Index Labels

παρθένα (1) "Ketakutan Suamiku"

. . Tidak ada komentar:
Kami baru saja selesai mengikuti resepsi pernikahan kami. Aku tanggalkan gaun putihku dengan pasrah dibantu Mama. Tubuhku lalu dibersihkan, kuguyur dengan air dingin di tengah malam. Termaksud rambutku yang tadinya mengeras karena semprotan hairspray saat ditata sore tadi. Usai mandi, aku bergegas ke kamar mengenakan gaun tidur berwarna biru lembut. Hadiah dari pria yang sejak pukul 09.00 pagi tadi menjadi suamiku.

Ia belum muncul di kamar. Aku menatap penuh bahagia dekorasi kamar kami yang serba putih. Idenyalah menambatkan warna putih untuk tema pernikahan kami. Katanya putih itu suci. Sesuci cinta dan pemberkatan sakramen pernikahan. Katanya juga, karena kami berdua masih sama-sama 'suci'. Belum ternoda, seperti rangkaian mawar putih dalam wadah transparan yang tergeletak di meja samping tempat tidur.

Aku melangkah pelan ke tempat tidur. Mengusap seprai lembut yang harum semerbak. Kutarik bantal empuk di sisi atas dan bantal peluk. Kurebahkan kepalaku, memeluk bantal peluk dengan mesra seolah benda itu suamiku. Aku semakin tak sabar menunggunya masuk ke kamar. Kami akan melewati pengalaman cinta menabjukan untuk pertama kali.

Pintu tiba-tiba berdelik. Ia muncul dengan gagahnya. Jasnya sudah tak dikenakan lagi. Kemeja putih yang ia pakai tampak agak berantakan. Sebuah senyum mesra tertuju padaku, pandangannya penuh rindu.

"Hai..." sapanya lembut. Pintu kamar kembali ditutupnya, lalu ia melangkah ke dekatku.

Ia tampan sekali, gagah, jangkung dan dewasa. Matanya menyorot tajam dan penuh cinta. Aku dipeluknya dengan erat. Ia lalu mengecup puncak kepalaku, kening, kedua pipi dan kemudian bibirku. Kami berciuman lama. Lembut dan mesra.

"istriku..." desahnya tepat di depan bibirku. Aku mengulas senyum kecil, mataku sayu menunggu kecupannya lagi. Ia kembali menciumku. Lebih lembut dan panas. Tangannya mulai menyentuh tubuhku. Semula santun dan ragu-ragu, tapi kemudian ia mulai berani. Jemarinya yang besar mulai meremas gaun tidurku. Menyibaknya kemudian lepas.

Kami lalu larut. Menikmati fase demi fase keintiman kami. Melepas segala hasrat yang tertimbun lama. Segala rasa terungkap di malam pertama kami. Hingga akhirnya letih membuat kami terlelap, tetap sambil berpelukan dalam nyenyak.

***

Aku terbangun oleh guncangan pelan di tanganku. Mataku terbuka dan kudapati suamiku tengah membelalakan mata ke arahku. Tatapannya lain, tak seperti malam tadi. Bukan tatapan hasrat seperti saat kami bercinta semalam.

"Tak ada darah," ujarnya datar. Aku bingung.
"Darah apa?" tanyaku. Kucoba dekati tubuhnya dengan manja namun ia menampik.
"Kau bilang kau masih perawan," suaranya seperti sedang marah. Aku semakin kebingungan.
"Sudah tidak lagi sejak semalam," godaku. Ia tak tertawa, ekspresinya mengeras. 
"Siapa pria itu?" 
Aku heran, kuangkat tubuhku sedikit dan mulai menatapnya dengan serius.
"Maksudmu apa?" suaraku berusaha lembut. Ia tak berubah, ekspresinya kini seperti jijik padaku.
"Tolong jangan tatap aku begitu. Aku tak paham maksudmu," ujarku lagi. 
Ia menarik jubah tidurnya, mengenakan lalu bangkit dari tempat tidur. Langkahnya menuju sudut ruangan. Ia diam dan memunggungiku yang masih kebingungan.

Aku lalu ikut bangkit, mengenakan gaun tidur biruku lalu mendekatinya. Kupijakkan kakiku beberapa centimeter di belakang punggungnya.

"Suamiku,"sahutku lirih. Ia bergeming.
"Apakah kau meragukanku?" Ia tetap tidak bergerak.
"Mungkinkah kau berpikir seorang pria telah menodaiku?" Ia menoleh sedikit tanpa manatapku, namun tak keluarkan suara. 

Aku melangkah ke hadapannya, mataku mulai panas.
"Mengapa begitu tak percayanya padaku?" tanyaku, rasanya awal pernikahanku buruk. Ia tak bergerak. Matanya enggan membalas tatapanku. Tubuhku serasa lemas dan kurasa akan tumbang karena kakiku tak sanggup menopang lagi. Kami diam beberapa saat, ia tak menggubrisku sama sekali.

Kemudian, kuangkat kaki dari hadapannya. Mengganti gaunku lalu melangkah keluar pintu. Hatiku serasa teriris-iris. Sakit bukan main. Tak ada orang lain di rumah kami jadi kuputuskan menyelinap ke kamar tamu. Mataku telah basah, aku menangis sejadi-jadinya di sudut kamar. Sungguh aku kecewa, ini hari kedua pernikahan kami.

Bersambung, παρθένα (2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan