Index Labels

Pernah Pulang

. . 2 komentar:
Tahun lalu, saya pernah pulang tanpa bilang-bilang. Saat itu, saya ingat Bapa dan Mama benar-benar sudah sangat ingin melihat puterinya yang ketiga ini. Mereka rindu tapi saya selalu menolak pulang saat mereka meminta.

Cerita tahun lalu begini;

Waktu itu saya masih bekerja di media surat kabar lokal di Makassar. Saya ditugaskan kantor untuk mengikuti kegiatan PT Unilever di Pulau Sumba. Mendapat kesempatan tersebut, saya meminta ijin untuk melanjutkan perjalanan saya ke Labuan Bajo. Saya ingin bertemu Bapa dan Mama dan juga keponakan saya yang baru saja lahir. Untungnya kantor mengijinkan.

Tiga hari liputan saya di Sumba. Sesekali saya menelepon Bapa dan Mama tanpa memberitahu mereka bahwa saya ada di Provinsi NTT dan mau pulang. Waktu itu, Bapa berpikir saya anak yang kurang ajar karena tak menengok orang tua. Dia marah-marah karena saya tidak mau pulang.

Saat hendak berangkat dari Bandara Sumba Barat, saya sempat menelepon Bapa. Suaranya tak ramah seperti biasa. Di kepalanya mungkin sudah terlanjur mencap saya sebagai anaknya yang paling kurang ajar.

"Anak biadap. Kurangajar," umpatnya saat sepupu saya, Venan pulang tanpa saya di liburan semester sebelumnya.

Di bandara Sumba Barat, saya menahan diri tak memberitahunya bahwa saya sedang dalam perjalanan ke rumah.

Pesawat yang membawa saya dari Sumba Barat ke Labuan Bajo menempuh waktu hampir dua jam. Di pesawat, saya berupaya tidur agar tak sadar waktu segera berlalu. Namun, karena gelisah membayangkan reaksi Bapa dan Mama saat saya sampai di rumah, usaha tidur tak berhasil.

Sampai di Labuan Bajo, saya mencari tukang ojek yang membawa saya ke rumah. Butuh waktu sekitar 15 menit dari bandara ke rumah. Saya yakin Bapa dan Mama sedang ada di rumah.

Pengojek berhenti tepat di depan halaman rumah.
Baru lima langkah, saya mendengar suara Mama berteriak dari dalam rumah.

"Ema Ningsi, Vera. Hitu Vera!" (Bapa Ningsi, Vera! Itu Vera!)
Saya tak bisa menahan tawa melihat Mama yang berlari keluar dari pintu dan menghampiri saya kemudian memeluk erat. Bapa keluar sesaat setelah itu. Mulutnya penuh makanan. Ia menyambut saya di depan pintu dengan tangan kanannya yang terentang. 

Persetan tangan Bapa bau ikan, saya menyambut dengan rindu yang sangat saat dia merangkul pundak saya.

"Langsung makan. Ada ikan!" kata Bapa.

Demi alam semesta, pemiliknya, dan angin kencang yang dingin ini, saya sangat mencintai kedua orang ini.


Tilong Kabila (Makassar-Labuan Bajo), 5 Mei 2016 (00.03 Wita)

2 komentar:

  1. Karena sekasar-kasarnya orang tua, selalu menyimpan ruang buat anaknya. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cinta orang tua selalu tulus (selain Jamaluddin). Sejauh apapun kita pergi, merek tak akan lupa dan benci.

      Hapus

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan