Index Labels

(Terpidana Narkoba) Ternyata Tiga Serangkai

. . Tidak ada komentar:
Hanya Ilustrasi
Ini seperti studi kasus yang rumit, misterius tapi menggairahkan.

Penelusuran jaringan pengedaran narkoba yang pelik di Makassar. Lebih luasnya di Sulawesi Selatan.

Baru-baru informasi mengejutkan bagi saya (dilihat dari sudut pandang warga biasa) saat seorang terpidana mati, Amir Aco kedapatan menyimpan 76 gram sabu-sabu di dalam rumah tahanan. Sabu-sabunya sudah siap edar.

Dibungkus dalam kemasan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran ekonomis yang dijual dengan harga kisaran Rp 150.000,- setiap bungkusnya, sampai ke ukuran seharga puluhan juta rupiah. Tidak hanya sabu-sabu, ada juga alat isap yakni bong dan pirex.

Penyelundupan yang rapi dan hebat, saya kira. Institusi hukum seperti tercoreng. Bagaimana tidak, di kandangnya sendiri, pelanggaran hukum besar berhasil lolos dengan aman. Bagaimana yang di bukan kandangnya? Tampaknya kebabablasan yang luar biasa.

Semakin diselidiki, kasus ini semakin menarik. BNNP Sulsel kembali menggelandang dua terpidana narkoba lain dari rutan yang sama. Keduanya, jaringan yang sama. Tidak terduga.

Terpidana pertama, adalah pemuda berusia 21 tahun. Namanya Junior. Yang kedua, terpidana yang dijatuhi pasal ringan, tapi ternyata si pemilik barang, Tiong.

Saya pernah bertemu Junior pada bulan Mei lalu saat dia ditangkap anggota Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar. Waktu itu, dia ditangkap karena kedapatan memiliki 1,1 kg sabu-sabu di indekosnya. Junior yang saya wawancara langsung, berpura-pura lugu. Menunduk takut sambil menjawab. Katanya baru setahun bekerja sebagai kurir narkoba. Dua kali mengambil barang di pelabuhan. Sekali ambil, dapat upah Rp 1.000.000,-.

Sedangkan Tiong, ditangkap dengan sabu-sabu hanya satu bungkus kecil. Polisi memang curiga dia seorang "pemain lama", tapi karena tak cukup bukti menjeratnya sebagai bandar, kasusnya di-P21 dengan pasal pemakai dan memiliki barang.

Sebelumnya, tak banyak yang tau hubungan ketiga terpidana yang ditangkap terpisah pada waktu dan tempat berbeda. Ini baru terungkap setelah ditemukan penyelundupan sabu-sabu di dalam rutan oleh seorang terpidana mati.

Tiong adalah pemilik barang, Junior adalah kurir yang membawa barang dan si Amir Aco yang menjadi pengedar.
Entah diedarkan kemana. Apakah hanya di sekitar rutan, atau juga sampai keluar rutan. Wah, luar biasa jika pengedaran narkoba di Makassar justru dikendalikan dari dalam ruang terkunci yang dijaga ketat dan penuh senjata. Siapa yang membawanya masuk dan keluar? (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan