Index Labels

(Martabat Perempuan dan Harga Diri Ayahnya) (2) Perempuan di Balik Cadar

. . 2 komentar:
Sorga 01, Karya Ruslan Muhammad
Sumber: Facebook

Seorang perempuan bercadar membuat panik sebagian warga di salah satu dusun, Kecamatan Panakkukang, beberapa waktu lalu. Ia naik ke puncak masjid, hendak melompat dengan nekat. Berharap suaminya datang membantu, merasa kasihan dan berubah pikiran untuk menceraikannya.
Beruntung, polisi segera datang dan menyelamatkannya.
Saya bertemu dengannya beberapa jam setelah kejadian. Kami bertemu di kantor polisi. Kesan saya padanya adalah, dia mengenakan celana training-di balik jubah hitam, yang sama dengan punya saya di rumah. Saya tak bisa melupakan ini selain matanya yang agak merah. Saya tak melihat kulit lain selain tangan dan sekitar matanya.
Tiga orang pria mengerumuni perempuan itu. Mereka menahan saya saat saya mencoba berbincang pada perempuan tersebut. Mereka melarang. Menuduh saya hendak mencari kesempatan atas permasalahan yang sedang dihadapi perempuan tersebut.
"Saya tau, anda mau mengejar bayaran. Mending ini tidak usah diberitakan dulu!" kata pria berjanggut yang memakai pakaian berwarna cokelat muda. Saya tersinggung.
"Maaf, bapak sama sekali tidak punya hak untuk mengatur saya. Wartawan pun digaji oleh perusahaannya," jawab saya ketus dengan tetap menatap mata pria tersebut dengan tajam. Dia tampak menyerah dan saya tak takut saat itu.
Saya lalu mengajak perempuan itu bercerita. Ketiga pria tersebut beberapa kali menyela perbincangan kami. Perempuan bercadar itu bilang, dia berasal dari Papua dan menikah dengan seorang pria Makassar. Pernikahan mereka kandas karena permasalah "tempat tidur".
"Saya waktu itu menolak layani suami saya karena sakit," beritahu dia. Saya berpikir, itu memang haknya.
Karena menolak, suaminya kemudian bertindak kasar dan memukul. Ia diceraikan dan diusir. Perempuan itu menolak, berharap suaminya melunak. Setelah beberapa hari pisah, ia nekat mencari perhatian suaminya dengan naik ke atap masjid untuk meloncat.
"Saya tidak apa-apa diceraikan. Tapi saya perlu bicara sama bapak saya di Papua biar mereka jemput saya di sini," kata perempuan itu pada saya kemudian.
Saya kemudian bertanya bagaimana caranya menemukan ayahnya, dia menggeleng bingung. Dia sudah putus komunikasi dengan keluarganya dalam waktu yang lama.
Pria berbaju cokelat berbicara pada saya lagi. Matanya sudah tak setajam di awal.
"Tidak apa-apa ji. Kami mau bantu dia karena sudah anggap seperti keluarga. Kalau ibu tidak akan menulis tentang ini saya yakin suaminya akan kembali."
Saya diam sesaat, menimbang apa yang pria tersebut katakan.
"Tidak usah pak. Saya mau pulang. Bapak tenang saja karena saya pasti akan penuhi janji saya," perempuan bercadar tersebut tiba-tiba angkat suara.
Saya berbalik pada perempuan itu, bertanya soal "janji" seperti apa yang ia maksud. Ia menggeleng, menolak menjawab pertanyaan terakhir saya.
MAKASSAR, 6 JUNI 2015

2 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan