Index Labels

Makassar

. . Tidak ada komentar:
ilustrasi
Kota ini seperti penuh sesak. Di waktu-waktu tertentu seperti jelang pukul 18.00, jalanan penuh oleh kendaraan. Di beberapa titik jalan, kendaraan warga bahkan seperti merayap untuk pulang. Terseok-seok mencari celah saat ditimpa jebakan kemacetan. Kesabaran beberapa pengendara diuji. Klakson sana-sini. 

Masyarakat belum banyak yang paham tentang pentingnya taat dan teratur dalam berlalulintas. Jika terdesak ingin pulang cepat, jalur orang diembat. Apalagi jika sudah gerah dan tak sabar memeluk keluarga di rumah. 

Saya salah seorang pengendara yang egois. Vario saya bisa melesat lincah menyalip Avanza seorang perempuan yang melintas terbata. Saya benci bertemu pengendara malas yang memegang smartphone di tangan kirinya. Apalagi jika saya sedang terdesak mengejar peristiwa. 

Di kota yang tampaknya mulai padat ini, sangat beruntung jika bisa melenturkan badan dengan leluasa saat berkendara. Semua orang ingin cepat sampai ke tempat tujuan. Jika diperhatikan di jalanan, akan ditemukan banyak mobil-mobil sedan berpenumpang satu orang. Supir tok! Pandai-pandailah menerobos ruang lengang antara mobil-mobil tersebut. Biar cepat sampai ke tujuan.

Makassar sudah punya bus dalam kota seperti Trans Jakarta di ibu kota negara. Bus ini lebih sering terlihat lengang melintas bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain. Penumpangnya tak begitu banyak. Beberapa kali terlihat ibu-ibu yang menenteng banyak kantong belanjaan atau anak-anak muda yang ingin mencoba menikmati bus dalam kota layaknya di Jakarta.

Masyarakat kalangan menengah ke bawah, lebih suka menumpang becak motor atau Petepete-sebutan untuk angkutan mikrolet di dalam kota, kalau di Labuan Bajo disebut bemo.

Ah, ngomong-ngomong soal Petepete, saya benci supir-supir mereka! Saya lebih waspada berkendara di dekat Petepete dibandingkan truk besar. Angkutan ini bebas berhenti dimanapun suka dan mau. Begitu saja berbelok dari tengah jalan menuju tepi jalan. Kebanyakan lampu sein angkutan ini tidak berfungsi. Hanya supirnya dan "Tuhan" yang tahu kapan angkutan ini berhenti dan menepi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan