Index Labels

Jangan Lupa, Ada 1 Centimeter di Kemerdekaan ke-71 Tahun Indonesia

. . Tidak ada komentar:
Genap satu tahun, bibit terumbu karang yang ditanam marinir mengendap di bawah laut. Jika luput dari bom ikan, bibit-bibit tersebut pasti sudah tumbuh dengan panjang satu centimeter.

Tahun lalu, saya ikut sekelompok marinir dari Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) VI/Makasar pada program transplantasi terumbu karang di Pulau Kodingareng dan beberapa pulau lain. Saya ingat, para tentara angkatan laut tersebut dengan berseragam loreng mondar-mandir dengan perahu karet di lautan lepas. Tetap dengan baju seragam, mereka menyelam mencari bibit terumbu karang jenis acropora, kemudian ditempel pada besi sebagai penyanggah buatan yang dibentuk seperti sarang laba-laba. Lalu kembali menyelam untuk menancapkan besi yang telah berbibit tersebut ke dasar laut.

Program transplantasi terumbu karang adalah salah satu program TNI Angkatan Laut untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia. Mereka mengahadiahi Indonesia dengan menyebarkan bibit terumbu karang ke dasar laut yang rusak. Persiapan untuk masa depan, demi Indonesia, demi anak-cucu.

Sederhananya, biar sampai ribuan tahun ke depan, kita Indonesia tetap bisa makan ikan. Masih punya aset wisata bawah laut yang menawan.

Mereka bertolak ke beberapa pulau wilayah Sulawesi Selatan yang kondisi karangnya rusak akibat bom ikan. Tahu kan bahaya bom ikan? Kerjaan para nelayan yang "minta gampang". Lempar satu botol amunisi, dapat ikan satu perahu, hilang habitat ikan untuk ratusan tahun. Saya melihat puing-puing karang yang luluh-lantah berserak padat di pesisir pulau-pulau kecil. Hancur, lebur, mati, dan kasihan.

"Dasar laut tersisa bangkai. Sudah telanjang tanpa karang," kata seorang marinir yang prihatin.

Dua pekan lebih aktivitas transplantasi karang tersebut dilakukan. Beberapa di antara mereka meninggalkan rumah dengan perahu boat yang memuat hanya lima orang sejak pagi buta. Saya pernah mendapati sekali seorang marinir menenteng bekal makan siangnya yang disimpan di dalam rantang transparan. Katanya buatan isteri, buat dimakan setelah mengumpulkan bibit jenis acropora dari dasar laut.
Marinir lain, berpindah-pindah dari pulau kecil satu ke pulau kecil yang lain. Selama dua pekan mereka tak pulang untuk berjumpa isteri dan anak. Kerjaan mereka, menata besi berbentuk sarang laba-laba, mencangkokkan bibit acropora yang berlendir kemudian membiarkannya terkena ombak sebelum di tanam di dasar laut.

Buatnya tak gampang, bayangkan mengerjakannya di bawah teriknya matahari sembari berendam di laut yang asin kemudian mengikat bibit karang hidup kuat-kuat. Tangan mereka kuat, kulit mereka terbakar, tentu saja punggung mereka letih.

Saya melihat mereka benar-benar merayakan kemerdekaan. Di sela-sela mencangkokkan acropora yang berlendir itu, mereka menyanyi, menggoda satu sama lain, dan tertawa lepas. Pengerjaan transplantasi karang tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta. Bibitnya ditanam dengan hati-hati. Salah bibit-cari ulang, salah injak-hantam. Sungguh, salah injak mereka bisa marah besar.

"Kita tidak akan dapat besarnya. Tumbuhnya hanya satu centimeter dalam satu tahun. Untuk melihat bibit ini mekar dan besar, butuh waktu berpuluh-puluh tahun," ucap seorang marinir. Bukan mengeluh.

Ada ratusan ribu bibit yang sudah mereka tanam. Jika lolos dari bom ikan, sudah ada ratusan ribu terumbu karang yang tumbuh dengan panjang satu sentimeter, sekarang. Saya tiba-tiba berniat ingin menengok saat baru-baru ini mendapat kabar perahu nelayan meledak karena bom ikan. Meledaknya di salah satu area tempat bibit-bibit tersebut ditransplantasi. Apa kabar bibit-bibit tersebut? Masih aman kah? Tumbuh kah? Loloskah dari brengseknya bom ikan? Ah.

Sebelum tulisan ini ditutup, saya mau teriak lagi; "MERDEKA! MERDEKA!!!"
*Terimakasih para pahlawan dan marinir-marinir yang tampan. smile emotikon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan