Index Labels

Cintaku Kandas Ditikung, eh, di Rerumputan

. . Tidak ada komentar:

Pernah dengar lagu "Cintaku Kandas Ditikung, eh, di Rerumputan"? Pernah? Saya suka, saya suka. Ini termasuk salah satu lagu Ebiet G. Ade yang menjadi andalan saya. Hentakannya enak. Meski liriknya galau, nadanya tetap asik dan tidak melo. "Vera banget".

Ngomong soal cinta. Benar, ada?? Iya ada! Cinta itu mungkin seperti si Justin Bieber dan Selena Gomez (kebetulan saya lagi terobsesi pada dua artis ini. Telat). Udah pisah, tapi bikin lagu saling sindir, saling jawab;

Justin Bieber bilang dalam lagu Love Yourself; "And I don't like to admit that I was wrong, and I've been so caught up in my job. Didn't see what's going on and I know, I'm better sleeping on my own." (Terjemahannya cari sendiri)

Terus Selena Gomez balas lewat lagu Same Old Love; "I'm so sick of that same old love, that shit, it tears me up. I'm so sick of that same old love, my body's had enough"

Eeeh, si Justin balas lagi di lagu Sorry (saya gemas); " Is it to late to say sorry? 'Cause I'm missing more than just your body. Is it too late now to say sorry? Yeah I know that I let you down, is it too late to say sorry now?"

Lihat, coba terjemahkan, terkait kan. Tapi kenapa tak balikan saja yah? Kayaknya Selena Gomez yang jual mahal. Yaiyalah, gimana Selena tidak jual mahal kalau Justin Bieber masih saja pamer foto jalan sama Hailey. Saya gemas sendiri kalau menguntit instagram dua artis Amerika ini.

Justin sama Selena cuma intermezo.

Nah, ngomong soal lagu Cintaku Kandas di Rerumputan, saya coba mendalami liriknya lebih dalam. Tepatnya bagian ini;

"Aku mulai sadar, cinta tak mungkin kukejar. Akan kutunggu, harus kutunggu, sampai saatnya giliranku."

Ini kata-kata pas "banget". Cinta atau apakah itu yang jelas dia penting sekali, tak perlu dicari. Sesuai kodrat sebagai perempuan, cukup ditunggu. Kelak, tiba pada waktunya, semesta berputar tiba-tiba, menggerakkan angin, menghilangkan sadar, menuntun langkah, eh tiba-tiba di depan mata.

Pas di depan mata, senangnya bagaimana yah?

Tulisan ini sebenarnya lahir dari galau yang panjang. Yang baca ini pernah tidak mengalami, ehm... Kayak krisis percaya diri sampai mau salto? Krisis percaya dirinya karena mungkin pada suatu masa, suatu kejadian, berdampak pada perasaan seolah "tak pantas dicintai lagi", tak akan dicintai lagi, tak akan ada yang mau lagi.

Ini saya alami setelah melewati hubungan asmara (uhuk) cinta jarak jauh selama 3 tahun 11 bulan. Saya kelewat baper sampai tak pernah pasang kuda-kuda kalau tiba-tiba kandas dengan tak rela. Hikz. Sakitnya itu loh, terbawa sampai berlarut-larut.

Yang buat saya merasa seolah tak akan dicintai siapapun lagi, yah karena mungkin saya terlalu serius sama si doi dan berpikir dia jodoh saya. Eh tau-taunya, dia melangkah pergi dengan tenang. Menggandeng gadis baru dan mencampakkan saya begitu saja. (Sekarang saya mau ambil gitar untuk nyanyi lagu Serpihan Hati dari Utopia). Sakit, loh (sok Jawa).

Saya pun termakan perasaan. Cipta lagu, bikin status di sosmed, menyapa minta penjelasan, nangis depan laptop, terus sampai ogah bangun tidur karena merasa dunia jadi tidak menarik lagi, tak ada harapan lagi. Huuuu... Ini pernah saya lewati. Siapa yang pernah patah hati, angkat tangan!

Tapi masa terpuruk itu sudah lewat gara-gara lirik lagunya om Ebiet G Ade itu. Saya pun coba memutar kembali masa-masa lalu yang tak sempat saya pikirkan. Seperti hubungan jangka pendek saya dengan beberapa pria; imigran, marinir, anggota TNI AU, lulusan hukum, wartawan, teman kuliah, teman kerja, teman satu kampung.

Ehem, beberapa di antara mereka memang mencampakkan saya, tapi tak sedikit yang juga dicampakkan oleh saya (jelek begini, saya juga suka pilih-pilih :p)

Yah begitulah, "Akan kutunggu, harus kutunggu, sampai saatnya giliranku." Sambil menunggu, saya mau bekerja, kumpul uang, liburan, senang-senang, belajar, ketemu banyak orang, memperbaiki diri, menata sikap, kemudian.... Menunggu kebaikan semesta untuk mempertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat.

*Terimakasih kepada Claudius Darma Semain yang pernah saya kasihi dengan sungguh-sungguh. Terimakasih kau pernah mengisi hari-hari saya dengan membahagiakan. Terimakasih pernah singgah dalam kurun waktu yang cukup lama dan sabar. Terimakasih untuk suara halus dan lembutmu pada tiap telepon kita tengah malam. Kau pernah bertahta dengan kuatnya di hati terdalam ini. Berkali-kali keberadaanmu berhasil singkirkan sejuta hati yang singgah untuk memiliki.

Terimakasih karena kau pernah menjadi inspirasi bagi saya untuk menyusun kisah fiksi dan puisi. Terimakasih jika memang pernah, meski sebentar, kau beri hati utuhmu itu untuk saya sendiri.

Terimakasih karena kau pergi... Semesta mungkin ingin melihat kau lebih bahagia dengan yang lain.

Terimakasih karena kau tak balik lagi... Semesta mungkin sudah sediakan seseorang yang akan lebih membahagiakan. Yang sedang menunggu di suatu perjalanan dengan sabar dan tak sadar.

Saya tutup, Dar. smile emoticon

Makassar, 25 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan