Index Labels

Balo

. . Tidak ada komentar:
Adel



Selalu ada yang kurang pada pulang kampung Manggarai tanpa ke Balo. Saya selalu menyempatkan sebagian waktu untuk mengunjungi Kakek Darius dan Nenek Adel di sana pada setiap liburan. Di kampung Balo yang terletak pada Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai itu, selalu ada pelukan hangat dan sambutan penuh kasih sayang dari kedua pasangan orang tua ibu saya ini.

Rumah nenek seperti ditempatkan apik tepat di tengah bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit-bukit hijau yang subur menjulang cantik mencium langit. Jika dilihat dari halaman muka rumah nenek, tampak pondok-pondok dan beberapa rumah warga di kejauhan seperti menempel pada dinding bukit yang subur.

Ada bentangan sawah tepat di belakang rumah. Di depannya, setelah jalan raya, ada jurang terjal yang hijau karena pepohonan dan rumput. Saya bersama sepupu-sepupu yang lain sering menunggu matahari terbenam dan mencari jaringan seluler di gundukan tanah di depan rumah nenek sambil melihat pemukiman warga dari Kampung Tonggur dan Gelong yang terletak di seberang jurang.

Punggung Nenek Adel sudah membungkuk karena usia. Setiap hari, di rumahnya yang lumayan luas dan bertembok, ia menutup rambut berubannya menggunakan topi rajutan. Nenek lebih sering melingkarkan pinggangnya dengan sarung. Blouse yang dipakainya macam-macam. Rata-rata pemberian puteri, menantu, dan cucu-cucu perempuan.

Pada waktu-waktu memasak, nenek mengurung diri dalam dapurnya yang dibangun terpisah dari bangunan utama rumah. Saat bahan-bahan memasaknya telah masuk panci, asap abu-abu mengepul keluar melalui celah-celah dinding papan. Nenek punya kebiasaan menanak nasi dan sayur sambil membakar ubi jalar di tungku api. Ubi jalar tersebut akan menjadi jajanan kecil buat cucunya yang menemaninya memasak. 

Saat ditemani masak begitu, nenek suka bercerita. Ia punya segudang cerita tentang masa lalunya dan anak-anaknya. Mulai dari kisah cintanya bersama kakek Darius sampai pada kisah cinta Mama dan Bapa saya. Kisah-kisah tersebut direkamnya baik-baik dalam memori otak. Saya tak pernah bosan mendengar meski sudah berulang-ulang masuk ke telinga saya dalam 23 tahun ini.

Darius dan Adel
Makan bersama di meja makan papan sederhana adalah yang selalu saya tunggu. Masakan nenek Adel selalu spesial dan lezat. Entah bagaimana, sayur daun ubi yang direbus tanpa minyak dan bawang buatannya terasa lebih nikmat disantap bersama nasi putih yang hangat. Padahal, buatan Mama di Labuan Bajo biasanya lebih bervariasi dengan tambahan santan dan daging. Tetap saja, saya lebih banyak makan saat berada di rumah nenek. Apalagi kalau ada ikan kering yang digoreng sampai garing.

Kakek Darius sudah meninggal pada perayaan Kamis Putih tahun ini. Saat masih hidup dulu, kakek selalu menyiapkan pisang masak di roto (keranjang anyaman daun rumbia)yang diletakkan di dapur. Selain pisang, biasanya ada juga nenas dan pepaya. Buah-buahan ini diambilnya dari Kebun Lale yang berada di Kampung Raong, jaraknya sekitar 10 kilometer dari Balo.

Setiap ke kebun Lale, kakek dan nenek selalu pergi bersama dengan berjalan kaki. Kebun ini letaknya lebih rendah dari Balo. Mereka akan berjalan kaki seperti mengitari turunan bukit yang terjal. Kakek Darius selalu menggantungkan parang andalannya di penyanggah bagian kiri pinggang dan membawa tongkat sejak sempat terserang stroke beberapa tahun silam. Sedangkan nenek Adel, menyanggah tali roto  di kepala agar wadah roto terpapah kokoh di pundaknya. Saya berpikir ini salah satu penyebab nenek Adel kini membungkuk. 

Adel dan Dafrosa
Ada banyak tanaman di kebun Lale. Sebagian besar lahan luas itu ditanami pohon kopi dan cengkeh. Sisanya, ada pohon nangka, pohon pisang, pohon pepaya, jambu biji, dan ubi-ubian. Selain itu, ada aliran air dari mata air pegunungan yang bersih dan subur melintas di tengah kebun. Kami biasa mencuci kaki dan tangan pada aliran tersebut setelah menggali ubi jalar dan singkong. 

Kegiatan ke kebun baru diijinkan setelah saya cukup dewasa. Saya baru benar-benar melihat isi kebun Lale di usia 22 tahun. Dulu, Kakek Darius dan Nenek Adel selalu melarang dengan alasan mencegah gangguan roh jahat dan kecelakaan yang berdampak fatal. Kakak saya, Vivi dulu pernah jatuh di kebun Lale saat masih kecil. Kepalanya bahkan sampai bocor.  Dari situ, nenek tak lagi mengijinkan kami ke sana. 

Ada yang spesial setiap berpamitan pulang. Nenek Adel selalu dengan ekspresi khawatir mengantar kami ke pintu rumah. Ia lalu menjilat jempotnya lalu menggariskan bentuk salib di dahi dan tengkuk belakang kami. Kami lalu dipeluk dengan hangat dan dinasehati agar berhati-hati di jalan. 

Saat pulang begitu, jarang kami tinggalkan rumah nenek tanpa ole-ole. Ia pasti mengemasi biji dan tepung kopi ke dalam plastik. Rempah-rempah seperti kunyit dan jahe digalinya dari halaman rumah. Saat musim pisang dan ubi, dibungkusnya semua itu ke dalam karung kecil. Biasanya itu kado khusus buat Bapa dan Mama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan