Index Labels

Kenapa Rezky?

. . Tidak ada komentar:
Rezky Evienia Syamsul saat masih hidup
sumber: internet

Saya berkutat pada misteri kasus kematian seorang mahasiswi kedokteran dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar satu bulan terakhir. Nama mendiang adalah Rezky Evienia Syamsul. Baru 22 tahun dan anak sulung dari dua bersaudara.

Sebelumnya gadis ini sehat. Ayahnya, Syamsul Sudin memastikan bahwa puterinya tersebut tak pernah mengidap penyakit berbahaya. Ia juga mendaftar dan lolos di Fakultas Kedokteran melalui seleksi ketat. Anaknya sehat walafiat.

Awal menenggelamkan diri dalam kasus ini saat Rezky meninggal setelah tak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit selama dua hari. Ia jatuh pingsan ketika mengikuti pengkaderan salah satu organisasi yang berkaitan dengan medis dari kampusnya. Tiba-tiba jatuh saat berada di pos 2 dari 7 pos yang disiapkan panitia.

Sesungguhnya, kasus ini ribut sejak Rezky dievakuasi ke rumah sakit. Beberapa media online mulai memberitakan tentang kejanggalan pingsannya gadis tersebut. Sampai akhirnya dia dinyatakan meninggal.

Saya baru ikut andil saat mengetahui mahasiwi ini meninggal.  Karena mendengar cerita adanya dugaan penganiayaan, insting saya langsung jalan. Saya hubungi dokter forensik menanyakan visum dan autopsi terhadap mendiang. Dokter katanya tak tahu, tak pernah bertemu, tak pernah tangani, dan tak pernah  ada permintaan dari polisi.

“Kasusnya belum dilaporkan ke polisi,” kata seorang teman. Lah, ribut di media doang?

Saya bingung saat itu. Namun sorenya, salah seorang kerabat mendiang melaporkan kejadian terkait kejanggalan kematian Rezky ke Mapolda Sulsel.  Dari situ penyelidik pun mengajukan surat permintaan visum kepada tim forensik. Sore itu juga, tim forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar bertolak dari Makassar untuk menyusul jenazah yang dipulangkan ke Mamuju, kampung halaman mendiang.

Namun keesokan harinya, keluarga mencabut laporan karena menolak autopsi jenazah. Terdengar pasrah namun polisi tetap berinisiatif mengusut kasus tersebut dan membuatkan laporan model A.

Proses kasus berlanjut. Saya kian penasaran. Hampir tiap hari saya seharian duduk di koridor Direktorat Kriminal Umum Polda Sulsel saat saksi-saksi dipanggil untuk dimintai keterangan. Saya buat semua laporan mulai dari jumlah saksi yang diperiksa, siapa saja yang datang, dan sampai pada siapa saja yang tidak memenuhi panggilan polisi.

Sebelum gelar perkara, berbagai isu menyebar. Ada yang bilang kasus tersebut tak akan dilanjutkan, ada juga yang bilang tersangka sudah ada tapi polisi belum mau beberkan. Sampai pada hari gelar perkara, Direktur Kriminal Umum Polda Sulsel, Kombes Pol Erwin Zadma keluar dengan pernyataan proses kasus naik ke tahap penyidikan. Tetap dilanjutkan.

“Kita temukan adanya indikasi tindakan pidana. Kasus naik ke tahap penyidikan,” kata dia saat itu.

Baca juga: Berangkat dari Kasus Rezky, Lebih Pintar kah Senior Kita?

Gelar perkara pertama keluar tanpa status kasus dan tanpa tersangka.  Polisi belum punya bukti kuat untuk menyeret kasus ini ke tindakan penganiayaan. Akhirnya, pemeriksaan saksi berlanjut. Sudah 30 orang lebih tapi polisi masih butuh keterangan dokter yang menangani kasus ini.

Keterangan para dokter pun tak banyak membantu. Namun kembali para dokter menegaskan bahwa dari rekam medik tak ada tanda-tanda yang bisa menjelaskan penyebab kematian Rezky. Artinya, rekam medik Rezky memang baik-baik saja. Dia sehat seperti yang dikatakan ayahnya. Tampaknya memang hanya jalan autopsi yang bisa menjelaskan secara medis penyebab kematiannya.

Sampai akhirnya, siang tadi ayah dan ibu kandung mendiang, Syamsul Sudin dan Ramaniah datang dari Kabupaten Mamuju untuk memenuhi panggilan polisi di Mapolda Sulsel, Makassar. Mereka dijejal sejumlah pertanyaan.

Syamsul Sudin tak bisa menahan tangis saat mengingat pembicaraan terakhirnya dengan puterinya melalui telepon. Ia sampai membungkuk menyembunyikan wajahnya menggunakan dua kepal tangan. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada pengkaderan yang diikuti puterinya atas persetujuannya tersebut.

“Semua pertanyaan penyidik saya jawab tidak tahu. Saya memang tidak tahu apa yang dilakukan di kegiatan tersebut,” kata Syamsul Sudin sambil menyeka air matanya menggunakan sapu tangan.

Isterinya, Ramaniah tak ingin berkomentar. Perempuan yang wajahnya tampak sangat mirip dengan mendiang puterinya tersebut mengunci mulutnya saat duduk di samping suaminya. Ia hanya mengucapkan terimakasih dengan suara yang kecil saat menjabat tangan saya.

Terus terang kasus ini mengganggu pikiran saya. Sepertinya saya mulai terbawa perasaan. Saya penasaran apa sebenarnya yang terjadi pada Resky pada saat pengkaderan. Kenapa dia tiba-tiba pingsan, tak sadarkan diri, lalu meninggal? Apa yang terjadi?

Pihak organisasi dan universitas pun bungkam kepada media. Namun dari apa yang saya dapat dari kepolisian, para saksi yang terdiri dari panitia dan peserta memberikan keterangan prihal adanya tindakan fisik saat pengkaderan tersebut. Tindakan fisiknya yang dimaksud adalah push up, merayap, dan sit up. Tindakan kekerasan fisik belum terbukti.

Saya berharap Semesta menggerakan ini sesuai dan sebenar-benarnya. Saya pun ikut berdoa semoga tak ada orang-orang brengsek yang memanfaatkan kasus ini untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Apalagi para bajingan yang sengaja menyerang sambil menunggu "didatangi". Nyawa seorang manusia hilang dengan janggal dan kian membingungkan.

Ada apa Tuhan? Apa yang terjadi pada Rezky?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan