Index Labels

(Cerita-cerita saya) Investigasi Kecil-Kecilan Kematian Subhan Alfian

. . Tidak ada komentar:
 Kematian Subhan Alfian (Muhammad Subuhan Afandi)

Subhan. Sumber: Facebook

Subhan Alfian, pria yang tewas karena ditembak oknum kepolisian pada 28 Agustus 2014 lalu. Usia kami sama. Subhan lahir pada 16 Agustus  1993. Dia meninggal tak lama setelah merayakan ulangtahunnya yang ke-21.

Malang. Anak sulung yang menurut kata ayahnya sempat mengenyam pendidikan ilmu pelayaran ini menghabiskan hidupnya di usia semuda itu. Masih seumuran saya. Jika hidup, mungkin masih banyak yang bisa ia lakukan. Bekerja, pacaran, senang-senang, kemudian menikah. Masih panjang. Namun, kembali pada kehendak Pencipta yang bisa mengambil umatnya kapan saja. Subhan tewas karena peluru revolver yang menembus leher belakang hingga keluar melalui dagunya. Dokter forensik RSUD Labuang Baji, Denny Matius bilang pelurunya mengenai organ fatal. Makanya tak bisa diselamatkan.

Sempat saya akui daya tahan tubuh Subhan. Setelah ditembak sekira pukul 00.00, ia masih bernafas beberapa jam. Pukul 01.30, ia dirujuk ke RSUD Labuang Baji setelah temannya Yusuf dan salah satu korban, Harmoko (terkena peluru terusan dari Subhan yang mengenai punggung kanan) dengan membonceng tiga membawanya dari TKP menuju RSUD Dadi. Subhan bahkan sempat bicara setelah ditembak, begitu cerita Harmoko.

Tiba di RSUD Labuang Baji, kondisi Subhan sudah kritis. Tim dokter menangani Subhan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sekira pukul 02.55, 28 Agustus. Sampai di situ!

Tak mudah mendapat  kronologis kejadian ini. Saya terlambat beberapa jam. Pukul 06.00, 28 Agustus, saya terbangun karena handphone saya terus berdering. Redaktur, Dian Hendiyanto mengabari kejadian tersebut dan meminta saya segera bergerak. Saya kemudian mengintip beberapa status bbm rekan wartawan kriminal dari media lain. Ada yang sempat menuliskan, korban dibawa ke RS Bhayangkara. Tanpa mandi dan membasuh muka, saya menarik jaket, kunci sepeda motor dan helm kemudian menuju RS Bhayangkara. Sepanjang perjalanan, saya berdoa semoga jenasah Subhan masih ada di sana. Tak ada bekal saya pegang selain kalimat kunci; “korban penembakan oknum polisi di RS Bhayangkara.”

Luka Subhan bagian belakang karena tembakan senjata api
Tiba di RS Bhayangkara. Sepi. Saya bahkan mencuri masuk dan mengintip ruang otopsi yang kosong. Dokter forensik RS Bhayangkara, Mauluddin juga tak ada di tempatnya. Jenasahnya kemana?  Dengan berusaha sabar, saya duduk di pelataran sambil menunggu dr Mauluddin yang kabarnya akan masuk kantor pada pukul 08.00.

Tak sabar, takut ketinggalan, saya duduk dengan gelisah dan mengintip hape saya yang belum juga memberikan petunjuk. Jaringan saya belum banyak, saya masih baru di kriminal. Beberapa rekan wartawan saya hubungi. Salah satunya menjawab, melempar ringkasan peristiwa yang biasa dikirimkan intel untuk wartawan. Di situ ada tertulis, korban dibawa ke RSUD Labuang Baji. Saya langsung berdiri, berlari ke LuckPay kemudian menuju RSUD Labuang Baji.

Peluru menembus hingga dagu Subhan 
Tiba di sana. Jenasah sudah tak ada. Saya berkeliling mencari dokter dan suster untuk bertanya. Dengan berpura-pura dari keluarga korban saya memasuki ruang ICU. Penjaganya dengan ketus melayani saya. Dia mengaku tak ada di RS saat korban dibawa, namun saya berhasil membuatnya memberi tahu saya jam Subhan masuk ICU. Ia bilang pukul 01.30, alamat korban Jalan Sungai Saddang Baru.

Akh, nyaris saya tertipu pada ringkasan peristiwa yang dikirim rekan saya. Di situ tertulis alamat korban di Jalan Monginsidi Baru dekat kanal dengan waktu kejadian 02.30. Saya langsung berpindah. Mengitari Jalan Monginsidi sampai berputar ke Sungai Saddang. Beberapa kali berputar saya tidak mendapat rumah korban. Saya hampir menyerah.
Saya mencoba menyisir pemukiman di dekat kanal. Saat itu bertemu dua pemuda yang entah dari mana melintas di jalan Monginsidi Baru samping kanal. Mereka bilang ada pemuda meninggal ditembak. Dari mereka, saya mendapat petunjuk rumah duka.

“Ada bendera putihnya itu depan gang. Terus-teruski saja. Bertanya ki kalau sampai mi di depan,” beritahu salah satunya.

Saya langsung tancap gas. Melintasi jalan Monginsidi Baru yang masih sepi dan mencari dengan teliti bendera putih di bibir gang. Berputar dua kali, baru saya dapat (Saya memang selalu kesasar).   

Peluru yang menembus dagu Subhan juga mengenai
punggung Harmoko saat Harmoko memboncengnya.
Masuk ke kompleks kediaman Subhan. Dengan pelan saya bertanya pada warga yang duduk di bawah tenda. Seorang ibu memberitahu saya rumah Harmoko. Anak kecil perempuan (lupa saya tanyakan namanya) mengantar saya ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Subhan. Di situ saya bertemu Harmoko dan mulai mengumpulkan informasi.

Setelah dari Harmoko, warga di situ yang tahu saya wartawan memberi saya sedikit informasi. Mereka bilang, saat berangkat sebelum kejadian, Subhan dan Harmoko keluar bersama adik kandung Subhan. Saya langsung ke rumah duka, mencari adik Subhan yang bernama Fahmi. Di kamar almarhum Subhan, dengan dikelilingi sahabat-sahabat Subhan yang sedang berduka, Fahmi menyampaikan segalanya kemudian menghubungi Husen.

“Husen yang tau betul kak. Tunggu mi biar dia ceritaki,” kata Fahmi yang kemudian menghubungi Husen.

Husen datang, kemudian menceritakan kronologis kejadian semalam. Segalanya. Saya lega akhirnya mendapat narasumber yang pas dan kuat.

Dari keterangan Harmoko, Fahmi dan Husen, pikiran saya terbuka dan mulai dengan yakin mengembangkan informasi yang saya dapat. Masih rehat di rumah duka, Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Fery Abraham, Kapolsek Rappocini, Kompol Ade Hermanto dan Humas Polrestabes, Mantasiah, beriringan datang menuju rumah duka dan mendekati jenasah Subhan. Untuk pertama kalinya saya melihat wajah almarhum.

Pengumpulan informasi saya berlanjut. Empat narasumber sudah saya pegang; Harmoko, Fahmi, Husen dan Ayah Subhan, Alfian. Saya kemudian mewawancarai Kapolrestabes Makassar dan Kapolsek Rappocini. Saat itu Kapolrestabes bilang kemungkinan senjata yang digunakan jenisnya revolver. Kapolsek Rappocini memberitahu bahwa bukan anggotanya yang melakukan patroli di sekitar TKP. Anggotanya sedang di tempat lain. Kasus tersebut diserahkan sepenuhnya ke Polrestabes.

Narasumber saya  jadi enam orang.

Data-data sudah lumayan lengkap dan akurat. Jelang siang saya sudah mendapat informasi yang cukup. Kembali ke kantor, redaktur meminta saya membuat dua naskah untuk kasus tersebut. Namun, masih terasa kurang karena dari pernyataan Husen seorang teman perempuannya dibawa saat kejadian. Saya kemudian mencari tahu hal tersebut. Berangkat menemui Kanit Reskrim Polsekta Rappocini. Iptu Agus Salim mengatakan tidak tahu tentang anak perempuan tersebut. Iptu Agus Salim mengatakan memang pada pagi hari setelah kejadian seorang anak perempuan dibawa ke kantor Polsekta Rappocini. Tapi bukan ditangani olehnya.

Pernyataannya cukup.

Saya langsung kembali ke kantor. Mengetik naskah dengan runtut. Tak ada satu pun pernyataan narasumber yang saya tinggalkan. Pecahan-pecahan pernyataan saya gabungkan. Berbekal enam narasumber beritaku selesai.  (bersambung)


Subhan (tengah depan) bersama teman-temannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan