Index Labels

Pesan Kemerdekaan di Atas Kanvas (Dimuat Di Harian Fajar edisi 17 Agustus 2014)

. . Tidak ada komentar:
Menunjukan nasionalisme dan kecintaan pada tanah air Indonesia, tak mesti menggenggam tombak, belati dan senjata. Ungkapan rasa cinta kepada negara ternyata bisa ditunjukan melalui karya seni rupa. Hal itulah yang mau disampaikan puluhan perupa melalui aksi melukis bersama sepanjang 200 meter, kemarin.

Tingkat nasionalisme anak muda di masa kini kian menurun. Hal tersebut yang dilihat para perupa dari Makassar Art Galery. Selain itu, citra Makassar di Indonesia juga dikenal sebagai kota yang keras.

“Menghilangkan konotasi Makassar sebagai kota keras. Kita mau tunjukan bahwa sesungguhnya Makassar penuh dengan seniman,” tegas ketua penyelenggara, Siswadi.

Tujuan tersebut yang membawa para perupa ke kegiatan pagi kemarin, 16 Agustus 2014. Sebelum pukul 09.00, perupa yang aktif di Makassar Art Galery telah bersiap-siap. Mereka menata kanvas yang telah dipersiapkan sejak hari sebelumnya. Jalanan sekitar belum begitu ramai. Aktivitas akhir pekan yang tak begitu padat seperti tak sadar pada kegiatan para perupa Sulsel yang telah memajang sepanjang 200 meter kanvas putih di samping gedung Makassar Art Galery yang lokasinya berada di dalam area objek wisata Pantai Losari.

Sebagian kanvas ditempelkan pada triplek yang berdiri. Sebagiannya lagi dijejal melingkar di lantai. Kanvas-kanvas itu telah siap dinodai cat oleh 200 peserta yang telah mendaftar untuk bergabung dalam acara melukis bersama menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia itu. Para perupa, sambil sesekali mencomot sajian kue yang ditata di meja, asik bercengkrama dengan perupa lain hingga satu per satu peserta yang didominasi masyarakat awam, berdatangan ke pelataran Makassar Art Gallery.

“Kegiatan seperti ini akan selalu disupport oleh kami. Saya atas nama pemerintah Kota Makassar, membuka acara ini dengan resmi,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ir. Rusmayani Madjid, M. SP sekitar pukul 09.00 pagi kemarin dan disambut sorak peserta dan perupa yang tampak antusias.

Tak lama berselang, para peserta mulai beraksi. Cat berbagai warna dipersiapkan bersama kuas dengan ukuran yang bervariasi. Setiap peserta melukis dengan gayanya masing-masing tanpa meninggalkan tema kebudayaan dan kemerdekaan yang telah ditetapkan panitia Makassar Art Galery. Aksi melukis diisi dengan musik rock yang mengalun dengan penuh semangat.

Pelukis yang mahir melukis kaligrafi, Yusuf Seni, mengeja doa dalam huruf Arab pada kanvasnya sepanjang satu meter. Perupa yang juga pernah meraih juara 1 tingkat nasional pada lomba melukis kaligrafi tahun 1994 itu, lewat lukisannya ingin memberi pesan kepada masyarakat untuk tetap menjaga perdamaian dan tidak bertikai.

“Maksud tulisan Arab ini adalah, orang yang bertikai harus didamaikan,” kata dia sambil memoles tulisan kaligrafinya menggunakan cat hitam.

Sementara itu, Asman Djasmin dengan gaya lukisan abstrak ekspresionis juga fokus menyapukan cat biru pada lukisannya yang dia beri judul "Takut Pulang". Asman ingin menyampaikan keresahan masyarakat dengan fenomena geng motor yang akhir-akhir ini marak terjadi dan dilakukan oleh kalangan pemuda. Bentuk keresahan ini ia tuangkan jelang hari Kemerdekaan RI.

“Semakin brutal anak-anak muda yang emosinya sulit dikendalikan. Hal ini membuat masyarakat resah,” kata dia.

Faisal Ical menyelipkan pesan mengajak masyarakat Makassar untuk optimis menjadikan Makassar sebagai kota dunia. Dengan gaya melukis pop art, ia menggambar potret Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Makassar, Ir. Rusmayani Madjid, M. SP. Ia menambahkan gambar burung pada lukisannya sebagai symbol kebebasan dan kedamaian.

Di sisi lain, Ruslan Muhammad dan Mike Turusy bersama-sama melukis di satu kanvas. Ruslan mengatakan, lukisan bertema perang tersebut menceritakan tentang perang Somba Opu yang terjadi beberapa tahun silam. Uniknya, untuk menyelesaikan lukisan tersebut, 8 perupa berkolaborasi sesuai keahliannya masing-masing. Ada yang mensketsa, memblok, mewarnai kemudian finishing.

"Motivasi dari lukisan ini, kita ingin menunjukan pergolakan perang masa lalu. Dulu saja orang berperang untuk mempertahankan kerajaannya, jadi kita sekarang juga harus mampu mempertahankan negara kita," ungkap perupa yang telah menelurkan ribuan karya itu.

Ir. Rusmayani Madjid, M. SP menyambut baik kegiatan yang diprakarsai para perupa yang aktif di Makassar Art Gallery itu. Hingga siang kemarin, perempuan yang juga mahir di bidang arsitektur itu ikut mengawasi acara melukis bersama.

"Ini adalah salah satu kegiatan yg kreatif. Kita mmberikan ruang bagi seniman yg bergerak di dunia ekonomi kreatif. Kita mendukung, karena kota Makassar tidak hanya bisa dipromosikan lewat makanan atau pakaiannya saja, tapi juga lewat karya seni rupa,” tuturnya di Makassar Art Gallery, siang kemarin. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan