Index Labels

Setia Menunggu. Kosong

. . Tidak ada komentar:
Pasukan Kerung, Pejuang di Larut Malam (2)

Kantuk. Pak Dir Intel (Rais Sahabu) dan Bankom, Bora alias Mas Bram
Hujan terus turun. Kejadian seperti mengendap dingin karena hujan. Saya dan beberapa anggota Pasukan Kerung masih menunggu hingga jelang pukul 03.00 Wita. Saya menulis ini pada 5 Januari 2015.

Di teras kantin "Mami" yang dingin hanya ada Muhammad Sardi (Idho Deryck), Rais Sahabu (Pak Dir Intel) dan Reinhard Soplantila (Planton). Seorang anggota Banpol Polsekta Makassar, Bora alias Bram dan rekan satu media Idho Deryck,M. Nur juga bersama kami malam ini. Ardi (Komo) dan Andiz, sempat berkumpul namun, kemudian bergegas pergi lebih dulu.

Kami belum mendapat informasi peristiwa kriminal hingga pukul 02.35 Wita. Hujan terus turun dan ciptakan hawa dingin yang menusuk. Saya terkantuk dan pasrah memapah kepala pada lengan di meja. Sesekali mendengar Pasukan Kerung bercerita sembari bercanda.

Sebelum Mami berangkat tidur tadi, mereka sempat bercengkrama membahas hal-hal acak. Rais Sahabu dan Idho Deryck sesekali menggoda Mami. Reinhard Soplantila hanya menyimak kemudian ikut tertawa. Saya lebih banyak diam lantaran memang sedang tidak berminat. Mungkin karena lelah dan kantuk.

Empat botol air mineral tergeletak di meja. Saat hujan reda, terdengar bunyi suara butiran air yang jatuh di atap. Anggota Banpol, Bram alias Baro mengangguk-anggukan kepalanya. Lubang telinganya disumpal headset. Setelah itu, mencabut headset hingga musik pada telepon genggamnya juga kami dengar. Ia sejenak berjoget.

Pukul 02.46 Wita, masih kosong. M. Nur sudah menyalakan mesin sepeda motornya hendak pulang. Musik dangdut dari telepon genggam milik Banpol masih terdengar. Saya mencoba menawarkan pada Rais Sahabu untuk tetap tinggal sampai warung nasi kuning yang pernah kami makan terbuka. Namun, ia menunjukan tanda-tanda akan menyerah.

"Mauma pulang saya," katanya menjawab tawaran saya.

Sepertinya hujan dan letih berhasil membuat kami tak sanggup menunggu terbit matahari. Mata-mata kami mulai sayu. Kepala saya bahkan terasa nyeri. Belum lagi, suara musik dari telepon genggam Banpol telah menggoda rasa kantuk semakin jauh.



Akh, rindu kasur...
Biar larut, yang penting ada cahaya dan tertangkap kamera.
Sesi foto-foto. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan