Index Labels

Martabat Perempuan dan Harga Diri Ayahnya (Prolog)

. . Tidak ada komentar:
Ilustrasi dari Google
*Klitoris dan Buah Dada
Saat kecil dulu, saya pikir bayi keluar dari lubang anus. Atau mungkin saja keluar dari lubang pusar. Belakangan baru saya tau ternyata keluar dari lubang vagina ibunya. Lubang yang kecil itu. Sulit dipercaya, manusia yang tiga kali lipat lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa bisa muncul dari situ.
Saya adalah manusia ketiga yang keluar dari vagina ibu saya. Putri ke-tiga dari empat bersaudara. Karena dua kakak saya adalah perempuan, ayah saya selalu menyebut saya "Bungsu Perempuan". Yang bungsu, seorang laki-laki.
Saya tumbuh besar dengan subur. Usia 12 tahun buah dada saya tumbuh. Saya baru tau bintil kecil di dalam vagina saya bernama klitoris setelah mendapat pelajaran Biologi di kelas dua SMP. Ayah saya tak pernah beritahu. Ibu saya baru memberitahu saat saya bertanya.
"Kau sudah besar dan tau. Jadi jaga baik-baik itu. Kunci yang rapat!" Kata ibu saya. Ini kami bicarakan di dalam kamar dengan suara yang dipelankan. Bagi ibu saya itu tak baik diutarakan di depan umum. Ayah saya pun tahu, hal-hal tabu yang "tersembunyi" bagi perempuan itu tak sopan dibicarakan terlalu jauh bersama laki-laki. Makanya dia tak mau berkomentar.
Saat saya belum masuk masa reproduksi, saya biasa tidur dengan ayah saya. Dia biasa mencari kutu saya dan dua kakak saya pada malam hari saat kami sudah terlelap. Ia memandikan kami. Menggantikan celana dalam kemudian memakaikan baju. Itu saat saya masih kecil.
Memasuki kelas lima SD, Ayah mulai menjaga jarak dari putri-putrinya. Ia tak lagi memandikan kami, mengganti pakaian dalam atau memakaikan baju. Dia bahkan sudah jarang menyentuh kepala kami untuk mencari kutu. Dia tahu, kami sudah tumbuh besar. Saat itu, buah dada saya juga sudah tumbuh.
Ayah menjaga tutur katanya meski sangat marah jika melihat baju saya yang terlalu ketat. Dia tak pernah membicarakannya langsung pada saya. Ibu saya digiring ke kamar mereka dan berbisik soal lekuk buah dada saya yang terlalu kentara. Tak sopan, katanya. Ibu pasti keluar dan mendatangi saya, menyuruh saya mengganti baju yang lebih longgar.
Jika tak sempat membicarakan itu pada ibu saya, ayah saya hanya tiba-tiba membentak. Ia akan menyuruh saya segera mengganti baju dan mengancam akan membakar baju ketat yang saya pakai. Dia tak pernah menyebut "buah dada" atau "susu" atau "mimi" secara langsung pada saya. Itu tabu disampaikan. Ia bahkan terlalu malu untuk menyebutkan.
Sejak SMP, saya bahkan tak pernah memeluk ayah saya. Bahkan memegang tangannya pun tidak. Dia memang sering memarahi saya. Memukul pundak saya atau tangan atau kaki. Dia akan merasa bersalah di waktu berikutnya jika terlanjur memukul kepala saya.

*
Hal-hal tabu demikian mengarah pada pelecehan saat dilakukan di waktu mendatang. Saya terkejut saat dengan lepas seorang teman pria membicarakan buah dada dan klitoris saya secara langsung pada saya. Merasa sangat terpukul saat ia dengan terang-terangan menatap dada saya.
Ini biasa terjadi. Terlalu lepas disampaikan sampai saya shock sendiri. Hal-hal tabu demikian, tampaknya terlalu biasa disampaikan sampai akhirnya lumrah. Padahal, meski tak sampai menyentuh, itu sudah disebut pelecehan.
Pada kesempatan saya pulang beberapa pekan lalu, saya menonton sebuah acara talk show di salah satu Televisi Swasta. Bertepatan dengan hari Perempuan Internasional. Kebetulan dua korban pelecehan seksual hadir sebagai narasumber.
Salah seorang narasumber, Jessica Iskandar melaporkan kasus pelecehan seksual oleh seorang karyawan salon karena karyawan tersebut dengan sengaja merekam punggungnya. Jessica memang tak sampai "diapa-apai". Tapi toh tindakan merekam dengan sengaja untuk kebutuhan pemenuhan birahi adalah tindakan tak sopan dan mengarah pada pelecehan. Belakangan orang-orang berpikir, pelecehan hanya ketika tubuh digerayangi, buah dada diremas atau sampai ditelanjangi kemudian diperkosa.
Mungkin ini hanya lelucon bagi pelaku. Hal biasa atau biasa saja atau lumrah. Tak pernah kah ia berpikir bagaimana jika anak perempuan atau adik perempuan atau isterinya yang diperlakukan begitu? Punggung yang diciptakan, dijaga baik, bahkan dirawat dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya, seenaknya dijadikan dijadikan bahan pemuas nafsu.

"Ena'mu!!!"

Buah dada dan klitoris adalah hal tabu yang tak bisa dibicarakan seenaknya. Saya mulai berpikir, mengapa manusia harus menutup dua organ ini. Mengapa manusia memakai baju. Karena keduanya memang ditutup. Sangat ditutup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan