Index Labels

Wartawan Menikah? Susah!

. . Tidak ada komentar:
*Pasukan Kerung, Pejuang di Larut Malam (4)


Saya shock..

Bagaimana tidak, pada salah satu perbincangan serius kami di teras warung "Mami", Pasukan Kerung tiba-tiba membahas tentang pernikahan. Tiga personil Pasukan Kerung masih 'sendiri' di usia mereka yang memasuki 30 tahun. Katanya, hal itu wajar. Wartawan memang lama menikah. Oh tidak!! Saya khawatir saya pun akan demikian.
Fajar Abu Thalib (Metro TV)
Fajar Abu Thalib sering di-bully seniornya karena hingga kini tak juga naik pelaminan. Begitu juga Muhammad Sardi (Idho Deryck) dan Andis. Mereka sudah benar-benar "kepala tiga". Lahir pada tahun 1984. Delapan tahun lebih awal sebelum saya keluar dari rahim ibu saya.

Pada perbincangan kami dini hari tadi (12 Januari 2015), saya tiba-tiba sadar betapa belianya saya di bandingkan mereka semua. Andis yang terbiasa dengan sumpah serapah tiba-tiba berbicara serius. Tentang serentet tanggung jawab dan cicilan. Sekilas saya melupakan penilaian saya selama ini tentangnya. Begitu juga dengan Fajar Abu Talib. Ia tampak berniat melamar seorang gadis di tahun 2015 ini.

Mereka sebenarnya sudah benar-benar siap tapi belum dapat.

Andis (TV One) 
Andry Reski (Nama betul Komo) juga mengeluh. Usianya masih 23 tahun. Katanya, pacarnya sering marah karena jarang bertemu. Fajar Abu Thalib pun menyambut. Sepakat pada Andri lantaran katanya pacarnya juga sering mengadu. Padahal menurutnya, mereka "sering" bersama.

"Wartawan begitu, Sering kesulitan mendapatkan waktu untuk pacaran dan bertemu."

Kalau Rais Sahabu, si Kapten itu, tampaknya beruntung karena akhirnya bisa menikahi perempuan pujaannya di usia 29 tahun.

Lalu, saya bagaimana?
Masih ada delapan tahun sebelum seusia mereka. Akh, saya tak mau menikah di usia tua. Tak mau juga jika terlalu muda. Saya kerap berangan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Punya cukup waktu untuk keluarga dan bercita-cita ingin melihat buah hati anak-anak saya, Bila perlu sampai dipanggil "Nenek Buyut".

Muhammad Sardi (MNC Group)
Tapi memang, dari pengalaman dan pentauan saya selama ini, wartawan memang kerap terlambat menikah. Apa lagi mereka-mereka yang terlalu serius bekerja. Belum lagi kalau nyaris tak punya waktu untuk jalan-jalan bertemu pacar.

Bagaimana tidak, dari pukul 22.00 Wita sampai 03.00 dini hari, mereka mesti menunggu peristiwa dengan perasaan yang harus siap siaga. Pulang langsung tidur karena lelah. Rata-rata baru terjaga pukul 15.00 Wita. Ada sekitar tiga jam waktu untuk menulis naskah atau mengirim gambar. Setelah itu, tiba-tiba ada peristiwa baru dan mesti diliput.  Misalkan untuk liputan tersebut mereka butuh satu jam. Pukul 20.00 Wita selesai dan perlu rehat. Mesti ikut rapat setelah itu, kemudian kembali ke kehidupan malam.

Itu lah yang (mungkin) terjadi pada Pasukan Kerung.
Itu lah yang (mungkin) terjadi pada Fajar Abu Thalib, Muhammad Sardi (Idho Deryck) dan Andis.

Nyaris tak ada waktu untuk menemui seorang perempuan.

Mudah-mudahan nasib saya tidak seperti mereka. Duh...

*Yang akhir hanya kelakar, kanda. :)

Akhsan (Tribun Timur) dan Reinhard Soplantila (TransTV)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan