Index Labels

Perempuan Malam, Butuh Tangan Untuk Menarik Pulang

. . Tidak ada komentar:
Ilustrasi

*Kisah Perempuan Malam di Balik Prostitusi

Beberapa perempuan pekerja seks komersial terjebak pada profesi yang sebenarnya dibencinya. Mereka tersesat karena kebutuhan hidup, gaya hidup, dan tak mendapat kasih sayang juga perhatian. Sebagian besar dari mereka, butuh tangan yang bisa menarik pulang ke jalan yang benar.
 ***

Seperti yang terjadi pada Bunga (bukan nama sebenarnya).  Ia adalah salah seorang pekerja seks komersial di Makassar yang ingin bergegas bebas dari kehidupannya sekarang. Jauh di lubuk hati Bunga, ia ingin menjalankan kehidupan yang normal, menikah dengan pria yang dicintainya, dan memiliki keluarga yang baik dan bermoral.

Saat ditemui penulis pekan lalu di indekosnya, Bunga membungkus rambutnya dengan handuk merah muda. Baju kaos putih yang dikenakannya memperlihatkan sedikit belahan dada yang menumpuk dalam dekapan bra. Bunga baru saja selesai mandi. Ia sudah merias sedikit wajahnya dengan eye shadow cokelat muda, bedak padat yang merata, dan lipstik merah cherry yang mengilat.

Di tengkuk Bunga, terdapat tato berwarna permanen berbentuk lingkaran. Ia juga punya tato permanen lain di salah satu lengan tangan.

Bunga menetap pada salah satu indekos eksklusif di Kota Makassar bagian barat. Kamar perseginya tersebut dipenuhi barang-barang miliknya. Empat koper berwarna merah muda ditumpuk tepat di samping pintu. Pakaiannya, menggantung di balik daun pintu. Penulis dan Bunga duduk melantai pada karpet kain sambil bersandar pada tepi tempat tidur.

Meski sudah lama menetap di Kota Daeng ini, perempuan 27 tahun yang lahir di Manado itu tak punya tempat tinggal tetap. Ia selalu berpindah-pindah indekos eksklusif.

"Kan buronan. Jadi pindah-pindahka," kata Bunga dengan centil bersambung tawa singkat.

Ia mengakui memenuhi kebutuhan hidupnya dari pekerjaannya sebagai penemani pria-pria yang membutuhkan seks dan kesepian. Bunga enggan menyebut soal tarif. Baginya, yang penting cocok dan nyaman, pasti akan dilayaninya selama itu aman.

"Saya ndak adaji tarifku. Kalau kurasa nyaman dan cocok, yah jalan. Beda caraku kalau mau minta uang," kata Bunga sambil melambaikan jemarinya kepada penulis. Ia menggenggam sebungkus rokok merek Marlboro berwarna hijau.

Selain melayani panggilan tiba-tiba melalui sosial media atau mucikarinya, Bunga lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai perempuan simpanan. Ia pernah menjadi gundik beberapa pria kaya. Melayani kebutuhan seks pria-pria beristeri yang merasa tak puas pada pelayanan isteri mereka.

Tipe dan pekerjaan pria-pria yang dilayaninya pun beranekaragam. Ada pejabat tinggi, tentara, dan juga dokter. Kebanyakan dari mereka enggan menyampaikan identitas mereka secara gamblang meski menghabiskan beberapa malam di kamar hotel bersama Bunga.

“Biasa sampai keluar daerah ka juga. Ke Jakarta, Balikpapan, Manado, Papua, dan Bali. Mauma urus Paspor biar bisa ke luar negeri,” ucap Bunga bersambung tawa lepas.

Dalam memilih pasangan yang ingin dilayani, Bunga pun masih pilih-pilih. Ia berupaya untuk menghindarkan dirinya dari narkoba. Jika dipesan seorang pria yang “mencurigakan”, Bunga tak segan-segan menghindar dan menolak. Selain itu, ia juga mewaspadai tamu yang kemungkinan besar adalah aparat hukum yang sedang menyamar.

“Kalau bilang dijebak, tidak, terjebak iya. Itu sudah beberapa kali. Kalau masalah dengan polisi, tidak pernah ji. Tapi kami pasti tahu kalau dia mau menjebak kita. Bisa dia berpura-pura sebagai tamu, atau pacar kita,” bebernya dengan tatapan tajam pada penulis.

Sebelum melanjutkan pembicaraan serius tentang perjalanannya sebagai perempuan panggilan, Bunga terlebih dahulu menyulut sebatang rokok yang kemudian dihisapnya dengan khusyuk. Ruangan kamarnya yang terang-benderang seketika dipenuhi asap. Setelah membuang beberapa kepulan asap putih dari mulutnya, Bunga mulai bercerita lagi dengan raut wajah yang datar.  

Bunga sudah mengenal kehidupan malam sejak di bangku SMA. Kehidupannya menjadi kacau sejak kedua orang tuanya bercerai saat Bunga masih SMP. Ia merasa tidak memiliki penuntun dan masuk ke lingkungan pergaulan yang salah dan liar. Memasuki SMA, Bunga sudah mengenal "om-om".

Menurut perempuan ini, penghasilan kedua orang tuanya yang telah bercerai pun lumayan. Keduanya bekerja dan sanggup penuhi keinginan Bunga dan adiknya lebih dari sekedar kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan sudah beberapa kali menempuh pendidikan dengan serius. Bahkan pernah masuk pesantren. Namun, menurutnya pemenuhan kebutuhan materi itu tidak cukup.

"Mampu ji orang tuaku. Bapaku berlayarki. Tapi butuhka penuntun biar keluar dari sini," tutur Bunga penuh emosi. Bibirnya kemudian dikulum usai membuang asap rokok lagi.

Beberapa kali terbersit dalam pikirannya untuk menjalankan kehidupan yang normal. Bunga sempat menjalani hubungan pacaran yang serius sampai bertahun-tahun. Ia bahkan beberapa tahun kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Makassar.

Sebelum mendaftar kuliah, Ia sempat melewati masa yang buruk dan kacau. Bunga sengaja mencukur habis rambut di kepalanya. Tak lama setelah itu, ia menjalankan hubungan pacaran yang serius. Bunga lalu mengenakan jilbab dan mendaftar di perguruan tinggi. Setiap hari, ia berangkat kuliah dengan jilbab, baju berlengan panjang, dan bawahan sampai mata kaki.

Selain untuk menutupi tato permanen pada lengan dan tengkuknya, setelan itu juga dipakainya untuk membuat aktivitas kuliahnya tetap normal. Ia juga enggan memamerkan kepalanya yang gundul kepada teman-teman satu kampusnya.

"Waktu kuliah dulu, normal hidupku. Ada pacarku. Saya ikuti tuntunannya. Aktivitasku; kuliah-pulang-kuliah-pulang. Saya ikuti yang tuntunka. Jarang keluar malam, jarang ketemu ‘om-om’."

Selama menempuh pendidikan, Bunga mencoba untuk tidak menutupi sisi gelap hidupnya kepada teman-teman yang dekat padanya. Ia bahkan secara jujur menyampaikan pekerjaannya tersebut kepada mereka. Bahkan, sesekali membawa beberapa teman yang tertarik untuk melihat lingkungan pekerjaannya tersebut.

Beberapa temannya terkejut saat bersama Bunga di salah satu club malam. Mereka menemukan Bunga tanpa jilbab, bermain biliar dengan lihai sambil meneguk bir dari gelas besar.

“Tidak kubatasi pergaulanku. Saya banyak ji teman-temanku anak baik-baik. Tidak akan kuajak buat ‘begitu’ kalau memang dia ‘ndak mau. Beberapa teman-temanku juga sebelumnya kuingatkan, jangan sampai mereka ndak mau dicap ndak baik karena jalan sama saya,” tutur Bunga dengan suara yang lebih nyaring. Ia kembali menarik satu batang rokok dari bungkusan.

Kuliah Bunga lama terjeda. Ia menghentikannya di tengah jalan karena masalah yang cukup serius tiba-tiba menimpa dirinya. Dengan mata berbinar, Bunga mengatakan tekadnya untuk bisa sarjana. Ia ingin mengubah jalan hidupnya yang terlanjur gelap dan suatu saat mendapatkan hidup yang layak.

“Saya menikmati hidup. Happy ji. Cuma tidak ada yang tuntunka,” kata Bunga dengan wajah yang memelas. (*)

(pernah dimuat di Rakyatku.com dengan beberapa pengubahan)

http://rakyatku.com/2016/03/13/news/wanita-malam-bernasib-malang-butuh-tangan-menarik-pulang.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan