Index Labels

Bukan Tentang Nama (Tidak Ada Perpecahan)

. . Tidak ada komentar:
"We are Pasukan Kerung"
Pasukan Kerung, Pejuang di Larut Malam (6)


Halo, salam jumpa kembali. Khusus bagi pembaca setia kisah Pasukan Kerung.
Seperti biasa, mereka masih setia taklukkan malam. Tak ada yang berakhir selama itu sumber penghasilan.

Kali ini saya mau kembali ke belakang. Kembali ke awal dimana ada alasan mengapa saya mulai menulis tentang para pejuang malam, khususnya Pasukan Kerung.

Saya mulai tertarik menulis tentang aktivitas malam wartawan kriminal saat mendapat masukan dari wartawan senior, Agam Sofyan. Hal ini pernah dia katakan suatu waktu saat kami bertemu di Polsek Ujung Pandang. Kala itu, ada juga Muhammad Sardi.

Hujan deras saat itu. Agam Sofyan bersama Muhammad Sardi baru saja pulang meliput kebakaran. Badan mereka basah kuyup. Saya ingat, saat itu penghujung tahun 2014, tanggal 31 Desember.
Agam Sofyan mengeringkan kameranya yang ikut basah. Ia memisahkan perangkat-perangkat kamera untuk dikeringkan dan diletakkan ke meja warung milik Sibali yang berada di belakang Polsekta Ujung Pandang.

"Bagus kalau kau bikin tulisannya ini, Vera. Tentang bagaimana perjuangan kita untuk cari berita. Sampai basah begini," kira-kira begini kata Agam Sofyan saat itu.

Saya kemudian mulai memikirkan idenya. Saya ingin menulis apa yang saya lihat, saya sentuh, dan dimana saya berada. Saya biasa di Jalan Kerung-Kerung.

Saya memilih Pasukan Kerung karena merasa tempat (jalan Kerung-Kerung) sangat istimewa. Selain karena gelap dan seram, satu-satunya tempat mangkal wartawan kriminal yang selalu terisi setiap malam adalah di Jalan Kerung-Kerung pada warung milik Mami, tepat di samping Polsekta Makassar.

Saya ingin menyimbolkan usaha dan perjuangan wartawan kriminal melalui Pasukan Kerung!

Bagi saya, mereka yang setia mengisi ruang sempit di teras warung Mami setiap malam adalah wartawan-wartawan kriminal yang istimewa. Mereka berada di sana bukan karena ada kedekatan dengan anggota dan bukan juga mangkal di dalam pelataran Polsekta Makassar. Mereka tetap memisahkan diri. Duduk menunggu bersama orang-orang yang semuanya adalah wartawan. Mereka benar-benar berjuang.

Meski setiap malam duduk di sana, tak semua taruna bahkan bisa disentuh. Anggota Polsekta Makassar bahkan sering mengendap diam meski tahu wartawan ada di sana. Tapi mereka tetap tinggal.

Ruang lingkup liputan pun tidak hanya sebatas di Jalan Kerung-Kerung atau wilayah hukum Polsekta Makassar. Dalam semalam, jika sanggup bisa menyentuh empat polsek sekalipun.

Kerung adalah rumah untuk pulang!

Tentang penilaian sejumlah orang di luar. Beberapa menduga, Pasukan Kerung tengah memisahkan diri. Seperti mengelompokan diri.

Akh, tidak!
Pasukan Kerung bukan hanya tentang Idho Deryck, Andiz Sulhar, Andri Resky, Rais Sahabu, Reinhard Soplantila, Fajar Abu Thalib, Faisal Wahab, Bayu Firmansyah dan beberapa yang lain. Pasukan Kerung ibarat simbol bagi para pejuang.

Mereka-mereka yang menaklukkan bahaya demi sesuap nasi. Khususnya para wartawan kriminal yang setia menerjang malam.  Jadi siapa pun itu, baik mereka yang terdahulu, yang setia tetap tinggal, bahkan yang hadir hanya sebentar, pantas dikategorikan sebagai pejuang.

Sejumlah nama yang akan jadi cerita. Tentang wartawan senior yang sangat disegani, Alwy Fauzi, tentang beberapa yang kadang mampir seperti Rahman dari Indosiar, Atho N Zaelany dari Net TV, Zakkyuddin dari Harian Fajar, dan tentang pemberi ide yang saya yakin suatu hari akan mampir, Agam Sofyan.

Suatu waktu juga akan ada kisah para pejuang lain yang pernah di sana. Nama-nama yang pernah saya dengar; Taufan, Ucceng, dan siapa lagi? Ini akan jadi kisah yang panjang. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan