Index Labels

#BiketoToraja_Toraja Oh Toraja: Kota Misteri, Kota Kerbau

. . Tidak ada komentar:


Gua Londa, Toraja Utara


Perjalanan ke Toraja saya lakukan pada 7 Desember 2015. Saya bersama Sri Ummul Fausi melakukan perjalanan ke sana menggunakan sepeda motor metik. Berdasarkan Google Earth, untuk mencapai ibu kota Tana Toraja, Makale, dari Makassar kami menempuh jarak kurang lebih 340 kilometer. 

Dari Makassar ke Toraja, kami melewati beberapa kabupaten yakni; Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, dan Enrekang. Dari Makassar, kami berangkat pada pukul 06.30 Wita. Berangkat lebih pagi adalah keputusan terbaik demi keselamatan dan kenyamanan berkendara. Apalagi, ini perjalanan terjauh pertama kami menggunakan sepeda motor. 

Pada perjalanan ke Toraja kali ini kami beruntung karena meski sudah memasuki musim hujan, cuaca sepanjang perjalanan tampak cerah. Akses jalan juga mulus meski ada beberapa perbaikan jalan di beberapa titik jalur trans Sulawesi. Keberuntungan lain adalah, selama perjalanan kendaraan yang melintas tidak begitu padat. Cukup menekan kemungkinan kecelakaan lalulintas.

Sebelum masuk ke Kabupaten Tana Toraja, pesona bukit-bukit kecil di Kabupaten Enrekang berhasil memikat hati kami dan mengobati rasa letih. Perjalanan panjang seperti terbayar oleh keindahan alam kota yang kaya dengan hasil pertaniannya itu. Kami menyempatkan singgah untuk menyeduh kopi dan makan siang di rumah makan yang tepat berada di samping Gunung Nona. Makanan dan minuman terasa nikmat dengan sajian pemandangan alam yang luar biasa itu. 

Di belakang: Gua Nona
Gunung Nona adalah salah satu andalan dari Kabupaten Enrekang. Nama lainnya adalah Gunung Buntu Kabobong. Mengapa namanya Gunung Nona? Dari segi visual, lengkungan dua gunung kembar itu serupa vagina. Konon hal tersebut baru disadari setelah seorang turis mancanegara yang menyampaikannya beberapa tahun silam. Terus terang, informasi ini saya dapat dari Sri Ummul Fausi (hehe). 

“Saya juga tau dari salah satu kelas tentang tour dan guide saat SMA,” kata Ummul.
            
           Dua jam rehat, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Toraja. Kabupaten Enrekang termasuk daerah yang luas dan berbukit. Banyak jalan menikung yang kami lewati. Hampir pukul 15.00 Wita, saat kami sampai di gerbang masuk Kabupaten Tana Toraja. 

Gua Londa
Saya dan Tana Toraja
                Atap rumah penduduk asli Tana Toraja dilengkapi dengan tongkonan. Ini menjadi ciri khas daerah “Rambu Solo” itu. Dulunya, mata pencaharian sebagian besar warga di sana adalah bertani. Kami menemukan sawah dimana-mana. Kerbau dan sapi juga menghias daerah ini. 

Toraja pun dibagi dalam dua kabupaten yakni Kabupaten Tana Toraja dengan ibu kota Makale dan kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Suhu di daerah Toraja juga tak begitu dingin. Intensitas hujan lebih sering di Rantepao dibandingkan Makale.

Memasuki area kota Makale, kami melihat patung Yesus Kristus yang berdiri tegap sembari merentangkan dua tangannya di atas bukit. Pemerintah setempat menamakannya “Patung Kudus”. Patung ini mirip patung Yesus di Rio De Jenerio, Brasil.  Kini, patung ini menjadi salah satu andalan dari Kabupaten Tana Toraja.

Sedangkan Toraja Utara, di Kota Rantepao terdapat salib raksasa bersama tulisan “Toraja Utara” di atas bukit. Sebagai daerah dengan pemeluk agama Kristen paling banyak, memang sangat mudah menemukan gereja-gereja di Toraja. Meski begitu, ada juga masjid dan tempat ibadah agama non Kristiani. 

Pemakaman Orang Mati yang Unik

Keunikan lain dari Toraja adalah adat-istiadatnya. Upacara Rambu Solo adalah salah satu prosesi adat Toraja yang telah mendunia. Rambu Solo adalah upacara khusus bagi orang Toraja yang meninggal. Upacara Rambu Solo terkenal karena kesakralannya.
Gua Londa

Saat ke Toraja, kami tidak sempat menyaksikan upacara tersebut. Kami hanya mengunjungi tempat pemakaman orang Toraja yakni Gua Londa dan Ketekesu. Dua tempat ini terletak di Kabupaten Toraja Utara.

Gua Londa adalah makam khusus untuk keluarga dan keturunan Tolengke. Makam ini telah digunakan berabad-abad lamanya. Saat menelusuri gua ini, kami dipandu salah seorang keturunan Tolengke bernama Fadly. Remaja ini menuntun kami mengelilingi gua menggunakan lampu sambil menjelaskan segala sesuatu tentang makam leluhurnya tersebut.

Memasuki mulut gua, kami dikejutkan oleh tengkorak-tengkorak manusia yang dipajang di dinding gua. Beberapa tulang-belulang manusia juga tampak seperti berserakan di sekitar gua. Cara pemakaman kaum ini memang tidak dilakukan pada liang lahat. Mereka langsung dimasukkan ke dalam gua bersama peti mayatnya.

“Supaya tidak berbau, mayatnya disuntikkan pengawet,” kata Fadly.
Ketekesu

Di dalam Gua Londa, saya menemukan peti-peti mayat yang menua dan rapuh. Ada juga yang masih baru dan utuh. Pihak keluarga bahkan sengaja menutup peti mayat menggunakan kain brokat. Uang-uang koin dan puntung rokok juga menumpuk di sekitar rangka dan tengkorak.

Saya dan seorang teman bernama Rizal menyempatkan waktu untuk memotret salah satu peti mayat rapuh yang didalamnya terdapat tengkorak yang masih menggunakan topi. Tubuh rangka manusia tersebut memang sudah tidak utuh, namun topi kain yang dipakainya masih menempel di tengkorak. Saya memberi kesimpulan bahwa rangka tersebut adalah milik seorang pria karena ada banyak  puntung rokok.

Setelah dari Gua Londa, kami melanjutkan perjalanan ke Ketekesu. Ke tempat ini, kami ditemani Kabid Humas Polda Sulselbar Komisaris Besar Frans Barung Mangera. Ketekesu juga tempat pemakaman kuno keluarga Toraja yang serupa dengan Gua Londa. Bedanya, di area Ketekesu, terdapat deretan tongkonan yang bisa digunakan untuk istirahat bagi pengunjung.
Foto bersama Kabid Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera dan rekan jurnalis di Ketekesu

Sama seperti Gua Londa, di gua Ketekesu terdapat tulang-belulang dan tengkorak yang terlihat berserakan dimana-mana. Bahkan ada yang menumpuk pada liang. Tulang-belulang tersebut berwarna putih bersih. Saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memotret bersama benda-benda tersebut.

Kerbau, Miliaran Rupiah!

Selain upacara pemakaman dan makamnya yang unik, Toraja juga terkenal karena penghargaan besarnya terhadap kerbau atau dalam bahasa Toraja disebut Tedong. Di daerah ini, harga kerbau bisa mencapai angka miliaran rupiah. Apalagi kerbau berbulu putih.

Selain kerbau, sempatkan untuk menyeruput seduhan kopi khas Toraja. Rasanya sudah berhasil membuat jatuh cinta para pecinta kopi sampai keluar negeri. Bilaperlu, rogoh kocek untuk membeli beberapa biji kopi khas Toraja agar bisa dibawa pulang. Jangan lupa, anyaman dan tenunan Toraja juga punya ciri khas tersendiri  sehingga bisa dijadikan souvenir sebagai ole-ole dan kenang-kenangan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan