Index Labels

παρθένα (5) "Aku Beku"

. . Tidak ada komentar:
Sumber gambar: ekspresihati.wordpress.com
Sepedaku melaju pada jalanan terjal berbatu. Jantungku berdegup kencang karena takut. Tanganku mencoba menekan rem tangan dengan kuat. Nihil. Kakiku bahkan terlalu pendek untuk meraih jalanan. Tak ada yang dapat membantuku senja itu. Sepi. Aku membawa pergi sepeda tanpa pamit pada Papa.

Diriku semakin panik saat laju sepeda kian cepat, tak bisa kukendalikan lagi. Apalagi kerikil kecil dijalanan mengganggu keseimbanganku. Lalu,

Brakkk!!!

Hal terakhir yang kuingat adalah benturan keras yang menghujam kepalaku.

***

"Kenapa bisa ia lepas keluar rumah begitu saja?"
"Aku tak tau... tidak tau.."
"Tidak tau? Padahal sepedanya sudah kumasukkan ke gudang."
"Tapi kau lupa menggemboknya."

Suara Papa dan Mama semakin jelas. Aku tersadar dan dapati diri telah berbaring di tempat tidur. Bukan di kamarku, tapi rumah sakit. Dahiku diperban. Kakiku juga. Rasa sakit di selangkangan membuatku sulit menggerakkan dua kakiku yang keram.

"Ma.." suaraku tertahan. Mama mengalihkan pandangan dari Papa lalu menatapku khawatir.
"Kau baik-baik saja, sayang?" katanya, Papa ikut mendekati ranjangku dan mengelus-elus rambutku dengan lembut.
"Sakit..." rintihku.
Keduanya masih menatapku dengan khawatir. Mama memperbaiki selimut dan bantal di kepalaku hingga kurasa nyaman. Papa menyodorkan segelas air putih, menyuapiku hingga habis setengah gelas. Kepalaku masih pusing. Aku belum sadar betul.
"Ngantuk, Ma.." lirihku.
Maka mengangguk-angguk lalu membelai lengan kiriku yang bebas dari luka. Papa tetap mengelus rambutku. Satu-satunya cara membuatku tertidur. Mataku redup, beberapa detik kemudian kembali tak sadarkan diri.

***
"Hei.. bangun!" Wajah Mama tiba-tiba sudah ada di depanku. Mataku terbuka dengan malas. Baru sadar ternyata aku tertidur di meja kerja.

"Dimana Zefanya?" ekspresi Mama aneh, " Wah, kau kacau lagi. Mengapa ruangan ini berantakan sekali?" Mama berujar sambil memungut tisu-tisu kotor yang berserak di lantai. Aku masih malas menjawab. Kuubah arah kepalaku membelakangi Mama.
"Elisa, dimana suamimu?"
"Entahlah..." jawabku malas, tetap memejamkan mata.
Mama tak bicara beberapa detik.
"Kalian bertengkar?"
Aku bungkam.
Mama lalu melangkah mendekatiku. Menyentuh pundakku dengan lembut.
"Ada apa?"
"Tak ada, Ma.." mataku masih terpejam.
Mama mulai mengelus-elus rambutku. Pelan dan tenang. Kami sama-sama diam beberapa saat.
"Mama dari tadi?" tanyaku memecahkan kesunyian.
Kudengar Mama mendesah.
"Baru saja tiba. Tapi hanya sebentar. Mama akan pulang setengah jam lagi."
"oh..."
Mama lalu duduk di sampingku. Tangannya masih mengelus rambutku dengan lembut.
"Katakan jika kau tak sedang baik-baik saja," Mama berbisik.
Aku menggeleng lemas.
"Aku baik-baik saja, Ma."
"Yakin?"
Kuanggukan kepala tanpa mengubah posisiku.
"Aku hanya mau sendiri dulu," kataku.
Mama mendesah.
"Baiklah. Jangan lupa makan! Mama sudah bawakan bekal untukmu. Ada di meja makan," kata Mama lembut. Kudengar ia beranjak dengan tenang. Keluar dari ruang kerjaku dan derap langkahnya menghilang.

Aku terdiam. Nafasku memburu dan tinggalkan suara samar. Sedetik kemudian air mataku tumpah dan basahi permukaan meja.

"Cinta Zefanya hilang..."

Bersambung ke παρθένα (6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan