Index Labels

Surat Cinta untuk Abdur Arsyad

. . 2 komentar:
Makassar.
Pertama kali ketemu Abdur di Anjungan Pantai Losari

Halo Abdur. Salam Flores dari Kota terbesar di Indonesia Timur ini. Hingga menulis surat cinta via blog ini, saya masih pengagum setia Abdur yang kokoh. Saya tetap tak bisa lupakan seluruh penampilan Abdur selama di SUCI 4. Abdur enerjik, apa adanya, materinya cerdas,
dan "lucu kering". Video-video yang saya unduh dari Youtube masih tersimpan baik di laptop Bapa saya di Manggarai Barat.

Saya kadang-kadang mampir pada blog Abdur di anaklamakera.wordpress.com. Tampaknya blog tersebut terlantar setelah 5 Juli 2014. Tampaknya kesibukan Abdur begitu padat setelah lolos dari Grand Final. Beberapa tulisannya saya baca, saya sempat berpikir kenapa bisa secerdas itu,  

Mungkinkah mama dan bapa kak Abdur sejak kecil beri sarapan tumbukkan buku tulis dan pulpen pada Abdur?

Tadi saya sudah tertidur pulas usai menyelesaikan seluruh berita penugasan dari redaksi. Seorang teman menelepon dan menyuruh saya segera ke kantor karena akan disambangi Abdur dan kawan-kawan. Dengan tancap gas tanpa sempat cuci muka, saya menuju kantor. Saya sungguh menelan "pil pahit" saat seorang rekan jurnalis  menyampaikan prihal batalnya kehadiran Abdur di ruang redaksi Harian Fajar.

"Mereka capeh. Abdur dan panitia tadi sempat bilang iya." Begitu kata teman saya yang bertugas meliput acara Rule Of  Three Makassar di lantai satu Graha Pena.

Dari tiga puntung ini, yang manakah rokok Abdur?
Saya tidak beruntung hari ini. Tadi saat tiba di Graha Pena Abdur bahkan sempat duduk bersama rekan kerja saya yang lain di teras depan sambil merokok. Saya datang dan hanya menemukan batang rokok sisa Abdur yang ada di tempat sampah. Saya tidak bisa masuk karena tidak punya tiket (saya ketinggalan informasi soal tiket). Jadi saya menunggu sampai satu jam lebih di samping tempat sampah tempat Abdur membuang sisa rokoknya. Saya mengira acaranya akan selesai pada pukul lima sore. Ternyata lebih lama. Makanya saya pulang dengan menelan kecewa kemudian tertidur setelah berpikir tak mungkin bertemu Abdur hari ini.

Saya sempat berpikir andai Abdur bisa "diculik" dengan mudah. Saya akan membawanya pergi menggunakan skuter saya yang dekil. Saya mungkin akan menunjukkan Galery Seni Rupa di kawasan Pantai Losari. Minimarket Circkle K tak jauh dari situ jadi kami bisa sambil mengemasi kopi hangat untuk diminum di atap Galery. Di atasnya, kita bisa bercerita banyak. Itu tempat andalan saya. Tak tau mengapa, saya menebak Abdur juga akan suka tempat tersebut. Akh, kita tak begitu akrab. Hanya sekali bertemu di Losari waktu itu, Abdur bahkan belum mengikuti balik akun twitter saya.

Saya gembira bukan kepalang (sampai-sampai menitikkan air mata, T_T) saat Abdur membalas twitter saya malam ini;

"@vera_bahali andai diri mampu membelah dalam himpitnya detik. Jubah yang kau maksud adalah compang yang kupakai."

Yah, saya tahu dia sangat rendah hati seperti yang tersirat pada tulisan-tulisannya di blog.  Betapa Semesta mencintainya. Saya berdoa semoga Abdur selalu mendapatkan yang terbaik. Semoga Tuhan mengabulkan seluruh doa dan cita-citanya.

Semoga Abdur bahagia...

Dengan Penuh Cinta
Dari Pulau Bunga  

Vera Bahali     
(*duabelas dikurangi delapan sama dengan empat. Balaslah jika sempat) 

2 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan