Index Labels

παρθένα (2) "Awal Buruk"

. . Tidak ada komentar:
Semula, jauh-jauh hari sebelum pernikahan kami terjadi, banyak hal kuhayalkan jika kami resmi akan tinggal bersama. Aku akan bangun pagi-pagi, mengecup dua matanya yang masih terpejam kemudian menyiapkan sarapan yang nikmat.

Aku berniat akan meletakan segelas air putih dan beberapa suplemen di meja samping tempat tidur. Agar saat ia terbangun bisa langsung meneguknya kemudian menemukanku di dapur yang tengah sibuk memecahkan telur ayam pada bibir wajan. Ia akan memelukku dari belakang dengan mesra dan mencium pipiku lembut. Kemudian meninggalkanku ke kamar mandi untuk bersiap sebelum menyarap bersama.

Kami lalu makan semeja. Mengais telur dadar kemudian saling suap. Manis sekali. Ia bahkan membantuku membereskan meja makan sebelum bersiap ke tempat kerja.

Tapi pagi ini kontras dari hayalanku sejak dulu. Tak ada makan pagi yang mesra. Kami sama-sama terdiam membisu di ruangan yang berbeda. Kamar pengantin kamipun terdengar sunyi. Ia seperti tak bergerak di dalam. Mataku kian basah, tangisku menjadi. Aku tak mengerti, kecewa sekali, secuil rasa benci seperti menyentil ujung jantungku. Sakit.

Apa yang ia pikirkan? Menuduhku berzinah kemudian berbohong pada Tuhan di depan altar? Sekeji itukah? Haruskah kubuka kembali lembaran lama, mulai dari sejak kapan kami kenalan kemudian pacaran. Lalu kapan tepatnya kami putuskan untuk menikah. Hal bodoh yang betul-betul menoreh luka.

"Ia terlalu menuntut kesempurnaan," suara hatiku seperti menggema di telinga. Aku masih membenam wajah pada ujung lututku. Tepat saat itu, kudengar bunyi samar delikan pintu dari arah kamar kami.

Kupelankan suara isak tangisku saat mendengar derap langkah yang kian jelas. Ia mendatangiku. Bisa kurasakan sosoknya  terdiam beberapa menit di dekat pintu.

"Aku sakit..." suaranya tertahan.Wajahku enggan mendongak tuk lihat ekspresinya. Akan menyakitkan. "Percayalah, aku sangat sakit!"

Tubuhku sontak berdiri, kudekati dia lalu menatap matanya dengan sungguh-sungguh. Matanya merah dan berair.

"Sesakit apa?" tanyaku halus. "Mungkinkah lebih sakit dari yang kurasa?"desakku. Ia mengawasi wajahku dengan ekspresi tak jelas. Antara marah dan terluka.

"Aku lebih sakit!"

"Senaif itu kah kau? Sesempit itu pikiranmu?" aku semakin tak sabar. Ia terdiam. Kami lalu berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan suara. Satu menit, dua menit, tiga menit....

"Aku pergi," ia lalu berpaling begitu saja. Dadaku serasa sesak, bahkan tak sanggup menahan tubuhnya agar tetap tinggal dan membicarakan segalanya. Ia melangkah ke kamar dengan dingin, keluar lagi setelah beberapa menit sambil menenteng tas kerjanya. Aku tak digubris. Ia pergi tanpa memandangku sedikitpun.

Kakiku lemas, aku tumbang di hadapan pintu kamar dengan pandangan tanpa fokus. Tak ada ciuman sayang sebelum berangkat kerja, aku bahkan tak punya kesempatan 'tuk perbaiki kerah kemejanya. Impian pernikahan yang buyar.

Pria itu, benar-benar kucintai hingga dini hari tadi. Benar-benar  kujunjung tinggi hingga terlelap malam tadi. Benar-benar kukenal hingga dengan penuh sukacita kubiarkan ia menggandengku ke altar. Kemarin, kami benar-benar telah menikah.

Tapi ia tiba-tiba lain. Asing. Jahat!

Sesakit ini kah?


Bersambung παρθένα (3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan