Index Labels

Wae Rebo, Misteri di Puncak Satarmese

. . 2 komentar:
Wae Rebo

Usai pekan Paskah 2017,  tepatnya pada Senin, 17 April 2017, saya bersama sepupu saya, Erik Neta bergerak dari Ketang menuju Satarmese. Kami berangkat dari rumah nenek di Dusun Balo-Ketang, pada pukul 05.00 Waktu Indonesia Tengah. Tujuan kami adalah mendaki bukit di salah satu sisi Kecamatan Satarmese untuk melihat Kampung Adat Wae Rebo.

Jalur yang kami ambil yakni pada jalur utama Trans Flores, berbelok di sekitar Anam. Ada penunjuk jalan yang besar di depan pertigaan. Penunjuk jalan ini adalah arahan ke Wae Rebo dan kampung Todo. Rute ringkas yang kami ambil adalah, Pela-Satarmese Utara-Todo-Dintor-Denge.

Wae Rebo sedang menjadi tren objek wisata untuk daerah Flores. Lokasinya yang tersembunyi di atas gunung dan tradisi adatnya yang masih terjaga membuat tempat ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik. Beberapa televisi swasta nasional juga pernah menampilkan daerah ini. Saya pun tak mau kalah. Makanya saat Erik mengajak saya  ke sana secara mendadak, saya langsung menyetujui tanpa pikir panjang lagi.

Perjalanan kami berdua sesungguhnya tidak gampang. Erik membonceng saya menggunakan sepeda motornya. Biar lebih jelas, siapa tau ada yang mau meniru kelak, sepeda motor Erik adalah Honda Supra X 125 cc keluaran tahun 2015. Bermodalkan nyali dan "kepala batu", Erik membawa saya dengan sepeda motor yang tampaknya biasa saja ini melewati dataran tinggi, jalur sempit, tikungan tajam, dan jalanan rusak di sepanjang Satarmese.

Sepeda motor Erik bergerak ke arah Satarmese barat. Ada banyak kejutan saat kami menjelajah wilayah ini. Saya seperti mendapat hadiah bertubi-tubi dari alam. Sebentar-sebentar mendapati siluet gunung raksasa yang gelap tanpa cahaya matahari, kemudian susunan sawah dengan tanaman padi yang hijau dan terlihat seperti tumpukan potongan kue kukus dari kejauhan,lalu pertemuan dua aliran sungai yang besar.

Kami juga beberapa kali melintas di sisi tebing. Lalu, yang paling membuat saya terkejut dan senang bukan kepalang, kami bahkan melintas di sisi pantai. Terus terang, saya baru tau bahwa ada laut di Satarmese.

Oh, saya ngotot berhenti untuk singgah saat tiba di pesisir pantai Desa Wae Maras. Bebatuan yang bentuknya unik dan raksasa tersusun acak dan eksotis di bibir pantai. Lautnya tenang dan biru. Tampak cantik sekali saat disirami cahaya matahari lembut yang baru saja terbit. Sambil duduk di salah satu batu yang besar, saya mengamati Pulau Mules di kejauhan. Ada beberapa perahu nelayan yang membelah lautan yang luas.

Kami sampai di Desa Denge pada pukul 08.11 WITA. Di desa inilah lokasi Pos 1 menuju Wae Rebo. Erik memarkir sepeda motornya di pos ini dan kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ceritanya, kami sedang mendaki bukit yang tinggi, terjal, dan curam.
Kampung adat Wae Rebo

Naik ke Wae Rebo, butuh waktu dua jam buat saya dan Erik. Erik sebelumnya sudah pernah ke sana jadi ia pun menjadi pemandu saya. Sepanjang pendakian kami bertemu dengan pengunjung lain yang meninggalkan Kampung Wae Rebo. Setiap berpapasan, kami saling bertegur sapa.

Setelah hampir satu jam mendaki, kami tiba di Pos 2 dan beristirahat sejenak. Dua pemuda asli Wae Rebo, Yos dan Joni yang juga sedang mendaki ikut beristirahat. Di situ saya sempatkan mencari tahu sedikit tentang Wae Rebo. Dua pemuda ini ramah dan kamipun melanjutkan perjalanan bersama.

Pukul 10.00 Wita, atap rumah adat Wae Rebo terlihat dari sisi bukit. Kami kemudian mendapati jalur yang landai. Saya berkesempatan memperbaiki nafas kemudian mempercepat langkah. Sungguh, saya sudah tak sabar ingin melihat perkampungan di puncak bukit itu.

Masuk ke Kampung Wae Rebo, saya mendapati tujuh rumah adat suku Manggarai tersusun melingkar. Rumah adat paling besar terletak paling tengah. Rumah adat suku Manggarai adalah bangunan dengan atap berbentuk kerucut.  Atapnya terbuat dari daun ijuk. Di puncaknya terdapat batang putih yang menciut. Bentuknya seperti corong yang dikatup.

Erik menuntun saya ke rumah gendang yang bisa juga dimaknai sebagai rumah ketua adat. Kami bertemu Pak Rafael selaku Tua Golo (ketua adat) untuk melaporkan diri. Sudah menjadi tradisi di Kampung Wae Rebo, setiap pengunjung harus melaporkan diri ke Ketua Adat sebelum menjelajah kampung tersebut.

Erik lalu menyodorkan sejumlah uang yang disebut seng wae lu’u.  Ini juga sudah menjadi tradisi adat suku Manggarai. Seng wae lu’u yang jika diterjemahkan lurus berarti uang air mata dimaknai sebagai rasa simpati dan belasungkawa kita pada para leluhur yang sudah meninggal. Ini bermaksud, agar penjelajahan kami di Wae Rebo terhindar dari segala mara bahaya. Warga setempat meyakini, arwah para leluhur akan menyertai dan tidak menghalang-halangi aktivitas kita selama di Wae Rebo.

Selesai urusan dengan Tua Golo, saya dan Erik langsung menjelajah pekarangan kampung adat Wae Rebo. Kampung adat ini sungguh berada di puncak bukit. Di belakang rumah-rumah adat terdapat jurang yang curam. Kemudian di seberangnya, terbentang pegunungan dan hutan belantara.

Seringkali, pemandangan kampung adat Wae Rebo menjadi buyar saat ada kabut yang melintas. Suhu udara di Wae Rebo terasa sejuk. Meski di atas gunung, tidak terlalu panas.

Warga setempat menggunakan bahasa daerah Manggarai untuk berkomunikasi. Tapi bukan berarti mereka tak paham Bahasa Indonesia. Kemudian, yang hidup di desa ini, mulai dari anak-anak kecil hingga orang dewasa. Saya mendapati anak-anak kecil bermain di pekarangan kampung adat yang dilingkari rumah adat berbentuk kerucut terbalik itu.
Berpose bersama Tu'a Golo Wae Rebo, Pak Rafael

Untuk mata pencaharian, sebagian besar warga kampung Wae Rebo hidup dengan bertani. Mereka juga memelihara hewan ternak seperti ayam dan babi. Kemudian, penghasilan lain adalah dengan menjual kulit kayu manis. Ada banyak sekali pohon kayu manis yang tumbuh di sekitar Wae Rebo ini.

Kulit-kulit kayu manis ini dijemur di pekarangan rumah. Saat ke kampung ini pun, saya dan Erik beberapa kali berpapasan dengan warga yang sedang memapah kulit kayu manis yang sudah kering. Mereka akan menjual kulit kayu manis tersebut pada penampung di Desa Denge. Uangnya akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak. 

Saya dan Erik mengitari Kampung Wae Rebo selama dua jam. Kami memutuskan pulang pada pukul 12.00 WITA. Tentu saja setelah lelah kami hilang pasca mendaki. Sama seperti saat naik, butuh waktu dua jam juga untuk turun ke Pos 1 Wae Rebo. (*)

2 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan