Index Labels

(Martabat Perempuan dan Harga Diri Ayahnya) (1) Remaja Bermata Bola

. . Tidak ada komentar:

Matanya cantik. Itu kesan pertama saat saya bertemu Apel (bukan nama sebenarnya). Dia baru saja menginjak usia 14 tahun. Bibirnya mengembang penuh berwarna merah jambu. Dahinya agak tinggi, bulu matanya lentik, gigi susunya tersusun rapi dengan dua taring berujung lancip. Pertama bersua dengannya, ia tengah duduk bersandar pada kursi di hadapan meja panjang berpelitur imitasi. Matanya mengawasi saya yang tiba-tiba mendatangi dia dan menyapa ramah. Saya menilai, dia menyimpan curiga pada saya.
Saya membujuknya ikut. Menggiringnya pada ruang sempit tempat dimana hanya ada dua kursi yang dipisahkan meja lebar. Sejak menuntunnya ke ruangan itu, tetap saja ia menatap saya dengan curiga, bergerak dengan hati-hati dan setiap detik terlihat seperti hendak lari. Saya mengulas senyum, berusaha mengulum bibir dengan tulus. Sesaat saya mengagumi sorot tajam penuh hati-hati dari matanya.

"Cantik."

Apel duduk dengan tidak nyaman. Saya menatapnya dengan lembut. Ada rasa kasihan, ada kemarahan dan ada tuntutan pekerjaan. Saya benar-benar ingin mendengar ceritanya secara langsung. Gadis di hadapan saya ini, badannya masih sangat kecil. Ukuran rahimnya juga pasti belum seberapa. Saya yakin buah dadanyapun sementara dalam masa revolusi jelang ukuran pas pemudi. Belum ada bra yang ukuran pas untuk dadanya. Meski terpaksa dewasa dini, caranya menggenggam segala sesuatu tak menutup kepolosan layaknya remaja pada umumnya. Saya ingat, usia 14 tahun silam, saya masih berlarian di lapangan sekolah dan bermain lompat tali.

Apel menjawab beberapa pertanyaan saya. Sesekali menjawab dengan tegas dan langsung. Ada yang dipikirkannya beberapa detik. Ada juga yang tak dijawabnya sama sekali-dengan berupaya mengalihkan pertanyaan saya dengan berpura-pura minta air minum. Sebuah penilaian muncul di benak saya. Dia cerdas, yah cerdas. Jika salah digunakan kemungkinan besar dia akan jadi perempuan licik.

Apel korban asusila. Fatalnya lagi, eksploitasi seks. Lebih parahnya lagi, traficking. Dia mungkin masih terlalu muda untuk paham betapa "hancurnya" dia. Dia belum banyak membaca untuk tahu bahwa masa depannya masih panjang dan dia masih sangat muda. Dia mestinya masih bisa ke sekolah, belajar Bahasa Indonesia dan matematika di tingkat SMP. Dia perlu merasakan gejolak manis yang sopan saat jatuh cinta, cinta monyet, seperti yang juga pernah saya rasakan dulu. Apel tampaknya tak punya kesempatan merasakan manisnya masa SMA, mabuk pada ciuman pertama dengan pria sebaya, kemudian lulus dan memikirkan kuliah atau kerja.

Sial, sanak saudara dan tetangga terlanjur memasang telinga. Habislah Apel jika tak segera diungsikan jauh. Menepi untuk netralisasikan segala sesuatu. Jika ia pulih, bisa kembali. Akh, bila perlu tak usah kembali.
Saya sempat berpikir, mungkinkah Apel "sembuh"? Dengan segala sesuatu yang sudah terjadi. Ratusan pria mungkin, usia jauh lebih tua darinya. Memperlakukannya dengan rakus. Andai bisa saya lihat, saya ingin melihat matanya saat diperlakukan "begitu". Apa tetap sebulat itu? Menikmati? Pasrah? atau merintih sakit? Apel yang malang.

Akhir perbincangan kami saat ia tiba-tiba terjatuh dari kursi. Badannya terkulas lemas begitu saja. Matanya terpejam. Saya lihat kelopak matanya gemetar. Ayahnya datang menanggapi panggilan panik saya. Mengguncang kepala putrinya di atas pahanya. Apel tersadar setelah beberapa saat. Ia membalas tatapan ayahnya. Masih dengan bola mata besarnya yang terlihat belum sepenuhnya sadar.

Setelah ayahnya berbalik untuk menyahut, kelopak matanya layu. Matanya berpindah tak fokus ke arah kiri. Ia membenam tenang pada paha ayahnya. Tampak menikmati, tampak nyaman.
Makassar, 11 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan