Index Labels

Kotanya Ahok

. . Tidak ada komentar:
JAKARTA
Kota Ahok tak jauh beda dengan Kota Daeng; jalanan yang panjang dan mulus, kendaraan yang merayap, dan gedung-gedung tinggi. "Someone Like You" dari Adele mengalun lembut di dalam ruang Trans Jakarta. Supirnya, pria paruh baya berseragam Dinas Perhubungan.

Butuh waktu lebih dari satu jam dari daerah Serpong menuju Kota DKI Jakarta. Yang paling dicari pertama oleh para pendatang baru adalah Monas. Ada yang bilang, jangan mengaku ke Jakarta jika tak pernah menginjakkan kaki di Monas. Kemudian mungkin Kota Tua. Kalau mau bertemu Ahok, nantilah.... Pasti (mudah-mudahan) akan segera bertemu.

Kendaraan menjadi padat merayap saat memasuki jembatan layang, Kota DKI Jakarta. Perjalanan Trans Jakarta tersendat di dekat deretan bangunan tinggi yang menjulang di sisi-sisi jalan. Ada papan reklame bergambarkan tulisan "I Love JKT" beserta nomor telepon. Tiba-tiba terbersit ingatan tentang Ahok.

Saat ini, kota ini masih "ditata" Ahok-Djarot. Dua orang yang menjadi otak utama untuk mengupah dan mengatur para staf dan pekerja-pekerja pemerintah. Termasuk supir paruh baya yang menatap tak sabar pada punggung kendaraan yang berderet di depan kemudinya.

Sepuluh meter masuk ke Jalur Grogol-Harmoni, sang supir membunyikan klakson tiga kali. Ia memutar setirnya ke arah kiri lalu menekan klakson lagi. Lajunya lancar saat akhirnya bebas dari belenggu kendaraan roda empat yang padat, kemudian masuk ke jalur busway yang lengang.

Di dalam bus, seorang gadis 20-an menyilangkan kaki kiri di atas kaki kanan. Dua jarinya tak lepas dari telepon genggam bertombol. Matanya, sebentar-sebentar mengawasi sang supir, kemudian berganti pandangan ke arah gedung-gedung di luar jendela. Dua detik berganti lalu beralih ke layar telepon genggam.

Kantor Ahok masih jauh. Apalagi Istana Negara. Untuk bisa ke sana, taklukkan dulu stasiun kereta. Jika hendak beralih menuju Stasiun Kereta Api Grogol, bergegas keluar dari halte busway Grogol, lalu cari angkutan kota kode B-01 berwarna merah.

Kemudian belajar untuk tetap santai dan tak hilang di tengah keramaian.

Ngomong-ngomong, Monas setinggi apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan