Index Labels

Kakak yang Teramat Layak Dicintai

. . Tidak ada komentar:
Ningsi dan Jerome saat di perahu menuju Pulau Messah




Kakak tertua saya, Ningsi Bahali, seorang bidan desa yang bertugas di salah satu pulau kecil di Kabupaten Manggarai Barat. Sejak terikat kontrak sebagai Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) pada 2012 silam, ia mengasingkan diri dari keluarga untuk mengurus warga kepulauan yang sakit. Ia baru akan pulang ke rumah pada akhir pekan.
 
Sampai saat ini, Ningsi adalah sosok yang sangat saya hormati dan sayangi selain ayah dan ibu saya. Dia menempati posisi ke dua di hati saya. 

Banyak hal yang membuat saya kagum padanya. Ningsi adalah seorang perempuan yang mandiri dan serba bisa. Sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia sudah terlatih mengurusi rumah dan menuntun adik-adiknya. Kami adalah keluarga kecil yang terdiri dari empat bersaudara. Setelah Ningsi, ada Vivi, saya, kemudian Erang.  

Sejak SMP itu, Ningsi sudah terbiasa bangun pagi lebih awal kemudian menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya sebelum berangkat ke sekolah. Sore hari, ia pun biasa membantu Mama di dapur tanpa diminta. Tak heran jika kini ia telaten memasak, terampil membuat kue, dan cekatan mengurusi segala keperluan keluarga. 

Perempuan kelahiran 8 Mei 1988 ini juga pandai merawat diri. Saat masih gadis, ia rajin merawat kulit  wajah dan rambutnya. Tak heran jika ia selalu terlihat rapih dan cantik.

Ningsi masuk ke Akademi Kebidanan di Kota Makassar, setelah lulus dari sekolah menengah atas. Lulus dari akademi kebidanan, ia pulang ke Labuan Bajo dan menunjukkan dedikasinya sebagai bidan yang baik dan berbakti. Berawal dari menyuntik dan memeriksa tensi tetangga, Ningsi melanjutkan karir sebagai tenaga medis sukarelawan tanpa upah. Kemudian, seolah semesta memberkatinya, ia lulus sebagai Bidan PTT dan digaji dengan jumlah yang lebih dari lumayan. Dia sungguh seorang kakak yang layak menjadi penutan.

Sejak itu, ia mulai belajar melawan takut melintasi jarak dan lautan untuk bekerja. Ningsi pernah bertugas di Pulau Selayar kemudian Pulau Messah. Untuk ke dua pulau ini, Ningsi menggunakan perahu kecil milik nelayan yang bertolak dari dermaga tradisional di Labuan Bajo. Di pulau, ia menempati salah satu ruang kecil yang terdapat di Pustu. Di situ dia tidur, menyimpan pakaian dan peralatan medis, dan menunggu pasien. 

Tahun 2014, Ningsi memutuskan menikah. Ia tetap melanjutkan tugasnya sebagai Bidan PTT meski sudah bersuami. Satu tahun setelah menikah, kakak saya ini mengandung anak pertamanya. Ia masih tetap bekerja di pulau mulai dari hamil muda sampai akhirnya hendak melahirkan.

Menjadi seorang abdi negara sekaligus isteri dan ibu adalah tantangan besar dan berat baginya. Beban kerjanya bertambah setelah menimang anak laki-lakinya yang kini diberi nama Jerome. Sejak Jerome berusia tiga bulan, Ningsi sudah membiasakan puteranya ini menghadapi gelombang laut ketika mereka menyeberang ke pulau kecil untuk bekerja. 

Jauh di dalam hatinya mungkin tak tega melihat puteranya yang masih terlalu kecil harus ikut bersamanya untuk bertugas. Namun, Ningsi ingin  tetap memberikan asupan air susu ibu (ASI) yang layak bagi puteranya sembari melanjutkan baktinya bagi negara.  Mereka tak bisa dipisahkan satu sama lain.

Jerome tumbuh di Pulau Messah. Kadang-kadang saat tak ditemani suaminya, sambil menggendong Jerome di punggungnya, Ningsi mengangkut air menggunakan gerobak dari jarak yang cukup jauh dari Pustu. Di pulau, masih sulit air bersih. Seringkali  ia menimbah air untuk kebutuhan pasien, apalagi jika pasien yang hendak melahirkan.

Tak hanya itu, Jerome yang posesif juga membuat Ningsi sering harus bekerja sambil menggendongnya. Salah satunya, saat hendak memberikan materi tentang kesehatan di sekolah menengah pertama yang berada di Pulau Messah. Ia berupaya membawakan materi dengan Jerome yang masih menggantung-gantung di kakinya.
Ningsi bersama Jerome (baju kuning) saat memberikan sosialisasi tentang kesehatan kepada pelajar SMP di Pulau Messah

Dengan pekerjaan yang padat dan tak kenal waktu, Ningsi dan puteranya sering terserang penyakit. Ia pernah jatuh pingsan dan terpaksa dilarikan ke puskesmas Labuan Bajo karena magh akut. Jerome pun sampai terkena tifus saat masih bayi. 

Kondisi ini sering membuat kami khawatir. Apalagi, persediaan obat di Pustu pulau tak memadai. Untuk bisa mendapat perawatan yang baik saat tiba-tiba sakit, mereka harus menyeberang menggunakan perahu nelayan ke Labuan Bajo. Waktu tempuh sampai satu jam lebih.

Tampaknya, ia perlu menyimpan beberapa paket obat seperti yang terdapat di beberapa gerai toko online Elevenia di http://www.elevenia.co.id/promo-apotek-online-364940 . Ningsi perlu mengonsumsi multi vitamin dan menyiapkan berbagai antibiotik untuk menjaga staminanya dan menjaga kesehatan puteranya selama bertugas di pulau terpencil. Tak semua obat ada di Pustu Pulau Messah


Ngomong-ngomong, bukankah dia teramat sangat layak dihormati dan dicintai? Dia pengabdi dan pemberi contoh yang baik. Itulah alasan mengapa saya sangat mencintainya.

Jerome berpose saat menemani Ningsi timbah air

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan