Index Labels

Berangkat dari Kasus Rezky, Lebih Pintar kah Senior Kita?

. . Tidak ada komentar:

Misteri kematian Rezky Evienia Syamsul sudah sampai dimana? Bagi yang peduli, berdoalah karena Direktorat Kriminal Umum Polda Sulsel akan melakukan gelar perkara kasus tersebut besok, Selasa, 19 Juni 2016. 

Baca juga: Kenapa Rezky?

Besok adalah hari yang saya tunggu-tunggu. Tak enak rasanya menumpukkan penasaran karena kasus ini. Apa yang terjadi? Siapa pelakunya? Siapa saja? Semoga semua kesimpulan yang dilakukan besok adalah yang sebenar-benarnya. Ayo langit, lihat ini. 

Ini salah satu kasus yang berhasil membuat saya terbawa perasaan dan emosi. Banyak yang saya pikirkan. Tidak hanya sekedar kekerasan (jika itu yang terjadi), tetapi juga sistem dan tradisi yang dibentuk dengan cara yang tidak nyambung dan tidak masuk akal. 
Mendiang Rezky Evienia Syamsul

Saya pernah mengomel di facebook soal keterkaitan tindakan fisik dalam kegiatan pengkaderan di beberapa universitas ataupun organisasi dalam kampus. Saya tidak setuju teknik-teknik pengkaderan yang berlebihan. Senior berhak membentak, mengajar, mengarahkan, dan bisa seenaknya saja melakukan apa. Hukumnya, "HAM dicabut!". Apa? Apa hak pendahulu atau kakak kelas kita mencabut HAM seenaknya? Mereka bahkan bukan aparat hukum dan negara. Presiden pun tak bisa seenaknya mencabut HAM warganya. 

Jika dianggap kakak kelas lebih pintar makanya mereka perlu "mengajar" "adik-adik"nya, memangnya mereka siapa? Mereka bahkan belum berlabel lulus dan sarjana. Mereka belum tentu lebih pintar dari "adik-adiknya". Mereka belum tentu banyak berlatih dan belajar sehingga lebih berwawasan atau berpengalaman. Fatalnya lagi, belum tentu mereka bakal lulus tepat waktu malah adik-adiknya yang duluan.

Empat tahun lalu, saya pernah mengamuk saat mengikuti kegiatan LDK dari universitas yang saya masuki. Di lokasi LDK, saat sedang mandi, seorang "senior" laki-laki menggedor-gedor pintu kamar mandi sekuat tenaga. Saya ingat saya panik sekali karena pintu tersebut rusak dan saya di dalam sedang mandi tanpa sehelai benang pun di badan. Setelah terburu-buru mandi dan berpakaian, saya keluar dan berteriak mencari pelaku yang menggedor pintu kamar mandi tanpa sopan santun itu. Tak ada yang berani tunjuk muka. 

Di malam terakhir  LDK, di dalam aula temaram saya diadili. Katanya tak baik meneriaki "seniormu" dengan kata-kata "tak punya sopan-santun!" Katanya niat senior baik, biar tidak telat mengikuti kegiatan selanjutnya. 

"Lah, apanya yang telat? Setelah insiden gedor-gedor pintu kamar mandi itu, saya malah masih punya waktu kosong nyaris setengah jam sebelum kegiatan selanjutnya," jawab saya saat itu. Tetap saja, mereka tak mengalah dan menganggap saya salah. Dalam hati saya tegaskan, mereka yang bodoh!

Saya terus-terang sangat girang saat dikeluarkan keputusan Masa Orientasi Siswa di kalangan SMP dan SMA dicabut tahun ini. Di Universitas juga mestinya dicabut. Toh tanpa Ospek atau sejenisnya pun tak akan berpengaruh pada nilai kuliah, kualitas belajar, ataupun kelulusan di masa akhir. Apalagi jika kegiatan ospeknya seperti sebelum-sebelum ini; sit up, push up, merayap, dibentak-bentak dengan alasan uji mental dan bentuk ahlak. 

Jika tidak sedang kuliah untuk menjadi aparat, tolak! Senior di kampus juga bukan instruktur olahraga ataupun orang tua dan tokoh agama yang berkompeten untuk urusan jasmani ataupun rohani. Atau jika niatnya biar yang lebih muda menghormati yang tua, jangan lupa bahwa kehidupan ini tentang aksi dan reaksi. Menghormati, maka akan dihormati. Saling menghormati sudah menjadi hukum alam yang diturunkan dari nenek moyang Adam dan Hawa, bukan menunggu kuliah baru dipelajari.

Dan jangan lupa, salah satu tradisi ospek yang berbahaya bagi kesehatan adalah sikat gigi menggunakan alat yang sama dan air kumur yang sama. Siapa yang menjamin rekan-rekan peserta ospek kita benar-benar sehat. Awas Hepatitis dan HIV/AIDS!

Oke, kembali kepada kasus Rezky. Apapun keputusan esok, baik itu kelalaian ataupun penganiayaan, pihak yang bertanggung jawab layak mendapatkan hukuman atas hilangnya nyawa mahasiswi yang tanpa riwayat penyakit itu.

RIP Rezky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan