Index Labels

Tutup, Pada Rambut-Rambut Basah

. . Tidak ada komentar:
Sudah bukan rahasia bahwa kaulah orangnya. Aku melepas rasa penasaran dengan pengakuan pengecut lewat seorang teman. Kucoba utarakan lewat jembatan. Ingin tahu reaksi dan balasan. Aku tak begitu shock saat jawaban singkat itu keluar.

"Maaf tidak bisa. Ada yang saya dekati."

Ini tak sesakit saat mendengar pengakuan sang mantan tentang pacar barunya yang di dekat sana. Aku terpaku sebentar menatap mataku sendiri yang memantul di cermin. Ada ringisan samar yang keluar dari wajahku di atas bantal. Tak sakit, aneh, sungguh, hanya malu!

"Maaf tidak bisa..." 

Kukira ini bentuk respons yang ganjil. Kucoba telaah, adakah pernyataan sang jembatan salah? Seolah-olah, pengakuan bertujuan untuk memiliki. Kukira tidak.

Aku bahkan tak begitu rindu. Meski secercah kenangan kebersamaan singkat pada beberapa malam lalu-lalu. Waktu itu, saat kupikir kau pun membutuhkan kehadiranku di bangku kayu itu bersamamu. Aku hanya mengira-ngira, sampai memikirkannya, terobsesi dan malu sendiri karena tebakan yang salah. Bahkan, menebak rasaku yang naif pun, aku salah besar.

Kukira rasaku ini sungguh naif. Tak melalui pertimbangan dan perasaan panjang. Berawal dari kutulis begitu saja pada dinding facebook, path, instagram dan twitter dengan melabelimu "Rambut-Rambut Basah". Terlalu sering ingin kutulis, terlalu besar penasaran yang kutuai. Aku dikejar pertanyaan, adakah kau sadar? Jadilah pengakuan kekanakkan yang buru-buru dan membuat segala sesuatu menjadi begitu konyol.

Buntutnya aku malu.
Menjauh tanpa rindu.
Tak membenci, sama sekali.

Aku hanya menyesali keakraban yang berubah bagai orang asing lagi. Tak ada tawa seru bersama lagi, tak ada foto-foto bersama lagi dan tak ada malam yang panjang bersama lagi. Kita jadi seperti tak pernah saling mengenal sama seperti setahun lalu, enam bulan lalu atau dua tahun lalu. Aku menjauh. Memperbaiki segala sesuatu yang telah kurusak selama begitu terobsesi pada bayang-bayang mayamu.

Kupastikan akan kembali suatu saat jika aku keliru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan