Index Labels

Pengerjaan Phinisi, Jadi Sumber Inspirasi

. . Tidak ada komentar:
"ETOS" karya Faisal Syarif
*Finalis Asal Sulsel, Faisal Syarif yang Lolos Mandiri Art Awards

Faisal Syarief, duduk pada sofa berwarna cokelat di teras rumahnya yang teduh di Kompleks Jongaya Indah. Ia sedang mengutak-atik laptop untuk mengerjakan konsep tertulis lukisannya berjudul "Etos" yang sudah dibawa ke Jakarta pada Maret lalu. Di meja kaca yang letaknya rendah itu, terdapat buku bersampul kuning dengan judul "Show Your Work" ditulis Austin Leon. Pada dinding teras rumahnya, terdapat lukisan cat minyak yang terpampang. Lebarnya lebih dari satu meter. Di sisi lain, terdapat juga lukisan yang belum tuntas, dipajang lepas dekat tempat parkiran sepeda motor.

Ical, begitu perupa kelahiran 15 Oktober 1978 akrab disapa menampilkan senyum mengembang. Ia baru saja semalam kembali ke rumah setelah mendengar secara langsung pengumuman Finalis Kompetisi Mandiri Art Award, pada Minggu, 26 April, di Jakarta. Ia pulang dengan bangga, karena dari 1075 karya yang masuk ke dewan juri, karyanya yang berjudul Etos dengan ukuran 135 cm X 185 cm lolos ke grand final. Ical baru saja melewati persaingan dengan 1013 seniman dari seluruh Indonesia. Namanya tercantum di urutan ke 21 dari 47 karya lukisan yang lolo
s ke babak berikut.

Secara visual, lukisan Etos menggambarkan gerombolan orang yang tengah bekerja keras. Untuk membangun visual karya tersebut, Ical banyak memakai warna yang agak gelap yakni cokelat, abu-abu dan hitam. Ical secara pribadi tertarik dengan salah satu ikon budaya Sulsel yang menurutnya mampu kokoh dan menembus jaman ini.

"Saya pribadi melihat Phinisi itu tidak dibuat dengan metode yang umum, tapi ada sesuatu yang lain yang mereka pahami. Itu dia nilai-nilai penghayatan hidup yang mereka anut pada saat proses pengerjaan. Etos kerjanya itu yang saya pikir cukup menarik diangkat. Makanya saya ingin membuat lukisan Phinisi secara berseri. Saya mencoba menggali nilai kearifan yang mereka miliki sehingga dia masih relevan hingga jaman sekarang," kata Ical penuh semangat.

Di lukisannya tersebut, tampak gambar awan kelabu yang pekat di langit. Dengan semangat, Ical mengatakan lukisan Etos merupakan penggambaran proses pengerjaan kapal Phinisi yang dilakukan dengan kerja keras, penuh penghayatan, dan tak mengenal waktu. Dari lukisan Etos, Ical ingin menciptakan kesan kedekatan bagi yang melihat seolah tengah berada di atas kapal Phinisi yang tengah dikerjakan.

Gagasan menggambarkan budaya dari Kabupaten Bulukumba lewat karya lukis itu muncul lama sebelum adanya kompetisi Mandiri Art Award. Saat mendengar adanya kompetisi tersebut, Ical menumpahkan niatnya melukis tentang Kapal Phinisi untuk ikut ambil bagian pada kompetisi nasional. Tekadnya tanpa patah semangat. Meski begitu, Ical mendapat banyak tantangan mulai dari proses melukis hingga pengiriman lukisan ke panitia acara di Jakarta.

Untuk melukis Etos yang ukurannya 135 cm X 185 cm, Ical kurang mendapat tempat yang luas dan memadai. Ia terpaksa harus menyelesaikan lukisannya di teras rumahnya yang sempit. Namun, konsentrasinya kerap terganggu. Ical selalu berupaya untuk terjaga di malam hari untuk melukis, saat aktivitas di rumahnya terhenti.

"Saat selesai pun, jadwal pengiriman foto lukisan sudah deadline. Saat itu selesai di tanggal terakhir. Waktu itu email tidak bisa masuk meski sudah saya ulangi berkali-kali. Untungnya bisa. Begitu juga saat pengiriman lukisannya, saya terpaksa gulung kanvas lukisan saya dan terbang ke Jakarta. Waktu itu, jasa pengiriman barang menolak," lanjut Ical.

Ical mengaku, selama proses pengerjaan hingga pengiriman lukisan yang penuh tantangan itu, ia sama sekali tak pernah merasa putus asa. Namun di samping itu, meskipun menjadi satu-satunya perupa Sulsel yang lolos pada kompetisi nasional ini, baginya prestasi tersebut ibarat mencapai satu titik pada pijakan perkembangan seni rupa di Sulsel.

"Saya merasa keberhasilan ini seperti ada suatu titik yang selesai dan siap-siap untuk menuju titik berikutnya. Harapan saya, dengan ini seni rupa Makassar bisa sejajar dengan daerah lain yang lebih matang," tutup Ical. (*)



(Dimuat di Harian Fajar Makassar, 1 Mei 2015 dengan beberapa pengubahan)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan