Index Labels

Kapan Jelajah Flores Lagi? (Epilog)

. . Tidak ada komentar:
Ilustrasi
Tidak ada Prolog pada tulisan Jelajah Flores ini namun saya berpikir perlu menulis epilognya. Soalnya saya belum puas.

Sepenting apa saya membagi pengalaman ini? Jika mendiang dosen saya, Asdar Muis RMS masih hidup, saya mungkin punya alasan menulis ini sampai habis. Pasalnya, saat dulu saya masih berlatih menulis pengalaman berseri, ia akan menelepon jika saya telat atau tidak menulis lagi. Maka saya pun terdesak antara ingin berlatih dan takut pada guru. Namun kini, tak ada yang menelepon lagi prihal tulisan. Kosong.

Lalu Bapa saya pun bertanya; "Apa hasilnya dari Jelajah Flores?". Saya ogah menjawab. Biarkan waktu yang beritahu sebelum saya diomeli dan dianggap foya-foya. Hehe..

Tapi tetap saja saya ngotot meski jarang ada yang berkomentar pada tulisan Jelajah Flores berseri ini. Malam ini, saya sudah tuntaskan 7 kabupaten di daratan yang kalau dilihat di peta terlihat seperti paha ayam yang sebagian ujung tulangnya sudah dicabik, ini. Pulau Flores.

Berniat baik kadang perlu keras kepala. Saya mau beritahu bahwa, selain Kabupaten Manggarai Barat, setiap kabupaten di Pulau Flores ada gunung berapinya. Gunung Ranaka di Manggarai dan Manggarai Timur, Gunung Inerie di Bajawa, Gunung Ebulobo di Nagekeo, Gunung Iya di Ende, Gunung Egon di Sikka, dan Gunung Lewotobi di Flores Timur. Jadi, jangan terlalu tenang di rumah. Tetap siaga dan bersiap-siap hadapi jika suatu waktu salah satu gunung ini meletus hebat. Atau malah meletus sekaligus. Maaf, khayalan saya berlebihan. Sempatkan waktu untuk menengok gunung-gunung ini.

Lalu, Labuan Bajo sesungguhnya belum layak disebut primadona Pulau Flores. Saya mengatakan itu sebelumnya karena picik. Karena belum tau bahwa Ende, Maumere, dan Larantuka masih jauh lebih bagus dan tertata. Saya berubah pikiran soal memilih Labuan Bajo sebagai ibukota propinsi jika suatu waktu Flores menjadi provinsi sendiri. Maumere atau Ende masih jauh lebih layak. 

Menjelajah habis Pulau Flores tidak mahal. Jika mampu makan dan tidur seadanya, 500 ribu pun cukup! Lebih asyik jika punya perlengkapan berkemah. Yang katanya berbahaya paling lintasan Ende-Maumere. Sisanya aman buat dipasangi tenda dan bermalam. Asal tidak sendirian amat, tidak buang sampah sembarangan, dan tidak teriak-teriak. Belum lagi, harga nasi bungkus di jalanan Flores murah. Dengan 5000 ribu rupiah saja, bisa dapat paket nasi kuning, sepotong ikan asin, tempe, dan sayur. Hangat, halal, dan enak. Nah, makannya bisa di trotoar jembatan sambil lihat-lihat air jernih yang mengalir. 

Sepeda motor apa saja bisa melintasi Flores. Asal sepeda motornya masih bagus, olinya diganti, bannya bagus, dan rantainya tidak putus. Jalan raya dari Labuan Bajo sampai Larantuka hot mix. Mulus-mulus cantik. Paling hanya beberapa titik yang rusak dan masih perbaikan. Itupun tak mengganggu sama sekali. 

Soal keamanan, selama kita ramah dan tidak berniat jahat, pasti tidak akan ada yang mengganggu di jalan. Namun, tetap kurangi jalan malam apalagi kalau cuma berdua dengan teman. Bukan menggurui, ini sudah protap dimana-mana. 

Masuk objek wisata terkenal di Pulau Flores pun tidak begitu mahal. Ke Taman Nasional Kelimutu hanya 5000 Rupiah per orang. Ditambah biaya parkir sepeda motor senilai 5000 Rupiah juga. Kalau Kampung Adat Bena, Ngada, karcisnya cuma 20.000 Rupiah.
Lalu, pangkalan bahan bakar juga tidak sulit didapat. Kalau SPBU besar jauh, ada SPBU mini bersliweran di pinggir jalan. Flores tidak udik-udik amat.

Penginapan murah pun ada. Di dekat kawasan wisata Taman Nasional Keimutu saja, ada penginapan untuk backpaker yang harga sewanya hanya 50 ribu rupiah semalam. Mahal dimana coba? Kalau masih mau irit, bukan kah kerabat kita ada dimana-mana? Asal tak gengsi hubungi, punya pulsa telepon, dan tak lupa bawa oleh-oleh kecil.

Nah, itu beberapa wawasan dan kemudahan dari menjelajah Flores. Saya punya cita-cita akan merayakan masa bulan madu bersama suami dengan menjelajah Flores. Kalau sempat di Paskah tahun depan, saya akan ke Larantuka untuk mengikuti prosesi Semana Santa.

Eh, ngomong-ngomong, saya masih punya hutang soal Flores Timur. Saya belum berlayar ke Lembata dan Adonara.

Baiklah, setelah ini, tulisan-tulisan Jelajah Flores ini akan dipindahkan ke blog. Mungkin saja ada penjelajah lain yang punya minat yang sama kemudian cari referensi lewat google. hehe
Maaf jika ada yang kurang dan salah.

Semoga terinspirasi. 🙆🙆🙇

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan