Index Labels

Makna Seunit (dibaca: seorang) LuckPay

. . 2 komentar:
Saya pertegas lagi. Namanya LuckPay dengan kepanjangan Lucky and Pray. Yah benar, dia ada karena keberuntungan dan doa.

LuckPay dibeli pada awal tahun 2014. Tahun yang saya klaim sebagai tahun keberuntungan bagi saya. Dia dibeli dengan uang beasiswa yang saya terima dari Kopertis. Kehadirannya buat segala sesuatu dalam hidup saya berubah.

Saya ingat, waktu itu saya terima beasiswanya pada bulan Desember 2013. Nilainya Rp2,1 juta. Karena jumlahnya sedikit, saya pesimis bakal mendapat sepeda motor bekas dengan nilai segitu. Uangnya kemudian saya pakai untuk jajan. Dalam kurun waktu satu minggu, habis Rp300 ribu
.
Di rekening tersisa Rp1,9 juta rupiah saat saya menghadiri kuliah kak Buyung Maksum di Kantor Redaksi Harian Fajar. Waktu itu saya masih mahasiswa biasa. Masih bergantung pada teman untuk dibonceng.
Kak Buyung membagikan beberapa lembar koran hari itu pada kami. Kebetulan saya dapat bagian yang ada iklan barisnya. Saya iseng melihat-lihat di kolom sepeda motor. Di sana terdapat iklan "LuckPay", pengiklan menawarkan harga Rp1,9 juta . Masih mulus dan surat lengkap, katanya. Saya girang kemudian segera mencatat nomor telepon dan alamat lengkap. 

Tidak jauh.... Tidak jauh... Di Macini saja. 

Sorenya, ditemani tiga teman saya menuju rumah pengiklan. LuckPay yang belum bernama terparkir di teras rumah. Sejak pertama saya langsung jatuh cinta. Kemudian saya beli dengan sedikit tawaran menjadi Rp1.850.000,00. Lumayan, masih ada Rp50 ribu untuk beli bensin.

LuckPay langsung saya beri nama setelah itu. Kondisinya masih rapuh. Knalpotnya bocor dan kampas koplingnya nyaris habis. Saya harus memanaskan mesinnya selama setengah jam sebelum membawanya keluar. Jika tidak, terpaksa dikendarai dengan pelan karena ia tak mau melaju cepat sebelum benar-benar panas.

LuckPay pun mengisi hari-hari saya. Mengantar kemana pun saya mau. Saya tak perlu merepotkan teman-teman lagi. 

 ***
Saya lupa sampaikan bahwa saat LuckPay sudah dibeli, keluarga di Labuan Bajo kurang setuju. Bapa ragu-ragu dan anggap saya bodoh.

"Aduh, kau kok bodoh beli motor jelek. Nanti rusak-rusak," kata Bapa.
"Pokoknya jual lagi! Nanti kau kecelakaan di sana siapa mau urus??" tegas Mama.


Saya gunakan pembenaran untuk menjawab kedua orang ini. Untuk Bapa, saya bilang LuckPay masih baik, malah masih bisa stater tangan. Kalau Mama, saya bilang saya sudah jago bawa sepeda motor, gimana mau kecelakaan? Lagian, sepeda motornya bisa sangat membantu saya kemana saja tanpa merepotkan orang lain.

Lambat laun, mereka pun setuju. 

LuckPay tak sehat. Setelah me-las knalpotnya, kampas koplingnya selalu menjadi masalah. Saya harus menahan malu dari pandangan tetangga yang memandang prihatin saat LuckPay saya bawa keluar. Jalannya pelan, meskipun saya menarik gas penuh dan terdengar bunyi seperti motor cros. 

Di kampus, sering sekali saya dibully. Teman-teman menertawakan sepeda motor saya yang kuno dan berdebu. Bahkan, LuckPay terkadang dikerjai.

Namun, lagi-lagi, lambat laun dia diterima di kampus dan beberapa orang tak menggubris lagi jika ia terparkir di antara puluhan sepeda motor modern yang ada di tempat parkir kampus. Malah, ia jadi lebih terkenal dari saya. Jika kami berdua lewat, teman-teman malah lebih menyapa LuckPay dibandingkan saya.
LuckPay beberapa kali masuk bengkel. Pernah juga buat saya hampir menangis darah. Selalu ada masalah pada busi dan kampas kopling. Namun, suatu hari yang baik, saya mampir pada sebuah bengkel biasa. Berkat tangan montir yang hebat, LuckPay membaik. Saya malah tak perlu memanaskannya selama beberapa menit sebelum mengendarainya. Jalannya lancar. 

LuckPay pun mengantar saya kemanapun saya mau. Kami bahkan tak pernah ditilang polisi. Jika malam saya kesepian di rumah, kami jalan berdua. Soal ketakutan pada begal atau perampok? Akh, tidak sama sekali! Dia bukan tipe sepeda motor yang bisa dijadikan calon mangsa bagi pelaku kriminal. 

Saya bahkan membaptisnya menjadi Katolik. Kalau ke gereja, selalu saya sisakan air berkat di kelima jari tangan saya untuk diseka di kepalanya. Saya bahkan beberapa kali bilang pada Yesus dan Bunda Maria, betapa beruntungnya saya memiliki LuckPay. "Jaga dia, sehatkan dia!"

LuckPay pun sudah seperti teman curhat. Saya sering bicara padanya. Cerita apa saja yang saya mau. Tentang keluarga, orang tua, orang yang saya suka dan orang yang tidak saya suka. Kami juga punya ritual khusus kalau bersama. Tapi itu rahasia

***

Ok, soal ritual saya dan LuckPay yang hanya menjadi rahasia kami berdua. Memang rahasia, karena kalau diberitahu, pembaca pasti tertawa dan berpikir saya sudah gila. 

LuckPay benar-benar berguna saat saya akhirnya memutuskan pindah tempat tinggal. Jarak indekos baru dengan kampus kurang lebih satu kilometer (*nyaris menulis "kilogram"). Saya mendapat indekos yang lebih murah. Kebetulan Erang sudah masuk kuliah saat itu, jadi saya bisa meringankan sedikit beban keluarga dengan merelakan diri menempati indekos yang lebih sederhana. 

Tempatnya sangat biasa dan sederhana. Tapi sangat bagus karena terdiri dari tiga ruangan yakni ruang tamu (yang kini saya jadikan ruang kerja dan ruang belajar), kamar (tempat kasur dan lemari pakaian) dan dapur (perabotan makan, pakaian kotor dan barang tidak pakai ada di situ). Nah, saya memang tak suka jika tamu datang dan langsung di "kamar". Ruang tamu sangat bagus dan pilihan tepat. Saya suka jendelanya. Kaca polos yang besaaaaaar..... 

Saat mendapat indekos ini, saya merasa sedang dilimpahkan rejeki. Bayangkan, rejeki pertama dapat beasiswa, rejeki kedua dapat sepeda motor yang keren nan murah dan berguna, rejeki ke tiga dapat indekos yang ruang tamunya bisa dipakai main bola. Betapa baiknya semesta. 

Setelah pindah indekos, saya mulai berkreasi pada ruangan-ruangan baru seperti biasa. Kali ini dibantu LuckPay. Kami mulai mendekorasi rumah. Tentu saja LuckPay terlibat karena dia yang mengantar saya membeli segala perlengkapan. Termasuk membeli kain katun bermotif bunga-bungaan berwarna biru yang kini menjadi gorden jahitan tangan sendiri. 

Beres dengan rumah baru, giliran LuckPay yang perlu dihias. Saya menempelkan namanya menggunakan scotlight warna biru dan merah pada mesin sebelah kanan. Hurufnya saya bentuk sendiri. Kalau tidak percaya, saya punya bukti videonya yang direkam kak Udin. Setelah itu, saya rasa LuckPay semakin istimewa. Setiap hari, saat ke kampus kami menempuh sekitar 1 kilometer perjalanan dengan ceria. Sepanjang perjalanan ke kampus, saya mengajaknya cerita. Kadang-kadang saja saya diam seribu bahasa dan mendengar bunyi mesinnya meraung-raung. 

BERSAMBUNG YAAAH...

2 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan