Index Labels

Gerhana Matahari, Setelah 375 Tahun, di Usia 23 Tahun

. . Tidak ada komentar:


Begini puncak gerhana matahari di langit Makassar (9/3/2016). Foto ini diambil oleh Al Khoriah E Nugraha
Saya beruntung. Gerhana matahari kembali terjadi saat saya masih hidup, masih muda, dan masih bergairah. Meski tak melihatnya dengan maksimal, tapi saya sangat senang karena bisa melihatnya secara langsung di Makassar.  Saya merasakan suasananya. Saat terjadi tadi, cahaya matahari tiba-tiba meredup. Suhunya juga tiba-tiba tidak panas. Haha, akhirnya matahari yang biasanya angkuh dikalahkan oleh bulan, walau sesaat.

Pagi ini, setelah tidur tak lebih dari enam jam saya bangun dengan penuh semangat, mandi, mengemas kamera dan telepon genggam, kemudian bertolak ke perbatasan Makassar-Gowa.  Tempat yang saya sasar cukup seksi. Ada muara dengan tanaman eceng gondok yang mengapung, ada jembatan beton dan pepohonan di kejauhan. Yang paling penting, tak ada gedung menjulang yang menghalang matahari yang bersinar.

Sebelumnya, saya berkeinginan kuat melihat gerhana matahari di Kota Palu. Saya bahkan sudah berencana akan nekat pakai sepeda motor ke sana. Namun, karena kantor tak mengijinkan, saya mencoba bahagia menyaksikan gerhana matahari 89% di Kota Makassar. 

Saya tidak memilih Kawasan Wisata Pantai Losari untuk melihat ini. Saya tidak ingin menyaksikan keistimewaan ini di tengah keributan, keramaian, prasangka, kicauan, apalagi ceramah. Saya ingin menikmati di tempat yang sepi, biasa, dan tak banyak suara. Hitung-hitung sambil kembali mengingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam saat masih Sekolah Dasar. Ini gunanya sekolah, hehe. 

Saat menunggu bulan bergerak mendekati matahari-atau mungkin sebaliknya- saya mulai mengingat-ingat pelajaran ilmu pengetahuan alam saat masih di sekolah dasar. Kalau tidak salah, saya belajar tentang gerhana matahari saat masih duduk di bangku kelas 4. Di situ saya mengetahui bahwa peristiwa gerhana adalah hal yang wajar di alam semesta dan antariksa. Bulan berotasi dan berputar di angkasa, matahari pun demikian, begitu juga bumi dan planet-planet lain. Hanya saja, untuk melihat peristiwa ini terulang, perlu menunggu lebih lama. Apa bedanya dengan pergantian musim? Wajar. 

Ilmuwan dulu orang-orang pintar yang mempelajari pergerakan antariksa secara teliti. Mereka mencakar pergerakan matahari, bulan, dan bumi pada titik kordinatnya dan menghitung kapan matahari, bulan, dan bumi berada di satu garis. 

Hal yang aneh dari gerhana matahari mungkin jika dia justru tidak terjadi pada waktu yang telah diprediksikan. Barulah mungkin saya perlu panik dan mulai berpikir, mungkin titik poros bulan atau matahari atau bumi telah berpindah. Atau mungkin matahari telah meledak atau terbakar. Jika bulan pun terbakar, bumi juga akan segera terbakar.  Matilah kita yang ada di bumi ini. 

Gerhana matahari baru akan melintas di titik yang sama 375 tahun lagi. Bicara 375 tahun dari sekarang, bahkan cicit saya pun pasti tidak dapat. Mungkin saat itu didapat oleh generasi saya yang ke-20. Mungkin anak atau pun cucu saya yang kelak akan hidup dan besar di negeri lain di bumi ini akan beruntung berpapasan dengan peristiwa ini lagi beberapa dekade ke depan. 

Saya agak kecewa karena tak mempersiapkan ini dengan maksimal. Tadinya saya pikir bakal sanggup menatap cahaya matahari secara langsung dan menyaksikan pelan-pelan bulan menutupi cahayanya yang mahadahsyat. Ternyata, si matahari yang angkuh dan besar ini, meski jaraknya 384.400 kilometer dari bumi dan sudah ditutup bulan, tetap saja cahayanya menyilaukan dan panas. Dari sini saya belajar bahwa matahari memang tak bisa dikalahkan. 

Gerhana matahari untuk area Makassar hanya berlangsung selama dua jam, 29 menit, 13,1 detik.  Itu dimulai pukul 07:25:21.5 Wita. Puncaknya pada pukul 08:34:48.9 Wita dan berakhir pada pukul 09:54:34.5 Wita. Saya baru benar-benar melihatnya dengan jelas setelah hampir mencapai klimaks. Seorang bapak yang prihatin memperhatikan saya di tengah panas meminjamkan kacamata hitam dan helmnya. 

“Pakai ini dek. Kelihatanki. Matahari kayak bulan sabit,” katanya menawarkan dengan ramah.
Saya langsung ambil helm dan kacamata milik si bapak, kemudian mendongak. Sumpah saya mau melompat ke kanal saking girangnya. Yang saya lihat, bentuk matahari seperti bulan sabit yang terang. Awalnya setengah lingkaran, kemudian jadi seperti satu garis lengkung yang menghadap ke kiri. Ooooh, inilah yang disebut gerhana matahari. 

Saya memotret. Hasilnya biasa saja karena perangkat kamera saya tidak lengkap. Tapi apa yang saya saksikan dengan mata dan terekam pada otak saya adalah luar biasa dan membahagiakan. 

*Pesan buat anak-cucu kelak. Sebelum lihat gerhana, banyak membacalah. Mulai dari mengapa ini terjadi biar tidak salah sangka. Kemudian, ikuti perkembangan berita untuk tahu tempat yang bagus untuk melihat biar tidak salah. Lalu, pelajari apa yang perlu disiapkan biar pas lihatnya bisa puas.  

Terimakasih kepada para ilmuwan yang telah mempelajari ini dan memprediksikannya dengan tepat. 

Sungguh Allah Bapa, Engkau Maha Kuasa atas segala ciptaan-MU ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan