Index Labels

Selamat Hari Ayah, Bapa

. . Tidak ada komentar:
Kepada Bapakku


Bapakku dan Jerome
Mestinya rangkaian kata ini kubuatkan senandung. Biar seperti "Ine Momang".

Banyak yang bercerita. Mereka membahas banyak hal dan keluar masuk ke telinga. Mereka bercerita tentang keadaanmu, kebahagiaanmu, dan bahkan kesalahanmu.

Ada juga yang bercerita tentang besarnya rasa cintamu. Mereka bilang, kau cukup peduli. Mudah tersentuh pada beberapa situasi.

Tidak banyak yang pernah kita perbincangkan bersama. Mungkin kita pernah berdiskusi beberapa hal namun seperti hanya singgah. Dan jika mencoba dihitung, berapa kali aku berani menatap matamu?

Suatu waktu, kau menuntut beberapa hal sembari berupaya menahan diri tak mengintimidasi. Sedangkan di beberapa situasi, kau berani mengintimidasi agar kami menahan diri.

Di waktu-waktu tertentu, kau bisa lebih cerewet dari Mama. Lebih banyak bicara seperti Mama yang membahas soal bumbu-bumbu tepat pada sayur dan ikan kuah.

Lebih banyak lagi, kau cenderung mendorong. Melempar jauh biar tidak takut. Sama seperti dulu, saat membiarkanku berjalan sendiri di malam hari untuk mencarimu. "Hantu cuma bayangan!"

Berapa kali kau mencari lalu sampaikan rindu? Nyaris tak pernah. Kau hanya tiba-tiba berteriak seperti frustrasi saat kubatalkan janji. Pulang, ternyata tidak pulang.

Kau tak pernah memaksa tinggal dan tak pernah tinggalkan uang jajan. Terima kasih karena kau percaya bahwa aku akan baik-baik saja. Siapa dulu bapaknya?

Mungkin ada beberapa malam kau tak sanggup pejamkan mata karena merindukanku. Kau tidak menghubungi karena tak punya bahan untuk bicara. Terlalu lemah jika kau tiba-tiba
menelepon dan sampaikan; "Bapa rindu."

Percayalah aku juga....
Aku bahkan menangis setiap merindukanmu. Tapi tak mungkin langsung rogohkan tabungan, beli tiket, lalu kabur hanya untuk melihatmu dan memelukmu segera.

Kau kuat, aku juga!

Beberapa kali kuberpikir aku seperti jiplakan dirimu. Beberapa kali kumerasa pemikiran kita seperti sama. Bukankah kadang-kadang kita sepaham? Opini kita kadang sejalan meski menyimpang dengan penghuni rumah yang lain.

Ingat saat Mama marah-marah dan kita berdua seperti bergosip di halaman rumah karenanya. "Membicarakan" Mama dari belakang berdua denganmu ternyata menyenangkan.

"Ih Mama marah-marah," kataku di sampingmu dan kau pun menjawab; "Iya marah-marah terus." Kau setuju dan terlihat sungguh-sungguh setuju.

Selamat hari Ayah Bapakku...
Kau tidak perlu membaca ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan