Index Labels

Setinggi Tangan Diangkat

. . Tidak ada komentar:
Dari Stasiun Kereta Api Rawa Buntu, ada kereta api tujuan Stasiun Tanah Abang, DKI Jakarta. Model kursi kereta api yang mengangkut penumpang dari Serpong-Tangerang, adalah bangku di tepi ruang kereta api yang saling berhadapan. Di langit-langit kereta api terdapat gantungan untuk pegangan bagi penumpang yang berdiri.

Saat kereta melaju, suaranya tak terdengar berisik seperti terdengar dari terminal stasiun tadi. Terlihat di luar, rumah-rumah penduduk dan pepohonan bergerak cepat. Kereta seperti melayang dan menjauh dengan tenang.

Di beberapa stasiun yang disinggahi, penumpang masuk berhamburan lalu mencari tempat yang lengang. Bangku-bangku sudah dipenuhi para penumpang dari Stasiun Rawa Buntu. Mereka yang belakangan, lebih banyak berdiri menumpuk di dekat pintu.

Beberapa petugas berbaju biru tua mirip seragam satuan pengamanan beberapa kali melintas di lorong ruang kereta. Mereka membawa pentungan berwarna putih, dompet P3K kecil yang digantung di ikat pinggang, dan memakai helm putih bertuliskan WALKA. Mereka menyapa seorang penumpang perempuan yang meletakkan koper besarnya di depan lutut. Si petugas lalu memindahkan koper tersebut ke kabin atas kereta api.

Singgah di Stasiun Palmerah, seorang penumpang perempuan celingukan ke arah jendela. Ia mencari deretan gedung tinggi di balik pepohonan dan terminal. Saat pintu kereta api ditutup, ia kembali sibuk pada layar telepon pintarnya.

Ada sekitar 30 menit waktu yang dihabiskan untuk perjalanan menuju Stasiun Tanah Abang. Saat hampir tiba, kemegahan Jakarta terlihat dari balik jendela kereta. Pemandangan gedung tinggi di kejauhan, menegaskan kepadatan kota metropolitan. Tampaknya benar bahwa pemukiman kian padat di ibu kota, dan pembangunan apartemen menjadi dan seperti membabi-buta.

Operator kereta api bersuara dan ada pemberitahuan bahwa kereta api telah tiba di Stasiun Tanah Abang. Pemandangan di jendela berganti dengan puluhan orang yang menunggu di terminal. Saat kereta api benar-benar berhenti, pengisi ruang kereta api berganti.

Monas masih jauh. Dari Stasiun Tanah Abang, menumpang dulu pada bajaj melintasi jalanan yang padat. Ada bajaj biru yang menawarkan jasa dengan harga Rp20 ribu. Nanti, setelah menemukan lampu lalulintas, puncak Monas yang mengkilat emas akan terlihat.

Sesungguhnya, Monas hanya setinggi tangan di angkat dan kepala didongak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan