Index Labels

παρθένα (3) "Diam bukan Emas"

. . Tidak ada komentar:

Sumber gambar: google
Dua hari dia tak pulang. Aku bahkan tak dihubungi sama sekali. Sempat kupikir ada yang salah dengan pertengkaran ini. Harusnya ia mendatangiku, membicarakan segalanya dengan tenang tanpa emosi. Mengapa dia tiba-tiba begitu kekanakkan sekali?

Aku putuskan menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Laptop kembali kukeluarkan dari almari dan melanjutkan naskah buku yang sempat terjeda beberapa bulan lalu. Beberapa menit mengetik, kuhapus lagi, mencoba mengetik lagi, dan kuhapus lagi. Konsentrasiku hilang, pikiranku buntu.

Hari ketiga...

Dia tak pulang juga. Aku mulai frustasi menatapi pintu rumah kami yang tak pernah dibuka sama sekali. Mataku kian sembab karena menangis. Sungguh aku tak mengerti. Mungkinkah dengan mudah cintanya lenyap begitu saja. Lenyap tanpa penjelasan, lenyap karena kejadian satu malam. Tak rindu kah dia padaku?

Handphoneku berulangkali berdering, tadinya kukira dari dia, tapi ternyata dari beberapa kerabat yang ingin ucapkan selamat atas pernikahan kami. Kutanggapi dengan ceria, berpura-pura bahagia. Saat ditanya suamiku dimana, aku menjawab ia tengah kerja atau sedang mandi, kemudian berpura-pura sedang sibuk agar hubungan telepon segera diakhiri. 

Tak ada yang manis di awal pernikahan kami. Suamiku tetap tak pulang karena mengira aku telah berkhianat. Tak ada komunikasi hingga berhari-hari. Dia dimana? Kemana?

Hari ke tujuh. Aku semakin rapuh. Wajahku pucat pasi dan kian kacau. Kali ini aku mulai berpikir, cintanya memang sudah mati. Ia hilang begitu saja. Rasa kesepian mulai menghujani diriku. Kebahagiaan seperti terangkat habis dari hatiku. 

Aku mulai muak padanya. Benci! Dia membawa pergi rasa sayang, kepercayaan dan cintaku yang bertubi-tubi. Cintaku hilang dalam tujuh hari. Delapan tahun yang sia-sia. Aku benci!


bersambung: παρθένα (4)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan