Index Labels

"Polisi vs Pol PP" Seperti Bapa dan Mama Bekelai

. . 2 komentar:

Saya akan menulis ini sebagai salah satu puteri Bangsa Indonesia yang saya cintai ini. Saya tidak menulisnya dengan membawa profesi.

Di Makassar, oknum polisi dan oknum Pol PP bertikai. Berawal dari ribut di kawasan wisata Pantai Losari, kemudian berimbas pada penyerangan di Balaikota Makassar pada Minggu dini hari, 7 Agustus 2016.

"Rumah" Kota Makassar agak rusak. Kaca-kaca pecah, mobil-mobil juga koyak, pelatarannya tercemar oleh darah. Satu orang mati, beberapa luka-luka.

Ini seperti mengganggu sanubari saya sebagai warga yang bergantung terhadap perlindungan dua aparat negara ini. Saya seperti seorang anak kecil yang sedang melihat bapak-mamanya bekelai.

Terlihat begini; Mama marah bapak karena bandel. Bapak tak terima karena merasa dilecehkan lalu memarahi mama, memecahkan dan mengobrak-abrik perabot rumah. Karena tenggelam dalam pertikaian, Mama ketakutan pun tak terkendali lalu menghunus pisau dapur dan menikam perut bapak. Bapak mati, mama luka-luka kena pecahan perabot. Cacatlah rumah tangga. Saya menjadi yatim dengan trauma atas peristiwa antara dua pelindung tempat bergantung ini.

Apa pemicunya? Emosi yang labil atau arogansi?
Atau tak terima wilayah kekuasaannya dicoreng begitu saja?

Saya jatuh cinta pada tindakan "duduk bersama" pada jumpa pers yang dihadiri perwakilan polisi, pemerintah daerah, dan TNI. Mereka terlihat akur duduk di meja bersama lalu sepakat akan menjaga "anak-anak" di satuan masing-masing biar setelah ini Makassar kembali kondusif dan tidak ada kejadian serupa lagi.

Yah, pak polisi, pak walikota, dan pak tentara memang benar. Ini bukan masalah antar institusi. Tapi semata antar oknum yang "masih berjiwa muda. Mudah terpancing dan emosional" seperti yang disampaikan AKBP Hotman selaku Wakapolrestabes Makassar. Mudah-mudahan tak ada dendam di hati masing-masing.

Terus terang, saya prihatin melihat komentar-komentar masyarakat melihat kejadian ini. Ada yang memaki aparat polisi dan menyumpahi. Ada yang meremehkan Satuan Pol PP. Tidak ada yang peduli soal ini urusan oknum. Mereka sebut; "Dasar Polisi!", "Bulshit Pol PP!", dan berbagai umpatan lain. Beberapa yang lain juga menyampaikan rasa prihatin sekaligus patah hati; "Mereka saja bisa ribut, apalagi warga yang bukan aparat.", "Mereka tidak terkendali, bagaimana mengendalikan warga yang bertikai?"

Darah saya seperti mendidih mendengar kecaman Komandan Kodim 1408/BS Makassar, Letnan Kolonel (Kav) Otto Sollu. Dia kecam penilai masyarakat dan juga (mungkin) beberapa awak media yang mengelompokkan aparat. Berbicara seolah, Indonesia akan stabil tanpa Polisi atau TNI atau Pol PP.
Keluarga menangis di atas jasad mendiang Bripda Michael Abraham, korban meninggal "Polisi vs Pol PP" di Makassar


Begini kata-kata Otto saat itu (saya mengangguk terus sampai leher saya seperti mau patah); Ia menegaskan bahwa seluruh aparat adalah satu sebagai aparat Negara Kesatuan Republik Indonesia

"Jadi tolong kita (aparat negara) jangan didikotomi-dikotomi. Jangan dipecahbelah, dikelompokan. Saya memberikan masukan kepada kita semua, termasuk rekan-rekan wartawan, salah satu yang sangat rawan terhadap negara ini adalah perpecahan," ucap Otto di Balaikota Makassar, pada Minggu (7/8/2016), sore.

Ia lantas menekankan kesatuan Indonesia dari ratusan suku budaya yang dibedakan oleh puluhan ribu bahasa dan tersebar di ribuan pulau. Otto menuturkan dengan adanya semboyan "Bineka Tunggal Ika" agar selalu bersatu antara satu dan yang lain.

"Jangan ada dikotomi seperti ada kelompok polri, Sat Pol PP, TNI, apalagi ada dikotomi sipil. Dikotomi ini rawan. Ini sangat berbahaya bagi negara kita. Saya kurang nyaman karena itu karena kita ini satu. Tolong kita jangan dikondisikan seperti itu."

Penyampaian tersebut disampaikan Otto secara tegas pada jumpa pers bersama Pemda, Polri, dan TNI di Balaikota Makassar, kemarin. Ia mengatakan, atas kejadian tersebut seluruh aparat menyatakan sama-sama prihatin dan sama-sama bekerja.

Dia benar, dia terberkati. Yang dipikirkan sekarang adalah bagaimana agar tidak ada dendam lagi, tidak ada korban lagi, tidak ada perang dingin lagi. Memaafkan tak mesti menunggu lebaran.

Sebagai warga negara biasa, saya menunggu sikap dan ketegasan "Bapa dan Mama" saya ini agar bisa mempercayai mereka lagi dan sembuh dari patah hati.

2 komentar:

  1. Saya juga mau,bicara sebagai manusia, sebagai warga negara. Dan sebagai temannya vera yang mau berpendapat. Soal satpol PP dan Polisi sekarang memang sudah menyita perhatian. Bahkan kedua institusi dari ke dua pihak. Direktur Pol PP datang, Perwakilan Polri datang. Kenapa? Karena ada sesuatu yang ironi di sisini. Begini, menurutku, andaikan polisi ingat sumpah jabatannya dan ingat posisinya, hal ini akan selesai sampai di pelaporan atas tuduhan pengeroyokan di anjungan (kalaupun memang benar dikeroyok). Yang bikin saya miris adalah, polisi adalah penegak hukum, kenapa main hakim sendiri. Kalau ini olaj oknum, kenapa pakai seragam? Kalau oni oknum, apa kabar sumpah jabatannya? Saya kecewa dan takut. Bukan karena mama dan bapak bertengkar. Saya takut karena, sesamanya aparat saja bisa dia perlakukan demikian, lembaga besar saja sekaliber pemerintah kota bisa mereka lecehkan? Apalagi saya dan keluargaku yang hanya masyarakat biasa? Ini bukan kasus pertama loh. Masih ingat waktu UNM diporak-poranda sampai ada wartawan juga jadi korban??

    BalasHapus
    Balasan
    1. OKe. jangan dendam. Yang diperlukan sekarang bagaimana agar ini menjadi bahan koreksi diri, tidak terulang lagi, dan memaafkan

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan