Index Labels

Melukis Senja Pesisir Pantai Losari (Dimuat di Harian Fajar Edisi 27 Juli 2014)

. . Tidak ada komentar:
Zainal M. Beta
Sumber gambar: fadillahfiraf.blogspot.com
MAKASSAR_-- Zainal Beta, perupa Sulsel yang terkenal dengan lukisan tanah liatnya itu. Beberapa hari lalu pada  kegiatan Makassar Art Day, ia meletakkan beberapa lembar kertas pada ubin di pelataran Makassar Art Galery, diikuti potongan kecil bambu yang dipakai sebagai kuas dan potongan koran usang yang telah diremas. Tangannya lalu sibuk menata streger hitam, menyelipkan ujung kertas pada penjepit streger.

Setelah itu, matanya menatap teliti pada hamparan pantai Losari yang disirami cahaya jingga matahari yang kian tenggelam. Ia lalu bergegas menumpahkan sebagian tanah liat cairnya pada penutup toples. Sedetik kemudian, jemarinya yang telah dicucukkan pada liat cair menggosok permukaan kertas putih yang disangga triplek bersisi hitam. Matanya sesekali memandang pada pulau kecil yang perlahan sembunyikan matahari.

Tangannya masih menyapu permukaan kertas yang tiba-tiba berwarna cokelat muda. Diusapnya beberapa sisi kertas. Jarinya dengan lincah membentuk objek pulau yang semula asal kemudian perlahan seperti nyata. Setelah selesai dengan liat cairnya, ia merobek sedikit koran lalu menekan dengan lembut permukaan lukisan. Lukisan pertamanya sore itu selesai, ia berhasil merekam pemandangan pulau kecil yang berlatar matahari terbenam.

Tak sampai di situ. Segera ia pindahkan lukisan pertamanya ke lantai. Tangan lainnya menyambar kertas putih yang kemudian dijepitkan pada streger. Ia menggeser beberapa derajat ke kiri letak stregernya yang kini menghadap pada daratan yang menjorok dari bibir pantai.

“Biar mi di situ dulu! Masih ada yang mau kulukis,” ujarnya pada penonton yang tampak menatap dengan terpesona pada lukisan pertamanya.

Jemarinya mulai sibuk lagi mengotori permukaan kertas yang bersih dan licin. Jemari kanannya bergerak dari kiri ke kanan. Jejak liat cair membentuk garis horizontal yang padat. Setelah tak tampak lagi warna putih di permukaan, Zainal Beta kemudian meraih potongan bambu yang ukurannya tak lebih besar dari ibu jarinya. Ia menggaris permukaan kertas, membentuk objek yang menyerupai daratan yang menjorok di hadapannya. Tanganya juga dengan lincah menggambar wujud awan dan laut yang tenang. Lukisan ke duanya pun selesai. Sekali lagi ia pindahkan lukisannya ke lantai dan menyambar kertas putih baru.

Kini, tubuhnya berbalik 90 derajat. Objek lukisan ke tiganya adalah pemandangan pelataran Makassar Art Gallery yang dipadati seniman lain dan pengunjung. Matanya lalu menatap fokus pada patung perempuan penenun. Kemudian berpindah pada kertas di stregernya. Kali ini ia menyapu liat cair dan mulai menggambar patung perempuan menenun yang duduk membelakanginya. Lampu taman di sisi kanan juga tak luput dari pandangannya, dengan sekali usap, ia berhasil memindahkan wujud lampu taman dan orang-orang yang duduk di sekitar patung pada lukisan. Tiga lukisannya selesai. Zainal Beta merekam pemandangan jelang matahari terbenam tepat beberapa saat sebelum waktu berbuka puasa.

Zainal Beta ikut berpartisipasi bersama perupa lain pada Makassar Art Day yang diadakan 16 Juli lalu. Aksi melukis bersama di pelataran Makassar Art Galery dikemas dengan acara buka bersama para perupa Sulsel.

Menilik kilas balik seniman kelahiran Makassar, 19 April 1960 ini, ia berhasil memberi kontribusi besar bagi kemajuan dan perkembangan seni rupa di Sulawesi Selatan. Gaya melukisnya yang tidak biasa dari perupa lain yakni menggunakan tanah liat cair dengan potongan bambu sebagai kuas, tampak kreatif dan istimewa bagi penikmat seni. Tak heran jika lukisannya banyak dijadikan koleksi oleh sejumalah pecinta seni rupa.

Pria dengan nama sebenarnya Arifin ini, memulai debut melukisnya sejak berusia sembilan tahun. Karya-karyanya mulai dipajang di media lokal Pedoman Rakyat sejak era 1970. Sangat istimewa, saat salah satu karyanya yang dilukis tahun 1986 menjadi koleksi maestro Affandi.

Menjadi pelukis bagi Zainal Beta harus melewati berbagai tahap. Layaknya dirinya yang kini telah memasuki tahun ke 45 berkecimpung di dunia seni rupa. Ia menekuni seni lukis sejak belia dengan berbagai tantangan hingga kini karyanya berhasil membuat banyak orang terpukau.

Zainal Beta mengatakan, untuk menjadi pelukis yang mahir harus terlebih dahulu belajar menggambar sketsa di kertas.  “Perkuat di sketsa kertas dulu. Jadi gampang melukis di kanvas kalau sudah bias sketsa,” ujarnya di acara Makassar Art Day, Rabu kemarin. (*) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan