Index Labels

NI Bungkam, Tersiksa Dalam Diam

. . Tidak ada komentar:
Ilustrasi sumber Google
NI (bukan nama sebenarnya), remaja yang baru berusia 14 tahun. Parasnya cantik dengan bibir lembut berwarna merah jambu dan bulu mata yang lentik. Kata ayahnya, bulu mata cantik yang berhias di kelopak matanya itu asli. Bukan karena dipermak di salon kecantikan.

Senyumnya mempesona. Tatapan dari bola matanya yang besar tampak tajam dan kerap tak takut. Pipinya yang menyembul chubby membuat roman manis gadis berambut keriting itu begitu menawan. Terlihat dewasa. Namun, jemarinya yang begitu lembut menggenggam puluhan lembar uang dua ribuan rupiah tetap menunjukan gadis yang tak sempat melanjutkan sekolah di tingkat SLTP tersebut masih kanak-kanak. Ia masih polos. Masih akrab dengan dunia bermain layaknya anak-anak seusianya.

Beberapa waktu lalu, NI dengan berbalut baju merah muda sederhananya berbincang beberapa hal dengan saya di ruangan kecil Redaksi Harian Fajar. Awalnya ia enggan menjawab, saat dengan ramah saya mencoba menyapa. Matanya yang indah menatap saya dengan curiga. Ada sorot ketakutan dari sana. Namun, kemudian dengan patuh dia melayani pertanyaan saya.

“Duduk di kursi ki kak. Masa duduk di lantai ki baru saya di kursi?” ucapnya ramah yang membuat saya terkejut.

NI membuka dialog kami dengan senyum simpulnya yang khas. Ia tersenyum polos seolah tak sedang ditimpahi banyak masalah. Seolah tak pernah diperkosa ayah tirinya. Seolah tak pernah dipaksa melayani kebutuhan birahi ratusan pria. Ia tersenyum seolah rasa sakit dan tertekan pada dirinya adalah hal yang biasa.

Ayah kandung dan ibu tiri NI mengatakan, gadis itu meninggalkan rumah dua hari setelah dari Kolaka, Sulawesi Tenggara. Ia baru saja kembali ke rumah ayah kandungnya di Gowa setelah beberapa tahun tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya. Orang tua NI pisah beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang membuat NI tiba-tiba meninggalkan rumah ayahnya pada 1 September 2014 malam itu. Sang ayah bilang, ia pergi dengan hanya mengenakan baju tidur dan kain sarung. Tak ada pertengkaran sebelumnya. NI pergi tanpa tinggalkan pesan.

NI berkeliaran di sekitaran wilayah Gowa selama beberapa hari. Seperti linglung dan depresi, sejumlah orang menemukan gadis itu berteriak-teriak di pinggir jalan dekat pasar. Hingga seorang perempuan yang konon mengaku berniat baik membawanya pergi. Hendak membantu mengobati gadis yang diduga menderita epilepsi itu.

NI dijerumuskan untuk eksploitasi seks. Diobati, diasupi dan didandan layaknya gadis dewasa. Tak lama setelah itu, NI mulai dipekerjakan. Pria yang dipanggilnya bos bahkan pernah dengan kejamnya ‘meniduri’ tubuh kecilnya.

Setelah itu, NI yang tak berdaya terpaksa ikut. Diantar menemui pelanggan bosnya untuk melayani kebutuhan birahi mereka. Kadang ia di antar ke pinggiran Jalan Veteran yang gelap gulita. Kadang juga, dibawa ke sebuah hotel mewah. Jasa NI dijual mulai Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Sehari, NI bisa dipaksa melayani sampai 10 pria. Hasil jerih payahnya dikantongi sang bos yang bertransaksi langsung dengan para pelanggan. Dipakai untuk membeli sepeda motor, kulkas dan hura-hura. Sekedar untuk memperkaya sang bos yang serakah.

“Ih, biasa kusimpan kalau ada dikasih tip. Kusembunyi. Pernah belika hape yang ceribel, tapi diambilki lagi sama bosku,” mengaku NI padaku. Ia masih menggengam lipatan puluhan uang dua ribu rupiah dengan kuat. 

Tak kuat, tak tahan namun tak berdaya, usai disuruh melayani seorang pria asal Papua di sebuah hotel pada pekan lalu, NI mengadu minta dibantu melarikan diri. Bukannya membantu, si pria asal Papua tersebut malah memberitahu niat NI kepada bosnya yang menunggu di lobi hotel. NI yang ketakutan mendengar amukan sang bos kemudian bersembunyi. Gemetaran di dekat tempat cuci di lantai tiga hotel. Dengan terisak ketakutan, ia meminta pelayan hotel tak memberitahu keberadaannya. Tekadnya ingin segera bebas dan lepas dari cengkeraman bosnya.

Beruntung, satpam hotel yang tak kuasa dan tak paham melihat amukan bos NI di kamar hotel kemudian memberitahukan hal tersebut ke polisi. Bos NI dibekuk seketika itu juga. NI bebas dan bisa kembali ke keluarganya.

Tak sampai di situ. Beberapa perempuan lain belum benar-benar bebas. NI menyebut masih ada empat temannya yang juga dipekerjakan bosnya. Saat saya bertanya nama-nama mereka, NI tiba-tiba bungkam. Matanya berkeliaran ke sisi ruangan.

 “Nanti dibunuhka. Kayak temanku yang namanya Ayu,” ujarnya dan menatapku dengan takut. Setelah itu NI jatuh, kejang sejenak kemudian seperti tertidur pulas. (*)


(*Dimuat di Harian Fajar edisi 22 November 2014 dengan beberapa pengubahan)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan