Index Labels

Potret Dar

. . Tidak ada komentar:


            Gambarnya masih disana. Tertempel pada dinding ungu di kamarku. Dia tampan sekali, tersenyum kecil dengan tatapan lembut dari matanya yang bercahaya. Selalu memabukkan, selalu menenangkan dan selalu membuat hati geregetan. Di sekitar gambarnya, sederet sajak dan cerita pendek ikut terpampang. Dar dalam versi puisi, keindahannya yang kutulis dalam puisi, kujabarkan dengan diksi yang terangkai dalam cerita-cerita pendek hasil inspirasi dirinya. Ia selalu menjadi satu-satunya pembentuk imajinasi yang terlalu sayang jika tidak direalisasi. Terlalu egois jika kunikmati sendiri dalam hati.
            “Copot saja gambarnya!” aku terperanjat. Sejak kapan Tania ada di kamarku? “Kau masih saja memikirkannya?” lanjut Tania. Aku mendesah, bangkit berdiri sambil menarik novel yang tadi sempat kubaca dari meja belajar.
            “Belum saatnya!” gumamku. Ia berdecak, mencakar pinggang lalu memasang ekspresi prihatin padaku. Kubalas tatapannya dengan senyum memelas.
            “Dia sudah jadi bagian dari kamarku. Kalaupun mau kulepas, nanti kalau aku pindah,” ujarku tegas. Tania mendengus lalu berpindah ke sampingku. Ia merampas novel dari tanganku lalu menatapku dengan mata yang membelalak.
            “Kau harus move on! Tau artinya move on, kan?”
            “Iya tau..”
            “Nah, hilangkan semua unsur Dar yang ada di kamarmu ini supaya kau tak perlu mengingatnya lagi!” aku menggeleng. Tania mendesah lagi, matanya belum lepas dari mataku. Kami diam dalam tatapan hingga akhirnya Tania menyerah duluan.
            “Yah sudah! Betapa bodohnya dirimu,”cibirnya, dadaku seperti tertohok mendengar perkataannya itu.
            “Kau tidak mengerti,” kini aku mendekati Tania dengan berpindah selangkah. Dia tak pernah paham bagaimana gejolak hatiku yang masih mempertanyakan prihal aku marah dan meminta hubunganku berakhir dengan Dar. Aku masih ragu, bahkan tak begitu yakin dia punya kekasih lain disana.
            “Sampai sekarangpun belum kutau siapa pacarnya disana! Aku bahkan sudah mengutuk diriku sendiri yang seenaknya memaki dia padahal jelas-jelas buktinya belum ada!” emosiku naik.
            “Tapi dia memang tak pernah menghubungimu kan?” Tania tampak ngotot.
            “Itu hal biasa...”
            “Biasa apanya? Dimana-mana orang pacaran itu komunikasinya setiap hari, apalagi yang LDR seperti kalian!”
            “Akh..” aku menggeram sembari menekan kepalaku yang terasa sesak, kuacak-acak rambut lalu berpindah duduk di depan meja belajar. Tania mengikutiku, ia lalu mengusap pundakku pelan-pelan.
            “Lupakan saja!” suaranya melemah. Aku menggeleng, memangnya segampang itu? Tania tau apa? Aku semakin bingung oleh semua sugesti dan masukan. Bukan hanya bingung, tapi kacau juga! Pikiranku boleh menuruti rasa gengsi, tapi hati ini... seperti gunung berapi yang sebentar lagi meletus. Tidak tahan, tidak kuat dan tidak rela.
            “Coba cari pengganti! Yang dekat-dekat lah ‘Ne,” aku berbalik memandang Tania yang sedang tersenyum. Memangnya ada yang lebih baik dari dia? Atau setidaknya hampir sama seperti dia? Kalau ada, aku mau. Kutahan ucapanku di tenggorokan.
            “Nanti dilihat!” ujarku lalu mengulas senyum kecil. Tania mengangguk, tangan kanannya menepuk pundakku dengan pelan. Kupasang ekspresi lega, berpura-pura sudah baik-baik saja hingga akhirnya Tania beranjak dari kamarku. Kupandang punggung Tania yang berlalu dalam diam, dia tak mengerti? Mereka yang lain juga tidak! Rasa kecewaku sebenarnya tak sampai ke situ. Aku kembali ke kamar, mengarahkan pandanganku pada Dar.
            “Dasar bodoh!” umpatku sambil memukul wajah kakunya yang tetap saja tersenyum.
***
            Ini awal Desember. Tujuh hari berlalu setelah semuanya berakhir. Gelangnya kutanggal, kubiarkan tergeletak bebas di meja belajar bersama barang-barang lain. Topinya juga, sejak hari pertama kami putus, topi itu berpindah dari sisi kamar yang satu ke sisi kamar yang lain. Kadang kupakai, namun kadang kulempar ke sudut dekat meja belajar. Kadang juga kupeluk jika kembali kurindu sampai terisak. Siapapun yang melihatku pasti akan mengira aku sudah gila. Akh, terserah!
            Fotonya masih terpajang dengan indahnya di dinding, begitu juga dengan puisi-puisi dan cerita pendek yang pernah kutulis. Beberapa hari yang lalu, Tania mencoba mencabut semua itu. Kami hampir saja bertengkar karena itu.
            “Sudah kubilang jangan dicabut dulu!” teriakku panik sembari mencegah Tania mencabut gambar Dar. Gambarnya memang sudah terlepas setengah dari dinding. Tania memandangku heran.
            “Kau ini aneh. Pengemis cinta!” oloknya. Aku tak peduli. Kusambar perekat dari meja belajar kemudian menempelkan kembali gambar Dar di tempat semula. Pokoknya terserah, orang-orang mau menganggapku mengemis cinta atau terlalu bodoh aku tidak peduli. Akh, aku menyesal telah mengumbar rasa galauku. Percuma, mereka tetap tidak mengerti.
            Siang ini aku berbaring pasrah di kasur sambil mengutak-atik aplikasi sosial media di handphone. Sejak tadi, aku berpindah dari sosial media yang satu ke yang lain. Tak ada yang menarik, akhir-akhir ini aku  memang tak bergairah untuk melakukan apapun. Bahkan facebookku off sejak minggu lalu. Bahaya jika dibuka, ada Dar disana. Dan pastinya, akan ada perang tema baru jika kami telah bertemu di obrolan facebook. Aku memang sedang sensitive dan selalu ingin marah-marah padanya. Mungkin karena sakit hati dan tak rela dengan keputusanku sendiri. Dar juga tak pernah mencoba menghubungi duluan, makanya aku sedih.
            Bagaimana jika tak benar ia sudah punya pacar yang baru? Aku yang salah kan? Dalam kasus ini akulah yang berperan jadi penjahat. Lalu bagaimana jika betul? Nah, itulah salah satu alasan mengapa aku tak mau membuka facebook dulu, takut melihat fotonya bersama pacar barunya. Aku pasti akan sangat cemburu, bahkan akan mengutuknya dengan sumpah-serapah kejam yang pasti akan kusesali di kemudian hari. Penyesalan yang sama seperti hari ini. Iseng, tiba-tiba jariku sudah menyentuh logo facebook. Terbuka.
            “12 pemberitahuan, 5 permintaan teman,” gumamku dalam hati. Beberapa pemberitahuan adalah komentar untuk tulisan yang ditandai seorang penulis padaku, sisanya adalah pemberitahuan untuk sebuah foto yang ditandai juga untukku. Foto Dar. Aku langsung buru-buru menyentuh layar foto tersebut. Oh ternyata kode batang untuk pin BBM Dar. Dia sudah punya juga? Tanpa banyak berpikir lagi, aku langsung menyalin pin tersebut dan beralih ke BBM. Undangan terkirim.
            Dar telah bergabung dalam kontak
            Sesuatu entah apa seperti mencuil ujung jantungku. Aku bergegas membuka profil kontaknya dan mengintip foto profilnya, alih-alih hanya ingin lihat, aku bahkan tak bisa manahan diri untuk tidak ‘mencuri’ fotonya. Ah kebetulan semua fotonya habis kuhapus dari memori handphone. Sekarang sudah ada satu. Setelah itu, entah apa yang mendorongku untuk menyapanya duluan.
            Aku: Dar
Terkirim, aku mulai was-was.
            Dar: Iya
Waaah.. dia membalas. Jari-jariku bergerak lincah lagi pada papan keyboard handphone.
            Aku: aku minta maaf karena sudah bicara kasar dan memaki.
                Dar: Tidak apa-apa.
                Sudah biasa untuk kau
                Tak pernah mau mendengar orang.
Sejenak aku terpaku. Ada yang aneh padanya. Rasa sedih tiba-tiba menelusuri hatiku. Oh.. aku rindu, iya sangat rindu!
                Aku: Aku masih disayang?
Mataku mulai basah.
                Dar: Kenapa kau bertanya seperti itu?
                Kau bagaimana?
                Masih sayang padaku?
Aku bingung mau menjawab apa, namun jari-jariku mengetik seperti ini,
                Aku: Menurutmu?
                Dar: Entahlah..kau bahkan tak peduli saat aku minta maaf

Aku mendengus lalu mengusap pipiku yang basah.
                Aku: Sudahkah kau dapat gadis yang lebih baik?
                Dar: Sepertinya...Tidak ada yang lebih baik
Aku mematung. Apa dia juga sakit? Hingga jawabannya sedingin ini, datar tak seperti Dar yang biasa. Atau memang, perasaannya terkikis dan akan hilang? Aku pasrah, setidaknya legaku ada setelah minta maaf.
Aku mengaku salah.

*TAMAT*
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Twitter Timeline

Populer

Google+ Followers

Total Kunjungan