Index Labels

Rio, Untuk Sejuta Puisi

. . 2 komentar:


Bunyi tuts keyboard Denia memecah di kesunyian malam. Sudah lewat dari tengah malam saat imajinasinya kembali jalan, sudah hampir dua cangkir kopi panas habis diteguk, tulisannya hampir selesai. Sedari tadi, ia bagai tengah satu bersama laptop tua yang dengan sabar menuruti semua perintah-perintah jemari lincah Denia yang terus mengetik merangkai kata demi kata.  Handphonenya yang sudah berdering berulangkali tak digubris, lewat begitu saja dengan tumpukan pesan entah dari siapa. Ia tengah bagai kesurupan roh menulis yang selalu merasukinya tengah-tengah malam, saat imsonia kembali datang.
                Setumpuk rindu bagai rapuh menunggu kala malam datang...
                Aku bagai dikejar bayang....
                Tak bisa lari, tak bisa menghindar...

Ia menjeda sesaat, matanya menerawang tak fokus, jari-jarinya masih melayang di atas keyboard laptop. Seperti tengah menunggu aliran imajinasi yang mengalir dari pikiran. Sejenak, lalu kembali mengetik.
Dan malam seenaknya menggodaku ‘tuk ingat,
Tak bosan! Tak jera! Tak berhenti!
Padahal sudah kutau segalanya mustahil,
Mana mungkin kan?
Aku duduk memuja dibawah malam,
Sementara kau bertahta dengan indahnya di antara gemintang,
Adakah kau yang di atas kemilau cahaya melihatku yang terpuruk dalam gelap?
Tak mungkin kan?
Makanya, kubiarkan kagumku membungkam dan rinduku bergulir dalam malam yang diam!

Dan kau tetap saja, bagai penjeda mimpi yang membuatku terjaga.
Dan kau selalu saja, pemaksa pagi yang buatku beranjak dari malas dan lelah.
Dan kau juga, yang buatku membasuh muka lebih lama,
Berharap saat jumpa wajahku bercahaya di depanmu,
Berharap walau sehari saja.... Kita terlihat serasi dan setara!

                “Yap, selesai!”  Denia mendesah. Ia memutar scroll mouse ke arah paling atas tulisannya. Beberapa menit kembali mengeja sajak yang selesai ditulis. Kemudian beberapa detik tersenyum puas, selalu saja dunia bagai miliknya sendiri saat kembali ia terpukau dengan karyanya sendiri.
                “Huaah... tak ada karya yang lebih indah dari karya orang yang sedang jatuh cinta!” ujarnya lagi pada dirinya sendiri, tersenyum beberapa detik dengan pandangan yang masih mengarah pada layar laptop. Kemudian kembali diam, membayangkan sosok yang telah mendatangkan imajinasi dan ide untuk sajaknya yang baru selesai.
                “Oke, saatnya tidur! Tak bagus jika kembali kugiring mata pandaku ke kampus besok pagi,” diarahkannya kursor ke start windows, lalu Shut down. 
***
                Pagi Denia seperti biasa, ia berangkat kuliah dengan membawa sisa-sisa kantuk karena terlalu lama terjaga disaat malam. Namun tiba di gerbang kampus, kantuk menyiksa yang tadinya sangat sulit membuatnya bangun dari kasur, mendadak lenyap begitu saja.
                “Rio pasti sudah di kampus,” batinnya sembari melangkah dengan semangat memasuki area kampus. Matanya sibuk mencari sosok jangkung nan rupawan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Tak ada. Denia bergegas menuju ruang kelas tempat mata kuliah pertama untuk hari ini berlangsung. Betapa bahagia hatinya saat didapati punggung bidang Rio telah nampak di ruangan, diam di kursinya dengan ekspresi datar yang selalu membuat Denia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah dia sedang menunggu seseorang? Mungkinkah aku yang dia tunggu? Duh...
                “Denia, sini!” Sari menyahut lalu memberi kode pada Denia agar ia duduk di sampingnya. Denia menurut. Ia melangkah cepat menuju kursi di samping Sari. Sedetik diliriknya Rio yang sama sekali tidak bergerak, kaku di kursinya dengan jari yang sibuk dengan tombol handphone.
                “Prof. belum masuk?” tanya Denia.
                “Belum. Tampaknya sebentar lagi,” Sari menjawab sambil melirik jam tangan. Denia mengangguk lalu memperbaiki caranya duduk. Dikeluarkannya buku dan pulpen dari tas. Tepat saat itu, suara Rio seperti menyahut memanggil namanya.
                “ Den..”  Denia berbalik. Rio sudah berdiri tepat di sampingnya. Astaga, sejak kapan?
                “Iya. Ada apa?” jawabnya berpura-pura acuh.
                “Pinjam pulpen!” Denia memandangnya sebentar, memasang wajah heran yang dibuat-buat. Bagaimanapun, imej menyebalkan dan galak yang sudah dikenal seluruh teman pria sejurusan tetap harus dipertahankannya di depan Rio. Demi tertutupnya rasa kagum dan suka yang sengaja dibungkusnya dalam hati dan pikiran.
                “Kau tak bawa pulpen?” tanya Denia tanpa tersenyum. Rio mengangguk, ekspresinya membujuk. Denia lalu mengaduk-aduk isi tas mencari pulpen lain.
                “Ini! Selesai kuliah, kembalikan!” pintah Denia dengan suara tegas yang dipaksakan. Rio menarik pulpen yang diacungkannya kemudian kembali ke tempat duduk tanpa mengucapkan apa-apa. Denia menarik nafas pelan-pelan, kemudian menghembuskannya pelan-pelan juga.
                Hati dan pikiran Denia selalu kacau saat berada di dekat Rio. Kacaunya tak mengarah ke hal yang buruk, tapi lebih ke arah positif lantaran hatinya diselimuti perasaan girang dan was-was. Apalagi jika Rio yang memulai percakapan duluan, menyapanya lebih dulu dan bahkan kadang-kadang menggoda Denia yang sedang serius belajar. Denia kadang-kadang pura-pura cuek dan menahan diri untuk tidak gubris, ia selalu berusaha mempertahankan sikap acuh dan bahkan bersikap galak layaknya yang biasa dilakukannya pada teman-teman pria lain yang sering mengganggunya. Padahal hatinya berantakan, seperti mau meledak saking senangnya diperhatikan Rio.  Lalu, di siang itu saat jam kuliah terjeda dan ia memilih duduk seorang diri di salah satu sudut kampus yang jauh dari keramaian, Rio menghampirinya, duduk di sampingnya dan mengajaknya bercerita.
                “Den, dimana teman-temanmu?” tanya Rio tiba-tiba. Denia mendongak sebentar, memandang wajah Rio yang masih menunggu jawaban.
                “Mereka sedang makan siang,” ujarnya lalu mengembalikan pandangan ke depan, “teman-temanmu juga kemana?”
                “Hmmm, mereka juga sedang makan siang.”
                “Dan kau tidak?”
                “Aku masih kenyang.”
                “Oh...,”
                Hening sejenak. Keduanya sama-sama diam dalam pikiran masing-masing. Denia kembali kacau, pikirannya berkecamuk mencari-cari bahan pembicaraan selanjutnya. Ia masih mau duduk bersama Rio, sangat menikmati saat itu.
                “Kau pernah menonton teater karya Adji Sartika?” Rio tiba-tiba memulai percakapan lagi, Denia berbalik padanya, agak terkejut mendengar Rio tiba-tiba bicara soal seni teater. Dia suka juga?
                “Belum. Aku baru dengar namanya,” jawab Denia, “Baguskah?”
                “Wah, keren!” Rio menjawab sambil mengacungkan jari jempolnya dengan antusias, “Ia menggubah seni sastra menjadi seni peran yang sangat memukau. Kata-katanya sangat puitis dan dalam. Tapi indah, sumpah!”
                “Oh yah?” Denia terkejut bercampur kagum. Rio bahkan mampu berkomentar tentang isi teater tersebut, berkomentar dengan cerdas begitu. Bagaimana mungkin? Seorang Rio yang dikenal cuek dan hampir terlihat seperti pria bergaya dan metroseksual, ternyata begitu tertarik pada dunia sastra dan teater yang jelas-jelas untuk masa ini sudah dianggap paling kuno dan primitif, yah setidaknya begitulah tanggapan teman-teman Denia yang selalu lebih memilih menonton film di bioskop ketimbang menonton pertunjukan teater.
                “Mengagumkan.”
                “Apanya?”
                “Kau!”
                “Ha?”
                “Aneh mendapati ‘anak gaul’ sepertimu suka teater,” Denia lalu tertawa. Ekspresi wajah Rio tampak heran, namun pelan-pelan ikut tertawa.
                “Kau pikir hanya kau saja yang suka teater?” tantangnya, masih tertawa.
                “Yah tidak juga...”
                “Jangan menilai orang dari luarnya saja lah, Miss Sok Perfect!”
                “iya.. iya, aku tau!” Denia berhenti tertawa, “Kau sering menonton teater juga yah?”
Rio diam sejenak, tampak berpikir. Kepalanya diayun-ayunkan perlahan,
                “Hmmmm... tidak juga. Baru satu kali,” jawabnya. Denia mengerutkan dahi, mulai heran.
                “Kukira...”
                “Iya. Aku baru menontonnya minggu lalu. Aku hanya penasaran karena saat kuliah Prof. Surya waktu itu kau dengan antusiasnya membahas teater dengan beliau. Adu argumen sampai-sampai ruangan kelas jadi seperti milik kalian berdua saja,” potong Rio.
                “Oh, terus?”
                “Aku mengantar adik perempuanku untuk menonton, dan akupun ikut menonton!” Rio mempertegas suaranya. Denia mengangguk-angguk, menahan senyum. Mereka saling pandang sebentar. Pandangan sekilas tersebut tinggalkan debar kecil di hati Denia. Rio menonton teater karena dirinya? Waah....
                “Hah, aku mau balik!” tiba-tiba Rio beranjak berdiri, nada suaranya kesal. Denia mengerut kening tak mengerti.
                “Yaaah... kalau mau pergi juga tak perlu pakai marah-marah lah!” Rio mendengus, ia kemudian berlalu. Denia memandang punggung Rio yang menjauh. Aneh.
                “Den..”
                Denia berbalik. Sari datang dari arah berlawanan, tangannya menggenggam sejinjing makanan yang dibawanya dari kantin.
                “Mengapa Rio pergi?” Denia mengangkat bahu. Sari tersenyum, ia memperhatikan wajah Denia yang tampak salah tingkah.
                “Aku pernah cerita yah?”
                “Soal apa?”
                “Hmm... ketika Rio ditanya soal tipe perempuan yang dia suka, kau mau tau apa jawabannya?” Sari menatap Denia lebih dalam, Denia menunggu.
                “Ia lebih suka pada perempuan yang memilih bermalam minggu di meja belajarnya. Katanya, ‘Lebih seksi dilihat gadis yang sibuk dengan dunianya sendiri!’ Kau mengerti?”
                Denia menggeleng.
                “Hey, pernah berpikir tidak hampir semua gadis di lingkungan kampus ini ingin sekali bicara dan disapa duluan oleh ‘Sang Rio’. Tapi yang baru saja terjadi, bahkan yang berulangkali terjadi, justru Riolah yang datang padamu, mengajakmu cerita bahkan tertawa bersamamu!”
                Denia mengerut kening, tak mengerti dan lebih tepatnya tak mau percaya.
                “Yah... kebetulan saja!” ujarnya lirih. Sari menggeleng-geleng.
                “Dia suk..”
                “Stop!” Denia memotong dengan cepat, “Jangan bicara lagi!” Ia kemudian berdiri, mata Sari mengikutinya dengan tidak mengerti.
                “Aku duluan!”suara Denia parau. Ia lalu melangkah tinggalkan Sari. Kembali pikirannya berkecamuk dan kembali pula ia dirundung galau.
                Yang tadi itu mimpi...
                Akh, tepatnya hanya dongeng!
                Seperti kisah Cinderella, gadis buruk rupa yang disukai pangeran tampan dari kerajaan.
                “Tapi ini bukan dongeng, Sari!” tiba-tiba Denia menggumam, pelan sekali, “Yah, dia cukup jadi inspirasi! Inspirasi untuk sejuta puisi.”

TAMAT

2 komentar:

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan