Index Labels

NI yang Cerdas Masih Bungkam

. . Tidak ada komentar:
Ilustrasi dari Google
Dua pekan usai kehilangan NI. Ayah dan ibu tirinya masih mencari. Tetangga dan kerabat pun ditemui. Seorang pedagang ikan memberitahu pada ibu tiri NI bahwa terakhir mereka melihat NI berada di sebuah pasar tradisional di Kabupaten Gowa sebelum seorang perempuan membawanya pergi.

“Katanya NI dibawa seorang ibu. Mereka bilang dia dibawa karena mencuri hape,” ucap ibu tiri NI kepada saya.

NI tak berkabar. Keluarganya kemudian menyiarkan berita kehilangan NI di Harian Fajar pada 16 September 2014 lalu. Namun, hingga September berakhir, NI tak juga kembali. Hal tersebut membuat keluarganya kebingungan. Mencek ke segenap kerabat dan keluarga, namun tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan NI.

Ayah NI yang mengetahui kondisi kesehatan NI yang kurang baik kerap curiga telah terjadi sesuai pada NI. Gadis itu diketahui menderita epilepsi.

“Dia tidak boleh kena air. Kalau kena air, pasti langsung kambuh,” kata ayah kandungnya dengan raut wajah khawatir.

Pertengahan November, di saat keluarga mulai letih mencari, tetangga mengabari bahwa seorang anak perempuan yang sesuai dengan ciri-ciri NI sementara diamankan di Polsekta Panakkukang, Makassar. Tak menunggu lama, ayah kandung dan ibu tiri NI langsung mendatangi Mapolsekta Panakkukang untuk mencek informasi tersebut. Ternyata benar. Mereka menemukan NI dengan rambut yang telah di-ribonding dan alis yang telah dicukur.

“Penampilannya berubah mi. Sudah mulus mukanya, tidak adami bintik-bintik,” kata ibu tiri NI.

Ayah kandung NI dan ibu tirinya mengaku ingin membawa NI ke tempat rehabilitasi. Melihat kondisi psikologis NI yang kacau, mereka sempat berpikir merawat gadis tersebut di Rumah Sakit Jiwa. Selain sulit diajak berkomunikasi, NI juga kerap bertingkah aneh. Suatu waktu, penyakit epilepsinya pun kambuh.

“Kadang-kadang tidak maui bicara. Waktu dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara dia bertingkah seperti mau tidur. Akhirnya sulit diajak bicara sama polisi,” keluh Ibu tiri NI.

Perjuangan membuat NI berterus terang ternyata sulit. Keluarga NI menginginkan agar kasus tersebut diselidiki. Dua pelaku yang sudah ditahan di Polsekta Panakkukang bahkan pernah meminta damai dan mengakhiri masalah tersebut dengan cara damai. Ibu tiri NI membeberkan anggota polisi menghubungi ayah NI dan menyampaikan niat dua pelaku tersebut.

Rabu pagi, 19 November, terakhir kali saya mendengar suara Ibu tiri NI lewat telepon. Ia yang saya hubungi sedang berada di Mapolsek Panakkukang menemani suaminya menjawab panggilan oknum polisi. Terakhir, ibu tiri NI terisak dan mengaku sedih karena dianggap NI melarikan diri dari rumah pada 1 September lalu karena perbuatannya. Tak kuasa, ibu tiri NI dengan suara yang bergetar mengatakan;

“Di BAP Ni ditulis katanya saya yang buat dia kabur dari rumah. Pernyataan saya dinyatakan keberatan karena saya hanya ibu tiri,” kata ibu tiri NI.

Setelah itu, beberapa hari terakhir saya terus menghubungi nomor telepon ibu tiri NI. Tak ada jawaban meski berulang-ulang. Pesan singkat saya sempat dibalas. Hanya satu kali ada pukul 08.16 Wita, Kamis 20 November.

“Ya bu nanti sy lihat keadaan dulu.”

Niat melaporkan kasus NI ke Polrestabes Makassar tampaknya tertunda. Tak ada kabar apa kah rencana keluarga NI untuk didampingi Lembaga Bantuan Hukum dalam penanganan kasus itu benar dilakukan. Ibu tiri NI ikut bungkam.  Hingga Jumat petang, 21 November, saat saya mencoba menghubungi nomor ponsel ayah NI, ibu tiri NI yang menjawab berkata,

“Kasusnya kami tutup. Saya dan bapaknya sudah berembuk untuk damai dengan pelaku. Kami tidak punya banyak waktu untuk selesaikan masalah ini. Kerja saya terbengkalai dan prosesnya terlalu rumit.”

Setelah mengakhiri perbincangan telepon. Sebuah pesan singkat dari ibu tiri NI masuk ke ponsel saya. Bunyi pesannya;


bu mf sblumx kami sdh tdk mau bahas mslh itu lg.kami pux utang yg hrus dibyr tiap bulanx smtr klo wktu hbs  terbuang percuma dgn mslh itu siapa yg hrs tanggung beban kami?jd sblum dan sesudahx trm ksh byk bu!

Pelaku: NI Meminta Dipekerjakan “Begitu”
Beberapa waktu lalu, saya beruntung bisa menemui dua bos NI yang ditahan di Polsek Panakkukang. Syahruddin dan Andi Ananda. Mereka pasangan suami isteri.

Dalam ruangan persegi di lantai dua Polsekta Panakkukang, kami berbincang terkait NI. Syahruddin hanya mengenakan jeans sampai lutut. Di lengan kirinya ada gambar tato yang agak samar. Rambutnya acak-acakkan dan matanya memerah. Dia duduk di samping saya di atas bangku kayu, sementara isterinya dengan jeans panjang hitam dan baju kuning, duduk merokok di lantai berkarpet.

Syahruddin memulai obrolan kami. Dia bilang, NI yang datang sendiri ke rumahnya diantar pengendara becak motor. Mereka tak mengenal NI sebelumnya. Begitu pula NI, tak pernah bertemu mereka.

Andi Ananda sembari sesekali menyedot asap dari batang rokoknya mulai mencibir. Ia menyayangkan NI yang tak tahu terimakasih setelah dirawat selama dua bulan oleh keduanya.

“Itu anak, tidak pernah ada kerjanya. Karena kalau kena air, pasti langsung kambuh sakitnya. Ini saya sudah baik bawa dia berobat, bawa ke salon bonding rambutnya  dan rawat dia. Malah sudah kita anggap anak juga. Dia sendiri yang minta dikerjakan begitu. Bapanya hanya jadi tukang ojeknya,” kata Andi Ananda berapi-api. Sesekali, Syahruddin menyela kata-katanya.

Syahruddin ikut angkat bicara, ia bilang NI sendiri yang berurusan dengan pelanggannya. Tugas Syahruddin sekedar mengantar bertemu.

“Saya paling antar ke Veteran sana. Sudah itu, diami yang ketemu pelanggannya. Uangnya juga dia ambil sendiri. Kadang-kadang saja dia kasih ki,” lanjut Syahruddin.
*Pengakuan Polisi
Kanit Intelkam Polsekta Panakkukang, Iptu Surahman yang menjemput dua pelaku dan NI di hotel. Surahman dengan raut sungguh-sungguh berujar pada saya, katanya NI berhasil kabur dengan cara yang cerdas. Namun, saat dijemput, NI dengan wajah ketakutan enggan keluar. Ia tak mau beranjak dari persembunyiannya sebelum Syahruddin dan Andi Ananda dibawa.

“Dia sembunyi di lantai tiga. Di tempat cuci hotel dan minta pelayan hotel tak memberitahu keberadaannya. Sekuriti yang lapor ke anggota saya,” cerita Surahman beberapa waktu lalu.

Kapolsek Panakkukang juga saya hubungi. Kompol Tri Hambodo sempat bilang bahwa keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka tak lama setelah ditangkap. Setelah itu, ia menyuruh saya berurusan dengan Kanit Reskrim Polsekta Panakkukang.

Penanganan kasus NI tak jelas. Tak ada yang dekati NI secara simpatik untuk membuatnya bercerita. Tak jelas apakah sudah diselidiki empat teman NI yang juga dipekerjakan dua pelaku seperti yang diakui NI kepada saya dan identitas Ayu yang disebutkan NI.

Kanit PPA Polrestabes Makassar, Iptu Afrianti yang saya konfirmasi pada Jumat sore prihal ditutupnya kasus NI tak pernah tau soal itu. Ia bilang, ia hanya mengurus berkas NI di hari pertama. Dua pelaku sudah dinyatakan terjerat kasus Eksploitasi anak.

“Nanti saya tanyakan ke Polsekta Panakkukang. Hari Senin yah. Saya harus cek administrasinya dulu,” katanya di akhir perbincangan lewat telepon kami. (*)

(*Dimuat di Harian Fajar edisi Minggu, 23 November dengan beberapa pengubahan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan