Index Labels

Mereka Marah

. . Tidak ada komentar:
(kiri ke kanan) Rais Sahabu, Andri Resky, Reinhard Soplantila, Idho Deryck, Andiz Sulhar, Vincent Waldy

Pasukan Kerung, Pejuang di Larut Malam (8)

Ini tengah malam dan sudah berganti hari. Saya tak sedang bersama Pasukan Kerung. Saya sedang duduk di ruang kantor sambil mendengar musik dari Band Ungu yang diputar seorang rekan kerja yang duduk tidak jauh di depan saya.

Apa yang Pasukan Kerung lakukan sekarang?

Saya menduga mungkin sedang duduk di teras warung Mami. Hujan di luar tak pernah buat mereka gentar untuk menunggu taruna. Ada banyak kemungkinan peristiwa yang terjadi saat begini. Bisa saja pohon tumbang, pembegal yang mencari kesempatan dan kecelakaan yang berujung maut. Mungkin mereka sedang menunggu sembari menghabiskan kopi susu pada gelas atau memelototi layar laptop untuk mengirim berita.

Saya tidak tau.
Suatu waktu, saat tak ada taruna

Mereka sedang marah pada saya. Rais Sahabu dan Idho Deryck bahkan sudah tak pernah menggubris bbm dan sms saya lagi. Saya sudah menyerah menghubungi nomor telepon mereka karena pasti akan ditolak seperti sebelumnya. Hingga dini hari tadi, saya mempertanyakan mengapa mereka semarah ini. Saya pun ikut terbawa dan marah. Sesungguhnya saya benar-benar marah.

Saya gentar dan takut untuk kembali duduk di antara mereka setelah menyaksikan secara langsung kemarahan Idho Deryck beberapa malam lalu. Matanya melotot, suaranya membentak dan dia menunjuk-nunjuk sampai maju hendak adu jotos. Ini menakutkan sekali. Bahkan saya tidak berdaya saat dia pergi begitu saja.

Saya rindu.

Tengah malam begini biasanya mereka tertawa bersama. Mereka hebat karena tampak bugar saat kebanyakan orang pasrah pada bantal dan kasur mereka. Saya selalu dipanggil "Inyol", dijahili bahkan sampai saya hampir menangis. Di sisi lain saya rindu kenangan-kenangan ini. Tak bisa berhenti ketawa jika melihat kembali foto-foto bersama mereka. Terlebih foto saat mereka mengerumuni sepatu saya yang bau. Mereka kasar tapi selalu punya ide-ide konyol dan aneh yang membuat tertawa.

Ini mungkin tulisan terakhir tentang Pasukan Kerung. Suatu saat mungkin mereka tetap jadi sumber inspirasi untuk buat saya bergairah menulis lagi. Tapi mungkin bukan tentang Pasukan Kerung lagi. Saya sudah tidak pantas menulis tentang mereka lagi. (*) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan