lombablog_exoticNTT #destinasiwisata_NTT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan