Index Labels

Hikz, Larantuka!

. . Tidak ada komentar:
Berpose di depan Gereja Katedral Larantuka
Kami tergesa-gesa saat ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Percayalah, ke kabupaten inilah yang paling membuat saya sedih dan bertekad akan menjelajah Flores lagi.
Saya dan Erik bertolak ke Kabupaten Flores Timur setelah tengah hari. Kami melanjutkan perjalanan sesudah menghabiskan rujak buah di jantung kota Maumere. Sebelumnya, jalanan yang kami dapati adalah jalanan sejuk dengan pepohonan dimana-mana. Namun agak berbeda saat ke Larantuka.

Kami melintasi jalanan di dekat laut. Ada banyak pohon kelapa namun terasa gersang sekali. Apalagi matahari masih tinggi dan saya agak mengantuk. Erik pun mengantuk.

Satu jam perjalanan dari kota Maumere, Erik membiarkan saya yang berkendara. Saya yang meminta dengan maksud biar tidak mengantuk. Kalau otak saya konsentrasi pada sesuatu, alhasil kantuk akan pergi. Jadi, Erik yang beratnya kemungkinan hampir dua kali lipat dari berat saya pun duduk di belakang. Aneh jika dilihat dari depan. Tinggi Erik jauh melampaui saya.

Saya pun berkendara sambil cerita. Kami juga sempatkan singgah di salah satu warung kecil yang terletak di pinggir pantai (masih di Kabupaten Sikka). Saya dan Erik makan nasi bungkus yang kami beli sebelumnya sambil meneguk kopi hitam. Maksudnya biar kantuk hilang. Kemudian melanjutkan perjalanan.

Belum masuk perbatasan Kabupaten Sikka dan Flores Timur, tiba-tiba ban belakang sepeda motor Erik kempes. Saya curiga karena beban berat badan Erik. Kamipun singgah di bengkel untuk mengisi angin. Dari situlah kami mendapatkan informasi bahwa perbatasan masih jauh. Butuh waktu tempuh satu jam lebih lagi. Senjapun kian datang.

Erik kembali yang berkendara. Tiba di perbatasan, jantung saya deg-degan. Ya ampun, sudah sampai di ujung timur Pulau Flores. Kami singgah di gapura perbatasan lalu foto-foto sejenak. Sekalian untuk istirahat.

Setelah foto-foto, saya dan Erik melanjutkan perjalanan. Masuk di Kabupaten Flores Timur juga banyak kejutannya. Kami dapati jalanan mulus yang ditempatkan di pinggir pantai. Laut Flores Timur biru bersih. Ada banyak pulau-pulau kecil yang terlihat dari jalan raya. Ah pokoknya indah. Bagus dilihat langsung karena sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kemudian dibuat senewen oleh keberadaan Gunung api Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan. Erik sampai kebingungan menentukan arah mata angin. Pasalnya, kami melintasi jalanan berkelok-kelok (coba perhatikan bagian Flores timur di peta), naik-turun bukit. Tadinya gunung tersebut di samping kanan kami, sebentar tiba-tiba hilang, eh tak lama tiba-tiba berada tak jauh di depan kami. Saya kemudian mengawasi lokasi kami melalui Google Maps di smartphone biar senewennya tak berkepanjangan.
Pemandangan laut memasuki Kabupaten Flores Timur

Belum masuk kota Larantuka, kami berhenti beberapa kali untuk foto-foto. Sumpah, pemandangannya bagus! Yang membuatnya bagus dan menarik karena lautnya yang biru cerah dan pulau-pulau kecil di seberang. Termasuk Adonara dan Lembata.

Kami hampir sampai di Kota Larantuka saat tiba-tiba ban belakang sepeda motor pecah. Untung saja ada bengkel yang lokasinya tak jauh dari tempat pecah. Lalu kami singgah, duduk di bawah pohon kresen sambil menunggu ban ditambal.

Butuh waktu satu jam lebih bagi mortir untuk menyelesaikan tambal ban. Akhirnya, kami masuk Kota Larantuka saat matahari hampir terbenam.

Kota Larantuka adalah kota yang paling mengesankan pada perjalanan ini. Kota yang kecil namun terasa tentram dan tenang. Kota yang sempit namun tidak menyesakkan.

Di kota ini, titik pertama yang saya dan Erik singgahi adalah Patung Ema Renha Rosari. Patung ini adalah patung Bunda Maria menggendong Yesus di tangan kiri dan memegang sebatang tongkat panjang di tangan kanan. Terus terang saya tak tahu tongkat apa yang dipegang pada patung tersebut. Bisa jadi juga tombak. Entahlah, maaf.

Patung Mater Dolorosa, Larantuka
Patung Ema Renha Rosari, Larantuka
Patung ini sepenuhnya dicat berwarna emas. Di kepala Bunda Maria dan Yesus, bertahtakan mahkota. Patung ini diletakkan di tengah taman yang dikelilingi pagar besi-tembok.

Dari situ, saya dan Erik menyisir Kota Larantuka lagi kemudian mampir di Gereja Katedral Larantuka. Wah, Gereja Katedral Larantuka kecil namun arsitekturnya menarik. Kayak di film-film barat tentang kerajaan atau negeri peri. Sayangnya saat itu hari sudah gelap dan kami hanya melihatnya sebentar.

Sambil pulang, kami dan Erik mampir di Patung Mater Dolorosa. Patung ini menggambarkan Bunda Maria sedang memangku Yesus yang terkulai lemah. Ini juga diletakkan di dalam taman. Patung ini dicat putih.

Setelah selesai foto-foto, saya dan Erik melanjutkan perjalanan pulang ke Maumere. Sepanjang jalan saat masih di dalam kota Larantuka, kami takjub pada pemakaman yang diterangi lilin. Cahaya lilin membuat pemakaman tersebut menjadi tidak seram.

Balik ke Maumere dan meninggalkan Larantuka adalah hal yang kami sesali malam itu. Kota Larantuka adalah kota yang terkenal dengan upacara Semana Santa-nya. Kaya akan objek wisata rohani. Di perjalanan pulang, saat menembus gelap gulita, tampaknya pikiran saya dan Erik sama;

"Mengapa tak menginap di Larantuka saja?"

Labuan Bajo, 16 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan