Index Labels

Cinta pada Kota (Orang)

. . Tidak ada komentar:
Ini hari Minggu yang manis. Saya sedang menikmati secangkir cappucino di cafe kecil tengah kota Makassar. Di luar, cerah sekali. Di sudut ruang cafe saya bersama seorang teman diam dalam kesibukan masing-masing.

Lantunan musik barat berjudul Talking to The Moon mengalun lembut dari pengeras suara yang diletakkan di sudut. Segerombol pria paruh baya duduk tak jauh di depan saya. Mereka berbincang santai, entah membahas apa.

Hari ini adalah hari bebas bagi saya. Saya menolak ajakan atau pun undangan yang terkait dengan pekerjaan. Saya sedang me-refresh otak setelah enam hari membanting tulang untuk mencari uang. Saya mau duduk dengan tenang di sofa empuk ini, memelototi layar notebook, berselancar di dunia maya hingga sore menjelang. Bila perlu sampai malam.

Hmm... selagi libur, saya mau bercerita tentang cinta pada kota yang berisik ini. Kian hari, setelah mengenal seluruh alur sejarah, orang-orang dan lika-liku gang sempit yang kadang membuat saya kesasar, saya kian cinta, kian menjadi, malah.

Saya sayang pada hampir seluruh satpam di Graha Pena Makassar, tempat saya bekerja. Mereka selalu menyapa saya dengan senyum manis yang tulus jika saya tiba atau hendak keluar mencari berita. Saya tak tahu nama mereka. Hampir setiap hari mereka memanggil nama saya, "Nona Vera..." atau "Ibu Vera..." atau juga, "Mbak Vera.." mereka manis sekali.

Saya juga sayang pada beberapa anggota Resmob Polsekta Ujung Pandang Makassar. Saya senang bertemu Pak Ardin dan Pak Jack yang selalu memberikan senyum manis dan tulus mereka pada saya. Kami bahkan sering bercanda.

Saya juga bersyukur sudah bertemu "Mama". Pemilik warung di Jalan Kerung-Kerung tempat dulu biasa saya singgah. Mama pernah menjadi teman curhat saya. Saya sangat berterima kasih saat dia menawari salah satu kamar di rumahnya untuk saya tempati. Nenek ini baik sekali.

Saya sangat berhutang budi pada wartawan senior, Agam Sofyan. Saya memanggilnya om. Belakangan, beliau menjadi teman curhat saya. Banyak masukan yang diberikan olehnya. Saya suka mendengar masukannya. Bijak dan selalu tepat. Ia juga banyak memberi wejangan agar saya terpacu semangat untuk bergegas menyelesaikan tugas akhir saya.

Saya juga kagum pada para pengemudi becak dan becak motor yang selalu saya temui di jalanan. Mereka selalu dengan sopan mengarahkan saya untuk mendapatkan jalan. Apalah saya, jika liputan tanpa "Daeng Bentor" dan "Daeng Becak". Mereka selalu membantu saya saat kesasar.

Saya sangat menghormati rekan kerja di kantor bernama Edy Arsyad. Dia bijak, cerdas, rendah hati dan seorang pendesain blog yang lumayan hebat. Senior di tempat kerja ini kerap mengajarkan kesabaran pada saya. Meski tak pernah saya sampaikan secara langsung pada orangnya.

Jika ada yang bertanya mengapa saya mencintai kota ini, mungkin karena orang-orang ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan