Index Labels

Dokter... Berbelaskasihlah seperti Ibu

. . Tidak ada komentar:
ilustration

Saya tersiksa karena sakit yang hebat dari dalam lubang telinga kanan. Sakitnya bikin frustasi karena menyerang sampai saraf-saraf di kepala. Saya kian frustasi ketika malam kian menanjak dan saya tetap tak bisa tidur. Besok kerja. Harus kerja.
Saya menangis di atas kasur lalu berlari ke lantai bawah untuk membangunkan kakak ipar. Saya perlu ke dokter dini hari ini. Khawatir jika tiba-tiba gendang telinga saya pecah. Saya tidak mau tuli.
Kami lalu menembus udara subuh menuju puskesmas. Seorang perawat berbaju merah menerima saya. Dia tidak punya alat untuk memeriksa telinga saya. Tapi dia memberi saya dua butir obat; vitamin dan pereda rasa sakit. Saya teguk di situ juga. Dia kemudian mengambil senter dan memeriksa telinga saya sebentar. Hasilnya tak seberapa, tapi sang perawat berhasil membuat saya tenang sejenak.
Sakitnya belum hilang. Saya lanjut ke salah satu rumah sakit swasta di tengah kota. Masuk IGD, saya sampaikan keluhan saya.
"Sakit sekali suster. Dia serang sampai kepala. Saya baru rasakan ini. Malah lebih sakit dari sakit gigi. Saya seperti mau tumbang dan pingsan," kata saya di atas tempat tidur IGD.
Sang suster lalu mengambil tensi dan mengukur tekanan darah saya. Tak lama, kakak ipar meminta kartu BPJS dan KTP saya.
Beberapa menit saya menunggu. Berharap seorang dokter datang membawa senter kecil dan peralatan lain. Saya seperti haus kasih sayang saat sedang tersiksa pada rasa sakit di telinga dan terbaring pasrah di IGD. Saya butuh jamahan penuh kasih dan perhatian. Saya merasa gelisah dan rasa sakit dari dalam lubang telinga tak kunjung reda.

Tak lama, kakak ipar datang dengan ekspresi lain. Dia bilang BPJS saya tidak aktif. Saya tak kaget. Toh gampang diurus asal telinga saya ditangani dulu.
Tak juga didatangi, saya bangkit dari tempat tidur dan menuju seorang dokter bermasker yang sedang duduk di depan meja yang tergeletak di sisi ruangan. Saya bertanya prihal BPJS saya, ia menjawab tanpa melihat mata saya. Tak lama, suster yang tadi mentensi saya datang membawa beberapa dokumen.
Keduanya kompak membahas poliklinik dan dokter THT. Mereka juga menyayangkan BPJS saya yang tidak aktif. Saya dan kakak ipar duduk kikuk di hadapan mereka.

"Tidak masalah bu. Tangani saya dulu. Saya khawatir telinga saya kenapa-kenapa. Nanti tuli," kata saya tak sabar.

"Terlalu jauh pikiranmu," kata sang dokter dengan (sungguh) judes.

Sang dokter bermasker itu mengaku bukan dokter THT. Ia kemudian mengambil telepon genggam bersenter dengan tangan kanannya. Saya yang mendatanginya dan ia sama sekali tak bergerak dari kursi. Disenternya telinga saya sebentar tanpa minat.

"Tidak terjangkau. Harus ke dokter THT," katanya setelah itu. Ia tidak pernah melihat mata saya saat bicara.

Setelah itu, ke loket pembayaran kakak ipar keluarkan Rp210 ribu untuk "semua" penanganan IGD itu. Saya diberi obat dua papan. Sepertinya obat yang sama seperti diberi perawat di puskesmas.
Tentu saja saya dan kakak ipar mempertanyakan harga ini. Rp210 ribu untuk tensi, obat dua papan, dan senter telinga? Oke, ditambah "pinjaman" tempat tidur untuk 15 menit saat saya menunggu sang dokter baik hati yang tak kunjung datang.
Saya antara prihatin dan merasa konyol. Sedang dibodohi kah saya? Oleh sang dokter tak ramah yang seperti tak punya rasa kasih sayang dan berbelaskasih pada pasiennya sama sekali.

"Tiga hari waktunya untuk dikembalikan uangta kalau BPJS sudah aktif lagi. Ini jaminan UGD," kata suster.

Mereka konyol, saya pun konyol. Persetan uang tersebut. Saya lebih menghormati pelayanan gratis perawat di puskesmas kecil tadi. Saya lebih mendoakan sang perawat tersebut ketimbang sang dokter yang angkuh.

Sungguh, sekalipun BPJS saya aktif kembali, saya tidak akan mengambil upah sang dokter tak terberkati itu lagi. Ambilah! Pakai untuk keperluan administrasimu yang tidak terberkati itu. Lagipula, obat gratis sang perawat sejak awal sudah pulihkan telinga saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan