Index Labels

LuckPay yang Sensitif

. . Tidak ada komentar:
Beberapa kali LuckPay merajuk dan tak ingin jalan. Beberapa kali aku didera stres karena telah bersiap ke tempat kerja dan mendapati mesin LuckPay tak mau menyala. LuckPay sering kumat begitu saja, marah jika telah dijahili teman-temanku.

Suatu waktu, usai mengikuti kuliah di kampus, kudapati LuckPay telah hilang dari tempatnya diparkir. Aku panik, berpikir mungkin seseorang telah mencurinya. Setelah mondar-mondar mencari di sekitar pelataran parkir, beberapa teman tertawa dari kejauhan. Aku lega karena ternyata LuckPay tak dicuri, hanya disembunyikan oleh beberapa orang.

Aku berlari cepat menuju teman-teman yang masih tertawa. LuckPay diletakkan di ujung tempat parkir, tepat di samping pohon mangga. Ia baik-baik saja. Segera kuraih dan mengemudikannnya, membawa pergi dari teman-temanku yang telah mendorongnya hingga 100 meter dari tempat semula. Entah apa yang mereka lakukan saat ia dipindahkan, mungkin dinaiki tiga orang, atau mungkin mereka mendorongnya dengan kasar. Esoknya, saat hendak berangkat kerja, mesinnya tiba-tiba tak mau menyala.

Beberapa waktu setelah itu. Suatu malam beberapa teman mampir ke kediamanku. Kami mulai membahas LuckPay. Mereka menyuruhku segera membeli yang baru. LuckPay sudah tak bisa diandalkan lagi, menurut mereka. LuckPay ditertawai, rasanya akupun sakit saat itu. Esok pagi, ia kembali marah dan enggan membunyikan mesinnya.

Kemarin terjadi lagi. Tiga hari yang lalu, dua temanku yang kebetulan pacaran mencobanya mengelilingi kompleks kampus. Berat badan mereka hampir sama, di atas 70 kg. Bayangkan LuckPay yang begitu kecil dan ringkih memuat keduanya dengan susah payah. Kemudian, malam kemarin, saat hendak menjemput sepupu, mesinnya enggan menyala lagi. LuckPay kembali marah.

Selalu begitu. Ia tak pernah membuatku kesulitan di tengah perjalanan. Selalu saat hendak berangkat dari kediaman. LuckPay sensitif. Ia benda antik yang sungguh-sungguh masih bisa diandalkan selagi tidak disakiti.  Ia pun sayang padaku. Makanya memilih marah saat hendak berangkat bukan saat dalam perjalanan. Tapi hukumannya lumayan berat, karena ketika dia kumat, aku harus mendorongnya ke bengkel dengan susah payah dan membiarkannya istirahat dan menenangkan diri di sana. Aku harus memohon pada seorang teman untuk membantu atau menjemputku agar tetap berangkat kerja tanpanya.

Bagiku LuckPay tetap sahabat, pacar, soulmate dan rekan kerja yang baik.

Jangan sakiti dia! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan