Index Labels

παρθένα (4) "Pria Bodoh!"

. . Tidak ada komentar:
Aku berhasil selesaikan sepuluh halaman naskah buku setelah mencoba konsentrasi menulis selama dua hari. Entah mengapa jari-jariku kembali bernafsu menekan tuts keyboard notebook. Kemarahan seperti berhasil mengangkat ideku keluar dan melanjutkan kisah yang kutulis hingga mencapai klimaks. Suamiku seperti terlupakan begitu saja.

Ada lima cangkir bekas seduhan kopi yang telah habis kuteguk berjejer di meja kerjaku. Mataku perih karena nyaris tak pernah lepas dari layar notebook selama berjam-jam. Sejumlah panggilan telepon dan pesan singkat tak kugubris sama sekali. Aku sedang tak berminat pada apapun di luar notebookku. Segalanya adalah notebookku! Bahkan telepon dari Mama dan Papa tak kuhiraukan sama sekali. Takan ada yang mengerti aku selain notebookku. Untuk saat ini.

"Aku mulai gila," celetukku dalam hati.

Rambutku berantakan. Dua hari tubuhku tak menyentuh air sama sekali. Aku tak mandi, enggan tuk membasuh muka dan menggosok gigi. Bokongku tak mau beranjak dari kursi kerja selama dua hari, bahkan hingga terlelap depan notebook tanpa mematikannya.

Dua hari berlalu saat kupikir benar-benar melupakan suamiku.

Dia tak juga pulang. Tak beriku kabar. Tak menyapaku sebentar. Walau sekedar mencuri dengar suaraku dengan berpura-pura menelepon dengan modus salah sambung. Biasa dia lakukan dulu saat kami masih pacaran. Di saat kami bertengkar. Jika tak ada kabarku dan egonya terlalu besar 'tuk duluan menyapaku, ia akan berpura-pura menelepon, salah sambung kemudian membuatku terlibat dalam percakapan panjang lalu baikan.

Tapi, sembilan hari adalah waktu yang cukup lama bagi kami untuk berdiam diri. Biasanya hanya tiga hari. Paling lama tujuh hari. Itupun di saat masih pacaran. Ini pertengkaran pertama kami setelah resmi menjadi suami istri. Sangat pedih karena terjadi di hari kedua pernikahan kami. Sakit sekali karena terjadi setelah malam pertama kami.

Ada yang aneh dengannya.

Ada yang salah.

Kian hari, setelah dia hilang begitu saja, aku berpikir mungkin kah ia tak merasa tersiksa sama sekali? Tak merindukanku lagi? Adakah dia rasakan dadanya seperti menghujam sesuatu yang keras saking merindukanku. Saperti yang kurasakan saat ini. Sesak sekali.

"Elisa..." aku bosan mendengar gaung suaranya memangilku dalam bayang-bayang. Hanya ingatan yang menipuku. Dia tak ada di ruangan. Tak mungkin datang.

Ini hari ke-sepuluh dia menghilang.

Bersambung: παρθένα (5)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan