Index Labels

Ende Manise

. . Tidak ada komentar:
Danau Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores-NTT

Huaaaaah.... Dahsyat sekali rasanya saat saya dan Erik melintas masuk ke perbatasan Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende. Saat perjalanan pergi, tadinya saya dan Erik berencana akan menginap di Nagekeo, namun karena saya merasa Ende tak begitu jauh, kami pun melanjutkan perjalanan. 

Kami masuk ke Kabupaten Ende di kala senja. 

Saya terkagum-kagum melihat pemandangan sore hari saat sepeda motor kami melintas di jalan raya yang meliuk mengikuti lengkungan daratan di pintu masuk Kabupaten Ende. Kami melintasi jalan tepat di samping pantai. Sisi lainnya adalah bukit tinggi dengan pepohonan yang tumbuh subur. 

Saya membuka kaca helm dan selendang penutup mulut lalu menghirup udara laut yang baunya khas. Mata saya memperhatikan gelombang yang memukul keras bebatuan di pinggir pantai. Jalanan masuk dari Kabupaten Nagekeo ke kota Ende memang tak begitu luas namun cukup untuk lintasan dua arah. Namun, saya dan Erik teramat kecewa melihat sampah berserakan di pinggir pantai dan di sisi luar jalan raya. 

Saat pergi, kami masuk Kota Ende ketika hari sudah gelap. Sambil mencari tempat menginap, kami singgah di Lapangan Pancasila untuk meregangkan otot karena kelelahan. Saya malah berbaring di bawah pohon di dalam lapangan dengan membagi konsentrasi antara istirahat dan menghubungi kerabat yang ada di Kota Ende. 

Di Ende, kami menginap di rumah kerabat dan menyimpan sebagian barang sebelum melanjutkan perjalanan. 

Besoknya, matahari belum terbit, saya dan Erik lalu bertolak ke Moni. Di wilayah ini lah letak Taman Nasional Danau Kelimutu. Kami membutuhkan waktu hampir dua jam menggunakan sepeda motor untuk sampai ke objek wisata ini. 

Danau Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores-NTT
Sudah mulai terang saat tiba di Danau Kelimutu. Saya gemetar hebat saat sepeda motor kami menanjak mengelilingi bukit untuk sampai ke puncak. Dingin sekali sampai tangan saya kaku. Bibir saya terasa kering. 

Tiket masuk untuk wisatawan lokal yang berkunjung ke Danau Kelimutu senilai 5.000 rupiah. Kami juga harus membayar karcis parkir untuk kendaraan kami dengan nilai yang sama.
Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir, kami lalu berjalan kaki melewati tangga dan jalan stapak. Sudah banyak sekali pengunjung yang mendahului kami. Bahkan ada yang sudah pulang. Saya dan Erik mempercepat langkah karena khawatir akan ada kabut di puncak Danau Kelimutu yang akan menghalangi pemandangan. Katanya, pagi adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi danau tiga warna tersebut. Kalau agak siang, bisa-bisa danaunya tertutup awan. 

Di puncak Danau Kelimutu, terdapat dua jalur untuk kita bisa melihat kawah danau tersebut dari ketinggian. Saya dan Erik memilih jalur yang paling tinggi. Kami menapaki puluhan anak tangga dengan perasaan campur aduk antara senang, penasaran, dan kelelahan.
Saat tiba di puncak, senangnya bukan main. Saya bisa melihat dengan jelas tiga kawah Danau Kelimutu yang letaknya berseberangan. Yang paling elok dilihat adalah yang airnya terlihat berwarna biru muda kental.

Sedangkan, salah satu kawah yang berada di sisi kiri tangga tertutup awan. Saya tak sempat melihat warnanya. Petugas di danau tersebut bilang, danau pada kawah yang satu itu memang jarang terlihat. Meski dua kawah yang lain bebas dari kabut, yang satu ini teramat sangat misterius. Namun menurut petugas, danau pada kawah tersebut lah yang airnya biasa berganti antara warna hitam atau merah. Hmmm... Saya penasaran.

"Harus ada angin yang kencang sekali supaya bisa meniup keluar awan yang tutup kawah ini," kata petugas yang saya lupa tanya namanya itu, pada saya.

Selain Danau Kelimutu, ada sumber air panas dan beberapa objek wisata lain di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Tapi saya dan Erik hanya berkunjung ke danau tiga warna ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya. 

Danau Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores-NTT
Kemudian, kami baru melihat dengan jelas seisi kota Ende saat dalam perjalanan pulang. Gunung Meja terlihat jelas dari jalan raya. Begitu juga dengan gunung berapi, Gunung Iya. Lalu, kami juga menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Kota Ende. 

Tidak ada pungutan biaya saat masuk ke rumah bersejarah tersebut. Setelah mengisi buku tamu, saya dan Erik langsung berkeliling rumah sederhana yang terbuat dari kayu itu. Di dalamnya terdapat 4 ruangan yang terdiri dari ruang utama dan kamar tidur. Ada juga beberapa peninggalan Soekarno seperti lukisannya, alat penjepit yang sudah lapuk dan disimpan di dalam kaca. Di halaman belakang terdapat sumur. Rumah ini dicat warna putih.

Labuan Bajo, 12 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan